Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Surat Pembaca
13 Agustus 2013 | BP
Penjor Merah Putih Mewah Semarakkan HUT Kemerdekaan
Memperingati HUT ke-68 RI tahun ini ada suasana lebih semarak dari sebelumnya. Jika tahun sebelumnya peringatan proklamasi terkesan ''sepi'' dari kibaran Merah Putih, kini di Bali, Denpasar khususnya, suasana tujuh belasan sedah terasa seminggu menjelang 17 Agustus. Sudah terpancang penjor-penjor merah putih mewah dan megah di mana-mana. Di gerbang perkantoran, rumah dinas pejabat, pertokoan, dan sebagainya. Penjor merah putih megah menjulang. Beberapa ruas jalan jadi indah, semarah dan bersuasana ''nasionalisme''.

Ada imbauan memang, kepada masyarakat untuk memasang penjor merah putih sebagai salah satu cara mengekspresikan rasa nasionalisme dalam rangka tujuh belasan ini. Tetapi tampaknya selain perkantoran, tempat usaha dan rumah-rumah dinas pejabat, tidak banyak terlihat penjor merah putih terpancang di depan rumah-rumah warga. Kita tidak boleh buru-buru menuding mereka ''tidak nasionalis''. Bisa jadi karena untuk mewujudkan satu penjor megah menjulang dengan Bendera Merah Putih dari ujung atas hingga ke bawah itu, plus hiasan janur dan lainnya konon harus merogoh kocek sekitar Rp 250.000 hingga Rp 400.000. Untuk kantor, rumah dinas pejabat, tempat usaha, mungkin dana bukan masalah. Tapi untuk warga, banjar, sekolah, anggaran diambil dari mana?

Tidak ada paksaan memang, untuk memasang penjor merah putih yang megah dan mahal harganya. Tetapi masyarakat telanjur melihat ''contoh'' yang sudah terpancang di mana-mana. Kita khawatir warga masyarakat, banjar-banjar, sekolah-sekolah yang tidak punya dana khusus untuk itu, akan berupaya dengan memungut dana khusus untuk mengekspresikan rasa nasionalisme lewat pemasangan penjor ''mahal'' ini.

Menunjukkan rasa nasionalisme, kegembiraan pada hari peringatan proklamasi kemerdekaan ini penting. Tetapi, mengapa harus dengan penjor megah dan mewah demikian, di saat kehidupan ekonomi rakyat sulit begini? Kalaupun harus dengan penjor, mengapa tidak dengan yang murah saja. Seperti ''penjor Pancasila'', yang pernah marak sebelumnya. Cukup dengan setengah batang bambu, diberi hiasan gelang-gelang dari lima helai janur, kemudian di puncaknya ditancapkan bendera merah putih ukuran sedang. Lebih irit, ekspresi nasionalisme jalan, kantong tidak ''bolong''. Masyarakat banyak pun bisa mengikutinya.

Kami mohon, para pejabat atau pemimpin, kalau memberikan imbauan apa pun kepada warga masyarakat, agar senantiasa mempertimbangkan segi ekonomi. Jangan memberi contoh kemewahan atau bermewah-mewah kepada masyarakat. Toh nilai nasionalisme tidak terletak pada kemewahan ekspresif, tapi bagaimana kita memberi arti pada nasionalisme dan kemerdekaan itu.



Ibu Nyoman Sunyiati

Denpasar


[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak