Perintah Vishnu, Para Dewa Diminta Bantuan Agastya Minum Lautan, Membuka Persembunyian Kalakeya
Rishi Vyasa : (Bharata) setara dengan Veda. Ini adalah suci dan agung. Bharata memberikan anugerah kemasyhuran dan kesejahteraan. Oleh karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.
KAUM surgawi kemudian berkata, ''Melalui bantuan paduka, jumlah makhluk bertambah. Semua yang lahir terdiri atas empat jenis. Mereka diciptakan, mengambil hati penghuni surga, dengan persembahan dibuat para dewa dan nama-nama nenek moyang yang telah wafat. Demikian orang-orang itu, dilindungi paduka. Mereka bebas dari kesusahan hidup, mereka tergantung satu sama lain. Sekarang bahaya ini menimpa orang-orang ini. Kami tidak tahu siapa para brahmana itu dibunuh sepanjang malam. Jika para brahmana dihancurkan, bumi sendiri akan bertemu kehancuran. Jika bumi berakhir, surga juga akan berhenti keberadaannya. Oh paduka yang berlengan perkasa, oh tuan dari alam semesta! Kami memohon kepada paduka untuk bertindak, sehingga seluruh dunia dilindungi paduka. Dengan perlindungan paduka, siklus dunia ini tidak akan berakhir. Hal ini juga akan menyenangkan paduka.''
Pemelihara alam semesta, Vishnu berkata, ''Kalian para dewa! Aku mengetahui alasan penghancuran makhluk yang lahir. Aku akan mengatakan itu kepada kalian. Dengarkanlah kata-kataku dengan pikiran bebas dari godaan. Ada sebuah rombongan yang sangat mengerikan. Mereka dikenal dengan nama para Kalakeya. Mereka, di bawah pimpinan Vritra. Target mereka menghancurkan seluruh alam semesta. Ketika para Kalakeya, melihat pimpinannya Vritra telah dibantai Dewa Indra yang cerdik. Indra, yang dilengkapi seribu mata. Untuk mempertahankan hidup, para Kalakeya itu memasuki ke kedalaman lautan. Mereka tinggal di kediaman Dewa Varuna. Setelah memasuki lautan yang melimpah dengan ikan-ikan hiu, buaya-buaya, mereka menjalankan aksinya pada malam hari. Para Kalakeya itulah yang membunuh orang-orang suci di tempat ini. Tetapi mereka sulit dapat dibantai, karena mereka telah mengambil tempat berlindung di dalam laut. Kalian harus berpikir sesuatu jalan untuk mengeringkan lautan. Siapa lagi terkecuali Rishi Agastya yang mampu melakukan perkerjaan itu. Dengan mengeringkan lautan itu, semua iblis ini tidak dapat diserang dengan cara lain.''
Mendengar kata-kata ini dari Vishnu, para dewa meminta izin dari Brahma, yang tinggal di daerah terbaik. Para dewa pergi ke pertapaannya Rishi Agastya. Kemudian mereka melihat Agastya yang berjiwa luhur. Agastya adalah putra dari Varuna. Roman mukanya gemerlapan. Dia dilayani orang-orang suci. Pancaran kesuciannya bahkan seperti Brahma yang dilayani kaum surgawi. Setelah mendekati beliau, mereka menyapa putra dari Mitra dan Varuna di pertapaan itu. Beliau yang murah hati, teguh dan tidak menyimpang dari kesusilaan. Kelihatan seperti perwujudan dari kesalehan. Para dewa bersama-sama memuliakan beliau dengan menyanyikan perbuatan-perbuatannya.
Para dewa berkata, ''Dahulu paduka pernah menjadi tempat perlindungan para dewa, ketika mereka ditindas Prabu Nahusha. Baginda bagaikan duri bagi dunia, dilemparkan turun dari singgasananya dari daerah surgawi. Gunung Vindhya yang utama dari semua gunung tiba-tiba menjadi berkurang tingginya. Akibat persaingan penuh kemarahan matahari, yang menyainginya dalam hal ketinggian. Tetapi dia telah berhenti bertambah tinggi, karena dia mematuhi perintah paduka. Ketika kegelapan telah menutupi dunia, makhluk yang dilahirkan diganggu oleh kematian. Namun, setelah mendapatkan paduka sebagai seorang pelindung, mereka mencapai keamanan sepenuhnya. Kapan pun kami ditimpa bahaya. Kehormatan dan kekuatan paduka selalu menjadi tempat berlindung kami. Karena alasan ini, kami memohon sebuah hadiah dari paduka seperti paduka selalu memberikan hadiah yang kami mohon dari paduka.''
Prabu Yudhishthira bertanya ''Oh orang suci yang agung! Hamba ingin mendengar selengkapnya kenapa Vindhya itu, berbuat bodoh dengan kemarahannya, tiba-tiba mulai bertambah tinggi.''
Rishi Lomasa berkata, ''Matahari, antara terbit dan tenggelamnya, biasa memutar mengelilingi raja dari gunung-gunung itu, juga meru yang agung dengan gairah keemasan. Melihat ini, Gunung Vindhya berbicara kepada Surya, 'Karena engkau setiap hari mengelilingi Meru dan menghormatinya dengan perjalanan kelilingmu. Engkau sama denganku. Oh pembuat cahaya!' Disapa demikian, Matahari menjawab Gunung Vindhya yang besar itu, 'Aku tidak dengan kemauanku sendiri menghormati gunung ini, dalam perjalanan kelilingku. Oleh mereka itu, yang telah membangun alam semesta ini, telah dibuat jalan itu yang telah ditetapkan untukku.' Demikian disapa, Gunung Vindhya itu, Gunung tinggi itu mulai bertambah marah. Dia ingin menghancurkan jalan Matahari dan Bulan itu. Semua kumpulan dewa datang kepada Vindhya. Raja perkasa dari gunung-gunung itu mencoba melarangnya mengambil jalan itu. Tetapi dia tidak memperhatikan apa yang mereka katakan. Kemudian semua kumpulan dewa itu pergi menemui orang suci Agastya yang tinggal di pertapaannya. Muni yang taat kepada laku tapa itu. Orang paling baik yang taat kepada kebajikan. Dewa-dewa menerangkan semua yang telah terjadi kepada Rishi Agastya, yang memiliki kekuatan mukzijat yang berlebihan.''
Para dewa berkata, ''Raja bukit-bukit ini Gunung Vindhya, memberikan jalan kemarahan, dengan cara menutup jalan Matahari dan Bulan, dan jalannya bintang-bintang. Oh yang utama dari para brahmana! Oh paduka yang hebat dalam pemberian hadiah-hadiah! Kecuali paduka Agastya sendiri tidak seorang pun mampu mencegahnya. Karena itu, mohon paduka membuatnya berhenti.''
Mandengar kata-kata dari para dewa ini, sang brahmana lalu pergi ke gunung itu. Beliau bersama istrinya tiba di sana. Rishi Agastya datang ke dekat Vindhya dan berbicara kepadanya, ''Oh engkau yang terbaik dari gunung-gunung! Aku ingin mendapat sebuah jalan yang diberikan olehmu. Untuk urusan tertentu, aku harus pergi ke daerah selatan. Hingga kedatanganku, engkau tunggu aku. Setelah aku kembali dari selatan, engkau boleh menambah ketinggianmu sebesar yang engkau senangi.'' Oh pembantai musuh-musuh! Setelah membuat kesepakat ini dengan Gunung Vindhya sampai sekarang putra Varuna ini tidak pernah kembali dari daerah selatan. Demikian aku atas pertanyaan paduka telah menceritakan kepada paduka, kenapa Gunung Vindhya tidak menambah ketinggian. Semua itu karena alasan kekuatan dari Rishi Agastya.
Sekarang, oh baginda! Dengarkan bagaimana para Kalakeya dibunuh para dewa, setelah mereka mendapatkan permohonan mereka dari Rishi Agastya.
Setelah mendengar kata-kata dari para dewa, Rishi Agastya, putra Mitra dan Varuna, berkata, ''Untuk apa kedatangan paduka-paduka ini? Hadiah apa yang paduka inginkan dari hamba?'' Demikian disapa Rishi Agastya, para dewa kemudian menjawab kepada orang suci itu, ''Perbuatan ini yang kami minta untuk paduka anugerahkan. Paduka kami mohon meminum habis air lautan yang luas. Oh paduka yang murah hati nan suci! agar kami dapat membantai, musuh dewa-dewa itu, yang dikenal dengan nama Kalakeya, bersama-sama semua pengikut mereka.''
Setelah mendengar kata-kata para dewa ini, Rishi Agastya berkata, ''Terjadilah demikian, hamba akan melakukan. Bahkan apa yang kalian inginkan dan yang mana akan mengakibatkan kebahagiaan besar bagi umat manusia.''
Setelah mengatakan ini, Rishi Agastya kemudian melakukan perjalanan menuju lautan, tuan dari sungai-sungai. Rishi yang suci dan matang melakukan penebusan dosa itu, ditemani orang-orang yang bijak juga para dewa. Oh paduka yang menuju ke kehidupan sangat baik! Manusia, ular-ular, penyanyi-penyanyi surgawi, naga, orang-orang suci yang pemberi hadiah, mendekati tempat penampungan yang sangat besar itu.
Rishi Lomasa berkata, orang suci yang terberkati putra Varuna itu, setelah mencapai lautan berbicara kepada rombongan dewa-dewa. Banyak orang suci lainnya ikut berkumpul bersama-sama. Rishi Agastya berkata, ''Hamba pasti akan meminum habis lautan ini, tempat kediaman dewa Air itu. Cepatlah kalian siapkan bahan-bahan itu, serahkan kepada hamba untuk membuatnya.''
Setelah berbicara dengan kata-kata yang singkat ini, Rishi Agastya, keturunan dari Mitra dan Varuna yang imannya teguh ini, dengan penuh kemarahan, mulai meminum air laut dari lautan itu. Seluruh dunia berdiri menyaksikan perbuatan Agastya ini. (bersambung)