Untitled Document
» Mimbar Agama
26 Mei 2013
Kemenangan dan Keberuntungan yang Sebenarnya
Mimbar


"Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu (kiamat), maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Q.S. al-An'Aam [6]: 16).



Kita sering menyaksikan seseorang atau sekelompok orang merayakan suatu kemenangan dengan kegembiraan yang luar biasa. Tidak jarang selebrasi (perayaan kemenangan) itu dilakukan dengan atraksi yang menarik dan memukau, bahkan ada pula yang nampak lucu. Kemenangan, lazimnya diikuti pula oleh keberuntungan, bisa berupa hadiah, bonus, popularitas dan berbagai bentuk keberuntungan lainnya, sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di balik semua itu, sungguh layak disadari dan diyakini bahwa kemenangan dalam sebuah pertandingan olah raga, kemenangan dalam meraih karier atau jabatan tertentu, termasuk kemenangan dalam mendapatkan harta, sesungguhnya adalah kemenangan yang semu sepanjang hal itu hanya terkait pada kehidupan dunia yang penuh permainan dan senda gurau itu.

Kemenangan yang sejati, yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, adalah kemenangan yang ditetapkan dan dianugerahkan oleh Allah SWT bagi mereka yang ingin mendapatkannya. "Orang-orang yang beriman dan berhijrah (menurut Rasulullah SAW adalah hijrah dari keburukan menuju kebaikan), serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Q.S. at-Taubah [9]: 20).

Allah SWT telah menetapkan Sunnah-Nya (ketentuan-Nya), hanya orang-orang beriman yang taat saja yang akan mendapatkan kemenangan, bahkan kemenangan yang besar. "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Q.S. Yunus [10]: 62-64).

Bagi orang-orang yang ingkar, bermaksiat dan mereka yang zalim, maka hanya kekalahanlah yang akan mereka dapatkan. "Sesungguhnya tidaklah akan mendapatkan kemenangan orang-orang yang zalim." (Q.S. 28: 37).

Tentu saja, kemenangan "versi" Allah SWT itu adalah kemenangan yang sejati yang diikuiti dengan keberuntungan yang sebenar-benarnya, bukan keberuntungan yang semu. Siapakah mereka yang mendapatkan keberuntungan yang besar itu? "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya, itulah keberuntungan yang paling besar." (Q.S. al-Maidah [5]: 19). "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata." (Q.S. al-Jaatsiyah [45]: 30).

Kalaupun seseorang mendapatkan pangkat dan jabatan ini itu. Apabila seseorang mendapatkan harta benda sekian segitu, maka itu bukan suatu keberuntungan, tapi suatu ujian (Q.S. 89: 15). Kalau toh dianggap juga sebagai suatu keberuntungan, maka semua itu hanyalah suatu keberuntungan yang semu. Sedangkan keberuntungan yang sebenarnya adalah apabila seseorang dijauhkan dari azab (siksa) pada hari kiamat (Q.S. 6: 16) dan mendapatkan ridha dan karunia-Nya (surga), itulah keberuntungan sejati .

Tentu saja, mereka yang meraih kemenangan (karena keimanan dan ketaatannya kepada Allah SWT) kemudian mereka mendapatkan keberuntangan yang sejati itu, adalah mereka yang pada hari kiamat kelak, wajah mereka berseri-seri. "Wajah-wajah (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka memandang. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Q.S. al-Qiyamah [75]: 22-25).

"Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutupi lagi oleh kegelapan." (Q.S. 'Abasa [80]: 38-41).

Para ulama tafsir menyebut, yang dimaksudkan dengan ditutupi oleh kegelapan itu adalah kesedihan dan kehinaan. Bisa saja, saat hidup di dunia, seseorang sempat menang dalam meraih jabatan ini itu, atau bergelimang harta benda dalam hidupnya yang singkat di muka bumi seraya mengingkari dan mendurhakai Tuhannya, tapi di akhirat, justru bergelimang kesedihan dan kehinaan.

Persoalannya kini adalah, seberapa serius diri kita telah berupaya dalam kehidupan dunia yang singkat ini untuk meraih kemenangan, misalnya dalam berlomba berbuat kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Seberapa serius diri kita memberikan manfaat bagi orang lain dan seberapa gigih pulakah diri kita dalam menebarkan kasih sayang bagi sesama? Usaha-usaha mulia seperti itu, tentulah akan mengantarkan seseorang memperoleh keberuntungan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.



•     Kemenangan dan Keberuntungan yang Sebenarnya
•     Waisak, Meneladani Buddha
•     Menuju Bali Damai
•     Mengatasi Masalah Kehidupan
•     Bukti Cinta Sesama Orang Beriman
•     Ajaran Para Buddha
•     Berlaku Adil Tanpa Memandang Muka
•     Ordo Karmel III Komunitas Santa Teresa Avila, Bali
•     Renungan Tahun Baru
•     Khotbah
•     Masa Adven 2012
•     Hidup Berbahagia
•     Ibrahim, Tokoh Teladan yang Diidolakan
•     Mimbar Buddha
•     FKUB Terjun ke Kantong-kantong Komunitas Beda Agama
•     Ujian Hidup
•     Menyaksikan Mukjizat Tuhan
•     Syarat Yadnya Berpahala Mulia
•     ‘’Selingkuh’’ Rohani
•     Tiga Landasan Dasar Keimanan Agama Khonghucu
•     Ketaatan yang Penuh Kasih
•     Bangkit Menuju Kebebasan
•     Tulus dan Jujur
•     Hari Doa Panggilan Sedunia
•     Hari Ini, Digelar ''Shie Jit Thien Sang Sen Muk''
•     Pulau Bagi Diri Sendiri
•     Sampaikan Aspirasi Hendaknya Tak Anarkis
•     Vihara Purnama Bali Gelar Upacara Pemberkatan
•     Warisan Leluhur
•     Adat Hindu Harus Selalu ‘’Nutana’’
•     (Ignatius Suharto) Mendidik Kaum Muda
•     Badai Matahari Timbulkan Fenomena Mengagumkan
•     Al Qur’an dan Shalat Melatih dan Memperkuat Akal
•     Jadilah Seorang Pengasih
•     Umat Kepunyaan Tuhan, yang Tetap Rajin Berbuat Baik
•     Lancip Gunung, Runcing Keris, Tajam Pikiran...
•     Kekayaan Duniawi
•     Cinta Kasih dan Kesuksesan
•     Memelihara Kasih Persaudaraan
•     Bulan Kitab Suci Nasional
•     Puasa Pun Usai, Lalu?
•     Nilai Agamis Sembahyang ''King Hoo Ping''
•     Ramadhan, Anugerah Istimewa
•     Membangun Keluarga Memajukan Gereja
•     Tertipu Dunia, Mengabaikan Ayat-AyatNya
•     Debu Batin
•     Bangun Persaingan yang Sehat Bermartabat
•     Minggu Panggilan
•     Retret Agung 2011
•     Memaknai Perayaan Tahun Baru Imlek
•     Ambil Waktu Anda
•     Meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret
•     Jangan Berhenti Berbuat Baik
•     Renungan Dermaga Wacana
•     Penderitaan
•     Berbuat Baik di Bulan Kathina
•     Mulut Orang Benar Sumber Kehidupan
•     Ketaatan
•     Ihwal Buah Ramadhan
•     Syukur Bisa Bangun Pagi Ini
•     Umat Katolik di Singaraja Masih Trauma
•     Mimbar Buddha Jiwa-Jiwa yang Merdeka
•     Konfusianitas
•     Inti Isra' Mi'raj: Shalat!
•     Pesta Bola Dunia
•     Merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus
•     Umat Buddha Rayakan Waisak
•     Gema Waisak
•     Menjadi Saksi Kristus
•     Mempesona, namun Menjerumuskan
•     Umat Rayakan Jumat Agung
•     Persiapan Paskah 2010
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Menciptakan Hoki
•     Menjadi Anggota Tubuh Kristus
•     Sejarah Tahun Baru Imlek
•     Mewujudkan Harapan Baru
•     Membangun Wawasan tentang Waktu
•     Natal, Penggenapan Suatu Penantian dan Harapan
•     Hari Sembahyang Tang Cik
•     Persiapan Natal 2009
•     Ibrahim Sang Teladan
•     Kiamat
•     Perayaan Tumpek Krulut Pemujaan Bunyi-bunyian Menuju Harmonisasi Alam
•     Uang dan Keadilan
•     Putu Arya Tirtawirya dan Kematian yang Akrab
•     Pahlawan Keadilan dan Kejujuran

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak