Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Buku
Senin, 16 Mei 2010 | BP
Mengenal Surga dan Neraka

Judul : Petunjuk Untuk Yang Ragu

Pengarang : Ngakan Made Madrasuta

Tebal : xii + 281 halaman

Penerbit : Media Hindu





SAAT ini, mungkin ada sejumlah orang berpendapat bahwa agama Hindu adalah agama yang tidak jelas. Banyak pula yang mengatakan Hindu tidak bisa menjawab pertanyaan atau persoalan lebih-lebih persoalan terkini. Apa beda adat dan agama? Apakah pada hari ngerupuk harus mengusir Butha Kala? Betulkah pada hari Saraswati tidak boleh membaca?

Banyak lagi pertanyaan yang harus dijawab dengan hati-hati dan memerlukan pengetahuan yang luas. Sesungguhnya, apa pun dalam agama Hindu dapat ditanyakan, dan tentu ada jawabannya. Bagaimana jawaban itu, tergantung siapa yang menjawab dan kepada siapa jawaban itu diberikan. Benar atau tidaknya jawabannya tersebut, rupanya tergantung pula kepada siapa jawaban itu diberikan.

Salah satu contoh, seorang anak SD bertanya, "Pak, apakah kita harus sembahyang tiap hari?" Jawaban atas pertanyaan itu bisa berbeda jika yang bertanya adalah mahasiswa S-3 Teologi alias kandidat doktor.

Buku yang ditulis Madrasuta ini cukup menarik disimak, direnungkan dan kemudian didiskusikan. Meskipun terdiri atas dua bab saja, namun buku ini menyediakan jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini mungkin mengganjal di benak sebagian orang.

Pada halaman 130 dalam buku ini ada pertanyaan: Apa bedanya jiwa, atman dan roh? Menurut kepercayaan orang awam, seseorang yang meninggal dunia, rohnya pergi meninggalkan badan. Rohnya itu bisa gentayangan, jika ada sesuatu yang kurang beres pada jenazah. Bahkan ada kepercayaan, roh-roh manusia yang ada di kuburan sering disebut memedi.

Dalam buku ini, jawaban atas pertanyaan itu lebih klop. Jiwa, demikian dijelaskan, artinya "hidup" (living), "ada", "hadir" (existing) berasal dari bahasa Sansekerta "jiv", artinya menjadi "hidup" (to live). Jiwa individu, atman, selama dalam keadaan bertubuh, diikat oleh tiga "mala" (anava, karma, dan maya).

Anava mala artinya ketidak-murnian dari keadaan kecil (impurity of smallness), prinsip yang membuatnya jadi terbatas (finitizing principle). Karma artinya tindakan dan akibatnya. Maya artinya ilusi. Sedangkan atman adalah kesadaran murni, yang hakikatnya sama dengan brahman. Adapun roh bersala dari kata "Ru'ah" dalam bahasa Ibrani. Kata-kata "ru'ah" (breath, wind) memiliki arti yang sama dengan kata "nefesh" (itu menunjukkan yang hidup sebagai lawan dari yang mati) dan "neshamah" (daya hidup, vitality).

Yang menarik pula, ada pertanyaan berkisar reinkarnasi. Dikatakan menarik, karena tidak semua agama percaya pada yang satu ini. Banyak orang berucap, "Hidup ini hanya sekali. Karena itu mari kita isi dengan penuh arti."

Dalam kepercayaan Hindu, hidup ini diyakini berkali-kali kecuali yang sudah mencapai moksha. Dalam buku ini dari halaman 172-181, tanya-jawab berkisar reinkarnasi cukup seru. Misalnya: mengapa ada reinkarnasi? Apakah semua orang mengalami reinkarnasi? Kapan jiwa mengalami reinkarnasi? Bagaimana reinkarnasi terjadi? Apakah umat Hindu yang sudah diaben juga reinkarnasi? Apakah orang non-Hindu juga mengalami reinkarnasi? Banyak lagi pertanyaan tentang reinkarnasi dan semua itu diberi jawaban.

Yang juga tak kalah menarik adalah tentang surga-neraka. Menurut Hindu, surga berasal dari kata "svar" yang artinya "cahaya" dan "ga" (go dalam bahasa Inggris artinya pergi). Dengan demikian, swarga diartikan "pergi menuju cahaya". Mengutip Veda dan Upanisad, dalam buku ini dijelaskan bahwa surga adalah dunia yang penuh cahaya, di mana cahaya matahari, bulan dan bintang tidak ada artinya apa-apa dibanding cahaya yang dipancarkan surga.

Ada pula disebutkan, bila surga atau neraka merupakan kata sifat atau keadaan, itu berarti surga dan neraka itu ada di dunia ini (halamana 198). Dalam percakapan orang awam, surga dan neraka sering disebut sebagai sebuah tempat. Akan tetapi di mana tempat itu, tidak ada yang dapat menjawab secara pasti.

Dipercayai sebagai tempat, mungkin lantaran mereka mengacu pada cerita-cerita klasik seperti Ramayana, Mahabharata, dan cerita rakyat yang menceritakan tentang surga dan neraka. Dalam Ramayana dan Mahabharata yang sering diangkat sebagai lakon pementasan wayang kulit, surga sering diidentikkan sebagai alamnya para dewa dan bidadari. Alamnya Dewa Brahma sering disebut Brahmaloka, alamnya Indra disebut Indraloka. Di surga sepertinya juga ada "negara-negara bagian".

Surga dibayangkan sebagai tempat tercermin dalam lakon Bima Swarga, yaitu perjalanan Bima ke surga mencari Pandu yang akan "diaben". Demikian pula dalam Arjuna Wiwaha, dikisahkan kunjungan Arjuna ke surga setelah lulus dari tapanya di Gunung Indrakila. Dalam cerita rakyat Cupak-Gerantang, Cupak dikisahkan ke surga mencari ayahnya yaitu Dewa Brahma. Dari cerita tersebut, maka surga dan neraka jelas-jelas digambarkan sebagai tempat. Tempat ini mungkin juga merupakan simbol yang bisa ditafsirkan sebagai "sifat" atau "keadaan".

Dengan segala keterbatasannya, buku ini patut dibaca baik oleh warga kampus maupun oleh masyarakat umum untuk menambah informasi yang lebih meyakinkan. Semua penjelasan atas pertanyaan, berpedoman pada pustaka Hindu sehingga buku ini memang merupakan "petunjuk untuk yang ragu".



* Wayan Supartha



•     Subak Warisan Budaya Dunia
•     Lebih Unggul dari 100 Orang Berkelahiran Tinggi
•     Orang Senang Kata-kata Manis, Kekuatan Mantra dan Obat-obatan
•     Meski Diimplementasikan pada Praktik Kehidupan Sehari-hari
•     Mengetahui Semua Konstalasi Ini Benar-benar Bijaksana
•     Orang Bijaksana Menghindari Kata-kata Keras dan Marah
•     Tinggalkan Veda Menuju Ranjang Kematiannya
•     Menginformasikan Politik Mikro Bali dari Masa Lalu
•     Mengetahui Semua Konstalasi Ini Benar-benar Bijaksana
•     Jika Membenci, Berselisih, Merampas Harta Brahmana
•     Merupakan Kebaikan, Kedamaian dan Kepuasan Tertinggi
•     Dewa Antre Turun Ingin Berbadan Manusia
•     Pertimbangkan Perilaku Mereka yang Penuh Kebajikan
•     Berikan Indraprastha atau Bertempur Melawanku
•     Brahmana Harus Persembahkan Kurban, Amal-Derma dan Tinggal di Tempat Suci
•     Hidupnya Menyedihkan, Kegembiraan Meninggalkannya
•     Yudhishthira: Biarlah Indraprastha sebagai Kerajaanku
•     Dhrithtarastra Berselisih Soal Isi Perut adalah Dosa Besar
•     Sama-Sama Tanyakan dan Doakan Semuanya Baik
•     Siapa Mampu Melawan Kekuatan Arjuna dan Kebijakan Krishna
•     Indra Minta Istrinya, Nahusha Gunakan Rishi sebagai Kendaraan
•     Lakukan Upacara Aswameda kepada Vishnu
•     Semena-mena, Sachi Minta Perlindungan Guru Vrihaspati
•     Sayodhana Pilih Pasukan, Arjuna Jadikan Kesava Sais
•     Raja Draupada Utus Brahmana Temua Sesepuh Kuru
•     Krishna Prihatin pada Pandava, Bicarakan Hak Setengah Kerajaannya
•     Dewi Uttari Diserahkan sebagai Wujud Penghormatan
•     Renungkan Nasihat Putra Gangga, Duryodhana Tarik Pasukan
•     Putra Suta Sempat Pingsan Kemudian Melarikan Diri
•     Sama-sama Sakti dan Ahli Menggunakan Senjata Surgawi
•     Para Dewa Saksikan Pertempuran Arjuna Kalahkan Guru Kripa
•     Pasukan Duryodhana Tercekam Ketakutan
•     Bhisma Kalkulasi, Pas Waktu Pengasingan Pandava
•     Kripa Uraikan Prestasi ''Pertarungan Sendiri'' Dhananjaya
•     Merasa Beruntung Bertemu Langsung dengan Dhananjaya
•     Diperintah Naik ke Kereta dan Mengambil Busur di Pohon Sami
•     Arjuna Kejar Uttara, Pahlawan Kuru Curigai Dhananjaya
•     Arjuna Diminta Menggantikannya
•     Kerajaan Matsya Belum Aman, Giliran Kaurava Menyerang
•     Raja Susarman dan Raja Virata Duel Sengit
•     Tidak Bijaksana Selidiki Masa Penyamaran Pandava Gunakan Mata-mata
•     Khaurava Mencari ke Berbagai Pelosok, tetapi Gagal Menemukan Pandava
•     Bhima Mengamuk Membantai 105 Suta
•     Tak Seorang pun Dapat Mengabaikan ''Takdir''
•     Saksikan Yudhishthira Hibur Raja Virata Main Dadu
•     Kelakuan Keji Kichaka Dianggap Pantas Diantarkan ke Yama
•     Menginginkan Kursi yang Menyebabkan Orang Lain Iri Hati
•     Yudhishthira Jadi Brahmana, Bhima Juru Masak, Arjuna Pelatih Tari
•     Dapat Kesentosaan, Putra dan Cucu Hidup di Atas Seratus Tahun
•     Welas Asih, Keinginan Membuat Bahagia Semua Makhluk
•     Putra Pandu Berjumpa dengan Yaksha Penguasa Danau
•     Pihak Duryodhana Kecewa, Kubu Pandava Gembira
•     Radheya Mohon Sesuatu Istimewa sebagai Pengganti
•     Takut Ketahuan sang Raja, Kunti Membuang ke Sungai
•     Luncurkan SOS untuk Kepuasan Pelanggan
•     Surya Datang, Tak Mau Kembali Sebelum Hadiahi Putra
•     Saran Dewa Surya, Minta Senjata Surgawi Tanpa Tanding
•     Radeya Janji Berikan Indra Bayu Zirah dan Anting-anting
•     Indra Janji Minta Anting-anting
•     Minta Segera Pulang Menemui Oran
•     Dewa Yama Kagum, Akhirnya Member
•     Hidup di Hutan, Berpakaian Kulit Kayu
•     Savitri Ngotot Kawin dengan Pangeran Pendek Umur Itu
•     Rishi Markandeya: Savitri, Putri Raja Aswapati
•     Rama Dinobatkan Kembali Menjadi Raja
•     Rama Diminta Bersatu Kembali dengan Sita
•     Dapat Anugerah Shiva, Tak Dikabulkan Membunuh Pandava
•     Gusti Wedakarna Resmikan ''The Hindu Center of Blambangan''
•     Membawa Anak pada Buku dan Anak ke Dalam Buku
•    
•     Sirkulasi Perjalanan Perempuan Mahabharata
•     Buku Terjemahan dan Profesi Penerjemah
•     E Pluribus Unum
•     Gairah, Cinta dan Persahabatan
•     Potret Manusia Indonesia yang Terlupakan
•     Perempuan dalam Dunia Kakawin, Perkawinan dan Seksualitas
•     Hutang Kita pada Buku
•     Menyentuh Tanpa Kehilangan Humor
•     Antara Sajak dan Sejarah
•     Post Kolonial & Wisata Sejarah, dalam Sajak
•     Hadiah untuk Langit
•     Meraup Mutiara Kepemimpinan
•     Memori sang Maestro Selama Puluhan Tahun
•     Ketika Perempuan Terluka Bercerita
•     Diturunkan Rishi Vyasa dari Tiga Ibu Berbeda
•     Era Aji Mumpung
•     Ketabahan Perempuan dalam Batu Kesabaran
•     Antara Jimbaran dan Lovina
•     Garuda, Burung Paling Utama, Putera Rishi Kasyapa
•     Resensi buku:Perjalanan Panjang Ksatria Bali
•     Gandamayu, Refleksi Mitologi dalam Kekinian
•     Gandamayu, Refleksi Mitologi dalam Kekinian
•     Rekonstruksi Monologik
•     Perang Hanya Membawa Penderitaan
•     Bedah Buku Kebo Iwa Jari Telunjuknya Sakti Mandraguna
•     Sukmawati Tulis Kesaksian Tragedi G-30-S/PKI
•     Berubah Menjadi Panggung Cat Walk
•     Harta Karun Cerita Panji
•     Harta Karun Cerita Panji
•     Memahami Kasih Ibu Lebih Dalam
•     Kritik dan Ruang Kesarjanaan
•     Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan
•     Tembang Untuk Keselamatan
•     Membuka Ruang untuk Difabel
•     Berkelindan dengan Kerumitan
•     Hilangnya Agama Budi dari Nusantara
•     Senja
•     Memahami Perempuan dengan Cinta dan Ketulusan
•     Mengenal Mukjizat Sai Baba di Dalam dan Luar Bali
•     Menikmati Tidur yang Nikmat
•     Kebijakan Liberalisasi Pariwisata Antara Peluang Emas dan Pedang Ganas
•     Mencoba Memahami Kahlil Gibran
•     Bercakap-cakap dengan Tuhan
•     Bali Menuju Jagaditha: Aneka Perspektif
•     Banggalah Jadi Krama Bali Pelestari Bahasa Bali
•     Pengetahuan Tertinggi untuk Meraih Bahagia
•     Paradoks Pariwisata dalam Senjakala
•     Kesuksesan yang Membahagiakan
•     Mendengar Nyanyian Penyair, Renungkan Kehidupan
•     Menjawab Pertanyaan Anak dengan Dongeng
•     Memahami Teknis Menulis yang Tepat
•     Memahami Tuhan Lewat Kata
•     Ngajum Sekah, Upacara yang Sarat Simbol
•     Novel "The White Tiger" Harga Diri dan Praktek Korupsi
•     Soal Bali yang Paradoks
•     Pura Besakih:Di Antara Legenda Dan Sejarah Penguasa Bali
•     Menjadi Manusia Pembelajar
•     Teorema Angels Kebijakan Liberalisasi Pariwisata Kita
•     Mengenal Surga dan Neraka
•     Resensi Buku
•     Guru yang Tak Tergantung
•     Belajar dengan Bahagia Belajar Sambil Bermain Tim Penyusun : Pembina PSB
•     Ritual ke Ekonomi Spiritual?

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak