Untitled Document
Untitled Document
» Dialog Interaktif
23 Januari 2009 | BP
Kalau Mau Berinovasi, Kenapa Tidak Di Tempat Lain ?
Warung Global

Danau Buyan harus diselamatkan. Dan, jangan terlalu percaya dengan kajian lingkungan yang dibuat investor, karena tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Yang membuat kajian itu adalah konsultan yang dibayar oleh investor, sehingga tidak ada bedanya investor bikin novel yang enak dibaca, didengar dan bisa diterima, karena kalau konsultan bikin kajian tidak sesuai dengan keinginan investor mana mau dibayar oleh investor. Sebagai masukan, kalau ingin kajian yang riil dan autentik, kajian tersebuat dibuat oleh pemerintah daerah atau propinsi. Demikian opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM, Kamis (22/1) kemarin. Berikut rangkumannya.

AGUNG Adnyana di Sanur mengatakan, kalau kita sudah mendengungkan Ajeg Bali ada tiga pilar yang harus kita perhatikan yakni pertama, sejarah. Kedua dresta-dresta atau norma-norma yang sudah ada, dan ketiga yang paling penting adalah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana menyangkut parhayangan adalah tanggung jawabnya dengan Tri Kaya Parisuda bersih pikiran, perkataan, perbuatan, kemudian pawongan dengan cinta kasih dan kedamaian, dan palemahan kita melestarikan tanah, air, tumbuhan, binatang yanga akan memberi penghidupan kepada kita.

Bisa saja mengatakan berinovasi, tapi jangan lupa bahwa gunung, danau dan laut merupakan bagian yang tentunya tidak bisa terpisahkan dalam spiritual. Kalau terjadi pendangkalan disebabkan oleh alur hutan lindung, apakah tidak bisa anggaran APBN yang tersedot dari pariwisata yang disetorkan ke pusat secara bertahap digunakan untuk pengerukan dan normalisasi, bukan dengan mendatangkan investor. Sehingga, akhirnya betul-betul tergarap dalam jangka lima tahun gubernur sekarang ini. Mohon kepada Presiden agar perubahan iklim tidak terjadi terus-menerus. Kita lebih baik pelihara yang sudah ada, Bali tidak perlu dikembangkan dengan hal yang macam-macam, Bali sudah penuh sesak.

Gede Biasa di Denpasar menjelaskan kalau tujuannya hanya untuk mengeruk agar Danau Buyan tidak dangkal, tidak perlu mendatangkan investor. Pemerintah daerah propinsi bekerja sama dengan pemerintah daerah lainnya di seluruh Bali agar Danau Buyan dapat dikeruk. Sehingga, tidak ada bangunan-bangunan yang tujuannya untuk mendatangkan orang-orang tinggal di sekitar danau dan akhirnya menimbullkan limbah dan pencemaran. 'Hal ini menyebabkan danau yang kita sucikan cemar,' katanya.

Sinda di Denpasar tidak banyak berkomentar tentang teknis. Namun dia khawatir jangan-jangan nasibnya sama dengan Loloan Yeh Poh dan Pantai Geger, Nusa Dua yang pantainya dikeruk. Dikhawatirkan cerita ini nasibnya sama dengan cerita-cerita sebelumnya seperti ngoreng sambel akejeb bone nganti ke pisaga, setelah itu hilang tidak ada apa-apa.

Nang Cekov di Denpasar menjelaskan apa pun alasannya, kalau menurut pendapat Sulinggih memang suci dan harus disucikan tidak ada kata lagi. Kenapa harus berinovasi, di tempat lain kan banyak. Kalau kita sebagai orang Bali mempunyai komitmen sangat menghormati tempat-tempat suci yang kita sucikan.'Kalau memang suci maka harus seterusnya disucikan,' pintanya.

Edy di Denpasar memberi harga mati tidak bisa diganggugugat tetap dilestarikan sebagai danau sendiri. Pejabat agar memakai weweka untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan. Kalau keinginan yang dipenuhi maka tidak akan ada habis-habisnya, apalagi unsur ego masuk. Kebutuhan harus sesuaikan dengan Perda, Bhisama PHDI yang sudah jelas-jelas itu merupakan tempat suci.

Restu di Munggu mengharapkan agar Ajeg Bali tetap dijaga, di mana kawasan gunung dan danau adalah tempat suci yang layak dipertahankan, sehingga Tri Mandala tetap terpakai, gunung adalah kepala kita.

Budi di Denpasar sangat setuju bahwa Danau Buyan harus diselamatkan. Dan, jangan terlalu percaya dengan kajian lingkungan yang dibuat investor, karena tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Yang membuat kajian itu adalah konsultan yang dibayar oleh investor sehingga tidak ada bedanya investor bikin novel yang enak dibaca, didengar dan bisa diterima, karena kalau konsultan bikin kajian tidak sesuai dengan keinginan investor, mana mau dibayar oleh investor. Sebagai masukan maka kalau memang ingin kajian yang riil dan autentik, kajian tersebuat dibuat oleh pemerintah daerah atau propinsi.
(panca)



[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak