Bendera setengah tiang dikibarkan di Kota Vladikavkaz, Rusia Selatan pascabom mobil bunuh diri meledak dan menewaskan 17 orang. Warga yang terkejut lantas meletakkan karangan bunga di sebuah bundaran lokasi TKP berada. Pengeboman Kamis waktu setempat di dekat pasar utama di ibu kota North Ossetia, merupakan serangan paling serius di Rusia sejak pengeboman kereta bawah tanah di Moskow yang menyebabkan 40 nyawa melayang.
''Dari para korban cedera, 107 dirawat di RS lokal dan 11 lainnya diterbangkan menuju Moskow,'' terang Menteri Kesehatan North Ossetian, Vladimir Selivanov, Jumat (10/9) kemarin, seperti dikutip kantor berita ITAR-Tass.
Pasar Vladikavkaz ditutup garis polisi dan tim penyelidik menyisir lokasi untuk menemukan bukti-bukti yang ditinggalkan pelaku. Efek ledakan sangat kuat hingga kaca jendela gedung sekitarnya pecah berantakan. Ceceran darah serta sobekan baju sudah dibersihkan di lokasi, namun puing-puing mobil teronggok di jalanan dan menjadi pemandangan mengerikan, bagaimana hebatnya serangan tersebut.
Beberapa blok dari lokasi, sanak famili yang sedih dan tetangga turut berkabung atas tewasnya korban pengeboman Yaselin Mamedova (54) dan Elnus Ahimov (9). Belum ada klaim, siapa pihak bertanggung jawab atas serangan. Namun, dugaan mengarah pada militan Islam yang sering melancarkan serangan kecil di tetangga Kaukasia Utara termasuk Dagestan, Chechnya dan Ingushetia.
Wilayah Kaukasia Utara yang memiliki perbedaan etnis terus dihantui oleh kekerasan dari dua perang separatis di Chechnya dan diperparah oleh kemiskinan akut serta korupsi pejabat setempat. Kelompok HAM mengatakan, petugas keamanan setempat lebih memilih jalan pintas seperti membunuh pelaku kriminal, melakukan penyiksaan hingga memprovokasi serangan balasan.
Tak seperti provinsi-provinsi Chechnya, Ingushetia dan Dagestan -- tempat populasinya dihuni mayoritas muslim -- Kaukasia Utara didominasi oleh Kristen Orthodoks dan sedikit warga muslim. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin bertemu dengan pemimpin ulama setelah ledakan dan mengatakan 20 juta populasi muslim Rusia harus memainkan peranan penting dalam menekan ekstremisme Islam di negeri tersebut. "Aksi kriminal seperti terlihat di hari ini (kemarin - red) bertujuan memperlihatkan kebencian antarwarga. Kita harus menekan agar hal seperti ini tak terjadi lagi," ujar Putin dalam sidang kemarin. (ton/afp)