Untitled Document
» Tajuk Rencana
21 September 2012 | BP
Berharap Memberi Inspirasi ke Daerah Lain
SEBAGAI pusat kegiatan ekonomi, politik dan kebudayaan di Indonesia, keberhasilan Pilkada DKI Jakarta haruslah kita sambut dengan positif. Keberhasilan paling utama di sini adalah keamanan, kelancaran dan praktik demokrasinya. Relatif tidak ada kekerasan yang kita dengar dari pemilu tersebut, dan pelaksanaannya tidak ada hambatan. Ribuan TPS melaksanakan pemungutan dan masyarakat datang ke tempat pemungutan suara tanpa ragu. Inilah yang paling penting dari sebuah pilkada yang berlangsung di ibu kota negara. Sebelumnya masyarakat sempat khawatir karena adanya kerusuhan apabila kandidatnya kalah. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena konon sempat sebelumnya beredar isu akan ada kekerasan apabila ada kekalahan pada kandidat tertentu.

Sepanjang yang kita lihat, pilkada ini lancar. Tentu kita hargai sikap kedewasaan dalam hal ini. Meskipun masih dalam perhitungan oleh lembaga hitung cepat, tetapi pasangan Jokowi-Basuki Cahaya Purnama (Ahok) memperlihatkan keunggulan di seluruh lembaga itu. Kita merasa senang Jakarta tetap aman. Bisa dibayangkan, jika kerusuhan melanda ibu kota, imbasnya akan ke seluruh Indonesia. Peredaran uang, barang dan jasa bisa bisa terganggu karena kota ini menjadi pusatnya.

Mengapa kita katakan juga sukses dalam praktik demokrasi? Dalam pelaksanaan pemilu, tidak ada paksaan kepada masyarakat, baik melalui intimidasi maupun ancaman untuk memilih kandidat tertentu. Juga tidak ada paksaan untuk ikut memilih. Memang ada imbauan untuk datang ke TPS. Akan tetapi itu sekadar imbauan, bukan paksaan. Artinya, kalaupun ada masyarakat yang diam di rumah dan tidak menggunakan hak pilihnya, ini juga merupakan pilihan demokratis. Mereka tidak bersalah dan berhak melakukan itu.

Hal lain yang juga penting, masyarakat tetap bekerja seperti sediakala meskipun ini hari pilkada. Jadi, pilkada bukanlah sebuah seremonial yang begitu angker. Pilkada merupakan sebuah kegiatan politik yang lumrah tanpa perlu diangker-angkerkan.

Ketika masyarakat Jakarta dengan berani memilih sesuatu yang berbeda, seperti pilihan mereka kepada Jokowi-Ahok, tampaknya itu dilatari oleh citra rasional yang mereka miliki. Memang, Jokowi menurut berbagai media massa telah berhasil membangun Kota Solo. Jokowi adalah pejabat wali kota Solo sekarang dan mampu membuat langkah-langkah positif di kota itu. Barangkali inilah yang menjadi faktor utama sebagai alasan masyarakat memilih kandidat tersebut. Memang sepatutnya, itulah yang harus dipilih oleh rakyat. Seorang pemimpin adalah mereka yang dekat dengan rakyat, mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat dengan kebijakan politik. Bukan kemudian semata-mata dipilih karena memberikan sumbangan barang atau uang secara mendadak menjelang pemilu.

Bagaimanapun, Pilkada DKI Jakarta kita harapkan mampu memberikan inspirasi kepada daerah-daerah lainnya. Tekanannya terletak pada bagaimana cara rakyat melakukan pilihannya. Rakyat harus cerdas, harus banayak berdiskusi tentang pemimpin yang bagaimana harus dipilih. Masih terlalu banyak calon pemimpin di negeri ini yang suka menipu rakyat, dengan memberikan janji yang muluk-muluk atau mereka terlalu suka memamerkan dirinya melalui baliho di pinggir jalan. Padahal, mereka bukan siapa-siapa dan tidak mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat.

Kalau memang nanti secara resmi Jokowi-Ahok yang memimpin Jakarta, tentu kita harapkan mereka mampu melakukan adminsitrasi yang sama dengan Kota Solo. Keberhasilan itu sudah tentu akan mempunyai pengaruh ke daerah-daerah lain. Kita tidak ingin pola-pola kemacetan Jakarta berpengaruh ke daerah lain.

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak