Judul buku : Ummi Inside, Inspirasi Ibu Cerdas untuk Anak Cerdas
Penulis : Misbahul Huda
Penerbit : PT Jepe Press Media Utama
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 320 halaman
IBU merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan ''ibuku'' adalah sebutan terindah. Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegar kita di kala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan dan ketakhadiran ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
(Khalil Gibran)
Pada era 1960-an, kelompok musik The Beatles melantunkan ratap fenomenal yang termasyhur:
Mother... you hate me!
But I never hate you....
I.... wanted you!
But you didn't hate me....
Mama don't got
Daddy come home!
Sebagai ratap fenomenal, The Beatles mencoba mengungkap fakta kegelisahan anak-anak di Amerika pada era 60-an, di mana saat itu terjadi perubahan mendasar dalam pola hubungan dan keintiman antara anak dengan orangtuanya, khususnya dengan ibunya.
Seperti diketahui, awal 1960-an, di Barat, telah terjadi semacam revolusi keluarga kontemporer akibat tekanan kapitalisme dan industrialisme, termasuk di dalamnya tekanan ideologi dan industrialisme, tekanan ideologi gender; kesamaan wanita dan pria dalam kesempatan kerja dalam rangka menopang tegaknya pilar-pilar kapitalisme. Tekanan ini berimplikasi pada keniscayaan keluarga berkarier rangkap; ayah dan ibu sama-sama keluar rumah dari pagi hingga petang, untuk ikut menyokong tumbuh dan berkembangnya suatu korporasi dalam bingkai kapitalisme.
Menurut Christoper Lasch, dalam Haven in a Herartless World: The Family Besieged (1977), akibat dari tekanan itu muncul keteguhan dalam keluarga, di mana keluarga tak lagi mampu memenuhi peran dalam keluarga, di mana keluarga tak lagi mampu memenuhi peran dan fungsinya sebagai surga dan tempat perlindungan, bahkan keluarga telah menjadi titik start pelarian dari keintiman dan kekerabatan. Makna tempat kediaman pun tak lagi ''home'' tetap ''house''. Hubungan antara anak dan orangtua pun semakin rentan secara psiko-spiritual.
Modus
Menurut Edward Shorter, dalam The Making of the Modern Family (1975), andaikan keluarga berkarier rangkap itu telah menjadi suatu modus kehidupan keluarga modern yang bersifat penting dan niscaya, maka adalah sulit bagi orangtua manapun untuk memperoleh waktu sebagaimana dahulu -sebelum perubahan terjadi- untuk melakukan sosialisasi, pengasuhan, dan pendidikan nilai-nilai yang intensif bagi anak-anak mereka. Keeratan hubungan antara para orangtua dan anak-anak mereka yang khas pada masa lalu, sekarang ini semakin menghilang, dan hal itu membuat tarikan subkultur di luar keluarga semakin menggoda.
Shorter juga menandaskan, anak-anak sekarang ini terperangkap di dalam suatu subkultur di luar keluarga, yang selanjutnya -paling tidak- akan berperan membentuk nilai-nilai dasar bagi perkembangan jiwa sang anak, yang bobotnya bisa lebih besar dari nilai-nilai yang diajarkan di dalam keluarga. Dalam hal ini, ketika keluarga kontemporer menyibukkkan diri di luar rumah, agaknya orangtua -khususnya ibu- semakin kehilangan relevansinya sebagai pemelihara, pengasuh, dan pendidik anak-anaknya. Para orangtua dalam keluarga kontemporer, dalam pandangan anak-anak, dianggap sedikit mewariskan nilai-nilai. Apalagi ketika sang ibu, sebagai ''punjer'' keluarga tak lagi secara intens berada di rumah. Anak-anak kemudian memandang orangtua tak lebih sebagai ''teman'' (suatu hubungan sosio-mekanik; tanpa adanya sentuhan batin), dan bukan sebagai wakil atau wali keturunan, yakni suatu hubungan fungsional yang menurunkan nilai-nilai emosional dan spiritual.
Oleh Shorter, revolusi keluarga di awal tahun 60-an itu disebutnya sebagai ''perusakan sarang'' (destruction of the nest) oleh peradaban kapitalis yang maju pesat, yang berimplikasi besar pada ketiadaan atau tereliminasinya jaminan kesejahteraan psikologis-spiritual (psycho-spiritual welfare) anak-anak di era modern, di mana ayah dan ibu bersama-sama tercerabut dari irama dan ruh kehidupan keluarga.
Perubahan revolusioner keluarga kontemporer itu, penghadapannya semakin kuat terutama pada wanita (kaum ibu), di mana sebelumnya posisi dan peran ibu di rumah digambarkan sebagai tumpuan yang memberikan layanan bagi kesejahteraan psikologis anak-anaknya, tiba-tiba harus tercerabut, ditarik keluar oleh tekanan-tekanan dari luar keluarga. Akibatnya, yang semestinya secara intens menumpahkan ke-rahim-annya kepada anak-anaknya. Rumah (home) tak lagi memiliki hati, tak lagi memiliki ''ruh''. Rumah kemudian hanya bermakna sebagai house, hanya tempat persinggahan layaknya losmen atau hotel. Maka tidaklah terlalu salah jika The Beatles melantunkan lagu rintihan, sebagai representasi keluhan dan jeritan primordial anak-anak di zamannya dalam meratapi tercerabutnya ibu dari keluarga; tekanannya: Mamma don't go! (Mama jangan pergi keluar rumah meninggalkan aku), dan Daddy come home! (Ayah, segeralah pulang selepas bekerja), begitulah kira-kira maknanya.
Tekanan berat pada ibu dalam lagu The Beatles tersebut merupakan gambaran, betapa seorang anak tidak menginginkan ibunya ''membenci'' dirinya, dengan meninggalkannya di rumah bersama baby sitter, dengan menu minuman bukan ASI tapi ASPI (air susu sapi); dengan membiarkan belajar bahasa pembantu, bukan bahasa ibu. Lantunan Beatles itu agaknya masih relevan dikontekskan dengan fenomena pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga, di saat para orangtua -ibu khususnya- tak lagi menyadari makna home, yang di dalamnya terjamin pemenuhan kesejahteraan psikologis-spiritual bagi anak-anak.
Di saat peringatan hari ibu, layak pula kiranya lagu The Beatles itu diwacanakan kembali, sebagai pengingatan bagi kita semua, betapa bahayanya korporasi kapitalisme yang merenggut kehadiran ibu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual dan psikologis anak-anak di rumah secara utuh.
Buku Ummi Inside ini diharapkan setidak-tidaknya memberi inspirasi dan membawa kita sebagai orangtua untuk lebih menyadari makna rumah sebagai home, bukan house, di mana peran ibu begitu sentral di dalamnya. Kendati pemaparan di buku ini banyak berangkat dari pengalaman pribadi penulis, justru di sinilah kekuatannya, yakni berbagi ibrah bagi keluarga-keluarga lain ketika harus mengarungi kehidupan yang penuh badai liberasi moral dan korporasi kapitalisme-materialisme yang merenggangkan ikatan-ikatan spiritual dan kekerabatan, yang tidak jarang menyeret peran ibu dan keluarga keluar dari ruh rumah (home, atau sakan dalam bahasa Qur'an).