Pembinaan identitas bangsa tidak mungkin dilepaskan dari kesadaran bangsa itu sebagai kesejarahan (historicity). Kesejarahan adalah kesadaran keterkaitan pada masa lalu yang bermakna dan ikut membentuk status preasens (Abdurrahman Wahid: 1995). Dalam arti inilah maka kesejarahan itu sangat penting dalam pembentukan identitas - (sebagai pribadi ataupun sebagai kolektivitas).
--------------
Kondisi ini menyebabkan kesan nyentrik dan bisa memberi harapan kongret bagi kemajuan rakyat kecil. Ia lebih menekankan pada gerakan pro poor, kepedulian terhadap budaya lokal, yang ia buktikan, ketika menjabat sebagai Wali Kota Surakarta. Di tengah semaraknya pembangunan mall, hypermarket, justru Jokowi sebagai pemimpin, begitu getol memberdayakan pasar tradisional.
-----------------------------------
Oleh M. Romandhon MK
Kemenangan sementara Joko Widodo dalam pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta putaran pertama, melesat menjadi tranding topic di tanah air. Ribuan bahkan jutaan pasang mata tertuju langsung pada kompetisi DKI 1. Dari hasil rekapitulasi beberapa quick count lembaga survei membeberkan jika pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja (Ahok) menempati urutan wahid.
-----------------------
Perolehan suara ini, menunjukkan bagaimana kekuatan massa pasangan Jokowi-Ahok sangat besar. Banyak kalangan di lembaga survei tanah air yang sebelumnya memprediksikan calon incumbent Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli (Nara) yang bakal memenangi pimilihan gubernur DKI Jakarta musim ini. Namun, fakta lapangan tidaklah demikian, justru pasangan Jokowi-Ahok melejit dengan raihan suara 42,68 %, sedang pasangan incumbent Foke-Nara hanya memperoleh suara 34,50 %.
Menariknya, di Solo, Surakrta, tempat Jokowi meniti karier, para pedagang sayur dan pedagang kaki lima (PKL), ramai-ramai melakukan nonton bareng untuk mengetahui hitungan cepat perolehan suara Pilgub DKI. Ketika diketahui Jokowi dan Ahok memperoleh raihan suara teratas, para pedagang-pedangan ini bersorak-sorai, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata, lantaran keharuan yang mendalam. Melihat kenyataan ini, sedemikian cintakah rakyat Solo terhadap pemimpinnya tersebut?
Mungkin banyak yang menyebutkan 'kemenangan' Jokowi-Ahok di putaran pertama menjadi kemenangan bagi rakyat kecil. Memang begitulah arus pemikiran Jokowi yang selalu kontras dengan elite-elite pemimpin lainnya. Kondisi ini menyebabkan kesan nyentrik dan bisa memberi harapan kongret bagi kemajuan rakyat kecil. Ia lebih menekankan pada gerakan pro poor, kepedulian terhadap budaya lokal, yang ia buktikan, ketika menjabat sebagai Wali Kota Surakarta. Di tengah semaraknya pembangunan mall, hypermarket, justru Jokowi sebagai pemimpin, begitu getol memberdayakan pasar tradisional. Inilah realitas dari sosok Jokowi yang memiliki daya magis dalam proses kepemimpinannya.
Tak berlebihan, jika kemudian gerakan pro poor (membela rakyat kecil) oleh Jokowi mampu mematahkan kekuatan massa Foke-Nara. Meski demikian, hasil suara ini belumlah final, karena masih ada babak kedua yang mesti lewati kedua kandidat. Dari hasil pilgub yang digelar Rabu (11/7) lalu, nampak jelas pemilihan putaran dua tidak bisa dielakkan. Tentunya, pertarungan antara juara bertahan (Fauzi Bowo) dengan pendatang baru (Joko Widodo) akan semakin ketat.
Konsekuensi logisnya, berbagai kongsi untuk berkoalisi tak terhindarkan lagi. Ini yang kemudian, akan menjadi drama menarik dalam Pilgub DKI kali ini, di mana ketika putaran dua nanti, mau tidak mau harus dilaksanakan dan akan berimplikasi pada mencuatnya politik dagang sapi. Sesuai jargon masyarakat Betawi, lu jual, gua beli. Terlepas dari hal itu, melenggangnya Jokowi ke putaran dua dengan raihan suara yang menakjubkan, ini menjadi modal berharga dalam memenangi turmen ini.
Dari Kampung ke Kota
Hasil raihan suara untuk Jokowi merepresentasikan bahwa, Jokowi-Ahok diam-diam memiliki daya pikat dalam menggaet elektabilitas masyarakat Jakarta. Memang, tidak bisa dipungkiri persoalan Jakarta yang tak kunjung menemui solusi ini menyebabkan banyak warga Jakarta merindukan sosok pemimpin baru yang bisa bekerja secara kongret, bukan semata-mata hanya janji manis belaka. Hasil yang menjanjikan ini menjadi titik balik dari aral kesejarahan Jokowi dalam mengarungi peta politik. Dengan torehan suara yang tinggi mengguli pasangan incumbent, adalah bukti bagaimana dinamika politik yang dimainkan Jokowi sarat penuh kejutan.
Keberhasilan Jokowi dalam pemilihan putaran pertama menjadi satu kredit poin penting, pasalnya hasil tersebut cukup membuat kaget banyak orang. Berangkat dari seorang pemimpin 'kampung', Jokowi beradu nasib ke ibu kota untuk menjadi DKI satu. Tokoh cendekiawan Indonesia sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru, Fuad Hasan dalam buku “Renungan Budaya” menjelaskan, sejarah merupakan manifestasi khas manusiawi yang tidak bisa dihapuskan begitu saja. Kenyataan manusiawi mustahil dipahami sekadar melalui ontologi eleatik belaka. Esensi dari kenyataan manusiawi adalah eksistensi, demikian formula para filsuf eksistensialis.
Keberhasilan Jokowi dalam memimpin Surakarta menunjukkan aral kesejarahan bahwa ia bisa memimpin. Kesuksesan tersebut menjadi track record tersendiri dalam menepis pesimisme menuntaskan persoalan Jakarta yang semakin kompleks. Karena bagaimanapun, manusia bukan sekadar 'ada', melainkan lebih dari itu manusia adalah “ada dalam perkembangan senantiasa” (more than just a being, man is a continuum of becaming). Kesan inilah yang ingin dibuktikan oleh Jokowi dalam pentas menuju DKI 1.
Pembinaan identitas bangsa tidak mungkin dilepaskan dari kesadaran bangsa itu sebagai kesejarahan (historicity). Kesejarahan adalah kesadaran keterkaitan pada masa lalu yang bermakna dan ikut membentuk status preasens (Abdurrahman Wahid: 1995). Dalam arti inilah maka kesejarahan itu sangat penting dalam pembentukan identitas - (sebagai pribadi ataupun sebagai kolektivitas). Ibarat pendidikan Jokowi sedang naik kelas, dengan indek predikat prestasi. Pilgub DKI adalah kesejarahan yang mesti dilalui, untuk menguji sejauh mana kapabilitas Jokowi dalam memimpin Jakarta nantinya.
Penulis, peneliti Central for Civilization and Cultural Studies, Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga
|