"Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu (kiamat), maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Q.S. al-An'Aam [6]: 16).
Kita sering menyaksikan seseorang atau sekelompok orang merayakan suatu kemenangan dengan kegembiraan yang luar biasa. Tidak jarang selebrasi (perayaan kemenangan) itu dilakukan dengan atraksi yang menarik dan memukau, bahkan ada pula yang nampak lucu. Kemenangan, lazimnya diikuti pula oleh keberuntungan, bisa berupa hadiah, bonus, popularitas dan berbagai bentuk keberuntungan lainnya, sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Di balik semua itu, sungguh layak disadari dan diyakini bahwa kemenangan dalam sebuah pertandingan olah raga, kemenangan dalam meraih karier atau jabatan tertentu, termasuk kemenangan dalam mendapatkan harta, sesungguhnya adalah kemenangan yang semu sepanjang hal itu hanya terkait pada kehidupan dunia yang penuh permainan dan senda gurau itu.
Kemenangan yang sejati, yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, adalah kemenangan yang ditetapkan dan dianugerahkan oleh Allah SWT bagi mereka yang ingin mendapatkannya. "Orang-orang yang beriman dan berhijrah (menurut Rasulullah SAW adalah hijrah dari keburukan menuju kebaikan), serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Q.S. at-Taubah [9]: 20).
Allah SWT telah menetapkan Sunnah-Nya (ketentuan-Nya), hanya orang-orang beriman yang taat saja yang akan mendapatkan kemenangan, bahkan kemenangan yang besar. "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Q.S. Yunus [10]: 62-64).
Bagi orang-orang yang ingkar, bermaksiat dan mereka yang zalim, maka hanya kekalahanlah yang akan mereka dapatkan. "Sesungguhnya tidaklah akan mendapatkan kemenangan orang-orang yang zalim." (Q.S. 28: 37).
Tentu saja, kemenangan "versi" Allah SWT itu adalah kemenangan yang sejati yang diikuiti dengan keberuntungan yang sebenar-benarnya, bukan keberuntungan yang semu. Siapakah mereka yang mendapatkan keberuntungan yang besar itu? "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya, itulah keberuntungan yang paling besar." (Q.S. al-Maidah [5]: 19). "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata." (Q.S. al-Jaatsiyah [45]: 30).
Kalaupun seseorang mendapatkan pangkat dan jabatan ini itu. Apabila seseorang mendapatkan harta benda sekian segitu, maka itu bukan suatu keberuntungan, tapi suatu ujian (Q.S. 89: 15). Kalau toh dianggap juga sebagai suatu keberuntungan, maka semua itu hanyalah suatu keberuntungan yang semu. Sedangkan keberuntungan yang sebenarnya adalah apabila seseorang dijauhkan dari azab (siksa) pada hari kiamat (Q.S. 6: 16) dan mendapatkan ridha dan karunia-Nya (surga), itulah keberuntungan sejati .
Tentu saja, mereka yang meraih kemenangan (karena keimanan dan ketaatannya kepada Allah SWT) kemudian mereka mendapatkan keberuntangan yang sejati itu, adalah mereka yang pada hari kiamat kelak, wajah mereka berseri-seri. "Wajah-wajah (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka memandang. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Q.S. al-Qiyamah [75]: 22-25).
"Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutupi lagi oleh kegelapan." (Q.S. 'Abasa [80]: 38-41).
Para ulama tafsir menyebut, yang dimaksudkan dengan ditutupi oleh kegelapan itu adalah kesedihan dan kehinaan. Bisa saja, saat hidup di dunia, seseorang sempat menang dalam meraih jabatan ini itu, atau bergelimang harta benda dalam hidupnya yang singkat di muka bumi seraya mengingkari dan mendurhakai Tuhannya, tapi di akhirat, justru bergelimang kesedihan dan kehinaan.
Persoalannya kini adalah, seberapa serius diri kita telah berupaya dalam kehidupan dunia yang singkat ini untuk meraih kemenangan, misalnya dalam berlomba berbuat kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Seberapa serius diri kita memberikan manfaat bagi orang lain dan seberapa gigih pulakah diri kita dalam menebarkan kasih sayang bagi sesama? Usaha-usaha mulia seperti itu, tentulah akan mengantarkan seseorang memperoleh keberuntungan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.