DIYAKINI atau tidak, mitologi bukan sekadar kisahan masa lalu, melainkan memiliki kuasa mengontrol kehidupan kita, bahkan hingga kini. Demikianlah yang hendak disiratkan Putu Fajar Arcana melalui novel pertamanya, Gandamayu. Perjalanan masa kecilnya bersama sang ayah, dieksplorasi sedemikian rupa, mempertautkan antara dunia mitologis terkait wiracerita Mahabarata dengan kekinian kesehariannya.
Bersamaan itu, Putu Fajar Arcana berupaya pula merefleksikan sikapnya terhadap sosok perempuan secara lebih personal. Kendati wacana seputar problematika perempuan dalam kehidupan sosial dan keseharian telah menjadi perdebatan yang demikian panjang, bahkan sebelum memasuki era modern, topik ini senantiasa menarik untuk diperbincangkan dan dikaji kembali. Sebagian orang boleh saja menilainya sebagai sesuatu yang telah umum dibicarakan, diangkat dalam berbagai diskusi atau karya sastra, namun tetap menyajikan beragam kemungkinan tafsir.
Seperti terangkum dalam novel ini, sosok Dewi Durga, sang penguasa kegelapan dan penunggu setra Gandamayu yang diyakini sebagai setra paling angker di bumi, tak lain adalah perwujudan Dewi Uma yang dikutuk oleh suaminya, Dewa Siwa. Jatuhnya kutukan terhadap Uma oleh Dewa Siwa, didalilkan sebagai ujian kesetiaan sang dewi yang kala itu diperintahkan turun ke bumi mencari susu sapi putih demi mengobati suaminya, yang ternyata hanya berpura sakit. Ketika Dewi Uma dengan ketulusannya hendak menyembuhkan sang suami, Dewa Siwa menjelmakan dirinya sebagai pengembala sapi putih yang kemudian dijumpai Uma di hutan. Mengetahui kesulitan Dewi Uma yang tak kunjung menemukan sapi putih yang tengah menyusui, sang gembala pun memperdayai Uma untuk melakukan hal tak senonoh. Awalnya Uma menolak, namun demi kesembuhan Dewa Siwa, Uma pun menyanggupinya.
Sekembali ke kahyangan, bukan terimakasih yang diperoleh Dewi Uma, melainkan kutukan sang suami yang menuduhnya telah melanggar kesetiaan, berbuat tak senonoh dengan seorang gembala, yang padahal tak lain Dewa Siwa sendiri. Merasa dijebak oleh suaminya, Uma yang telah berwujud Dewi Durga pun meninggalkan istana para dewa dan tinggal di Setra Gandamayu. Durga harus menjalani kutukannya sampai seorang bungsu kesatria Pandawa, Sahadewa, bersedia meruwatnya untuk kembali menjadi Dewi Uma.
Di tengah kobaran perang Baratayudha di Kuru Setra antara Pandawa dan Korawa, Kunti justru menyerahkan Sahadewa sebagai tumbal Dewi Durga, demi menyelamatkan Indraprastha dari gempuran dua raksasa mahasakti, Kalantaka dan Kalanjaya. Meski tak sepenuhnya paham, Sahadewa hanya bisa manut pada perintah Kunti, ikhlas menerima apa yang ditimpakan kepadanya jikalau itu demi keselamatan para Pandawa dan rakyat Indraprastha.
Gandamayu, memang tak sekadar kisah yang berangkat dari lakon pewayangan belaka. Apa yang disajikan dalam buku ini merupakan reinterpretasi penulisnya terhadap geguritan Sudamala yang dibaurkannya dengan keinginan untuk memberi perpektif berbeda terhadap posisi kaum perempuan dan laki-laki. Maka novel ini, bukan semata epos yang berkelindan dalam wilayah mitos yang seolah telah sahih, melainkan sebagai upaya lain membongkar cara pandang pembaca atau masyarakat atas budaya dan kebiasaan yang sedikit banyaknya berangkat dari mitologi sehari-hari.
Sosok perempuan dalam novel ini, seperti halnya Dewi Uma (Durga), raksasa Kalika bahkan Kunti, dihadirkan penulisnya bukan lagi sebagai peranan mereka yang umum terceritakan dalam lakon Mahabarata atau pewayangan biasanya. Tokoh-tokoh ini oleh Putu Fajar Arcana dimunculkan dengan pemikiran dan gagasan yang boleh dikata visioner serta mempertanyakan kekuasaan maskulinitas yang selama ini mengungkung mereka. Seperti dibathinkan Uma manakala ia berhadapan dengan kutukan yang dijatuhkan oleh suaminya Dewa Siwa, seolah kesetiaannya sebagai seorang istri hanya diukur berdasarkan penilaian lelaki.
Selain gugatan tersebut, melalui tokoh Dewa Naradha, muncul pula pandangan atas kaum lelaki yang menurutnya sering kali menyombongkan sifat kesatria, akan tetapi justru mengobarkan peperangan hanya karena alasan perempuan. Maka Naradha berkesimpulan, sekalipun dalam banyak hal perempuan diposisikan sebagai pihak yang lemah dan hanya bisa menerima keputusan lelaki, sejatinya justru perempuan memegang peranan kunci yang pada akhirnya malah membuat lelaki bertekuk lutut karenanya.
Tidak seperti kebanyakan novel-novel yang berangkat dari epos atau pewayangan, Putu Fajar Arcana tidak hendak berpanjang-panjang dengan kisahan sejarah atau peperangan belaka. Ia lebih banyak memaknai pergulatan yang terjadi dalam novel ini melalui pemikiran dan perenungan yang lebih ke dalam atas berbagai persoalan yang dihadapkan kepada mereka. Dengan demikian novel ini mampu menunjukkan kejernihan pandangan penulisnya dalam menjabarkan peristiwa.
Bahasanya yang ringan dan sederhana, dapat disandingkan dengan NH. Dini yang mengarang demikian bebas, seolah tengah berkisah dengan diari-nya sendiri. Kelenturan bahasa Putu Fajar Arcana membuat pembaca mudah memasuki alur cerita, terlebih setting waktu menjadi relatif, tidak linear, maka pembaca pun bebas memberi aneka tafsir atas logika peristiwanya. Dialektika yang terbangun antara masa kini dan masa lalu, antara sosok Putu maupun Sahadewa, nyaris tanpa sekat. Kesemuanya mengalir sebagai satu kesatuan yang utuh, tak terpecah sebagaimana kebanyakan novel yang berkisah dengan dua setting dan dua sosok pencerita yang berbeda.
Novel ini merupakan upaya cerdas Putu Fajar Arcana mengkontekstualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam mitos menjadi sesuatu yang dekat dengan keseharian. Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang memperkaya tafsir pembaca atas tema tertentu, serta menimbang mitologi dari sudut pandang dan gagasan yang tidak umum.
* Ni Wayan Idayati
Mahasiswi S-1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Undiksha