Untitled Document
» Mimbar Agama
Senin, 10 Juni 2012 | BP
Tiga Landasan Dasar Keimanan Agama Khonghucu
Oleh WS. CH. Budhi. S. Pribadi


KEHIDUPAN di dunia nyata ini idak lepas dari Tiga Landasan Dasar (Sancai) yaitu: Pertama, hubungan antara manusia dengan Tian, Tuhan Yang Maha Esa. Karena hidup manusia adalah oleh Firman Tuhan (Tian-Ming). Firman Tuhan itulah menjadi watak sejati/hakikat kemanusiaan manusia, maka manusia adalah pengembangan firman Tuhan yang wajib diamalkan dan dipertanggungjawabkan. Bahkan harus ditegakkan dalam menggemilangkan kebajikan di dalam hidupnya yaitu Cinta Kasih (Ren), Kebenaran (Yi), Susila (Li), Kebijaksanaan (Zhi), yang disebut Empat Kebijakan (Si-De).

Bila empat kebajikan ini benar-benar mampu direalisasikan dalam pengamalan hidup, disebut dapat dipercaya (Xin) dan empat kebajikan dan dapat dipercaya adalah disebut Lima Nilai Kebajikan/Wu-Chang/ Wu-De.



Agar terwujud hubungan yang harmonis dengan Tuhan, manusia wajib berupaya menegakkan firman dan mengamalkan kebajikan dalam hidupnya sebagai pernyataan iman dan ketaqwaannya, yaitu patuh Taqwa kepada Tuhan (Shun-Tian), tidak melanggar hukum Tuhan (Ni-Tian), agar hidup ini terpelihara sejahtera dan tidak mengalami hal yang tidak diinginkan.

Dengan takut dan hormat akan ke-Mahakuasaan Tuhan, akan memperoleh suasana hidup bahagia di dalam kondisi serasi menyatu kepada Tuhan (Pei-Tian).

Kedua, hubungan antar manusia wajib selalu ingat akan prinsip keharmonisan di dalam dasar lima hubungan kemasyarakatan, yaitu disebut ''Wu-Lun'' yaitu hubungan pemimpin dengan bawahan/staf (Jun-Chen), orang tua dengan anak (Fu-Zi) suami dengan istri (Fu-fu), kakak dengan adik (Kun-Di), dan hubungan antara kawan dengan sahabat (Peng-You). Agar jalinan hubungan bermasyarakat luas ini terwujud keharmonisan, perlu adanya pelaksanaan dengan dasar tiga kebajikan (San-Dao-De) di dalam mengamalkan cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, kebijaksanaan, kearifan dan dapat dipercaya (Ren-Yi-Li-Zhi-Xin).

Adapun dalam pelaksanaannya harus dijaga oleh prinsip tepasarira/ tenggang rasa/toleransi (Shu), sehingga tidak timbul berbagai tindakan yang bersifat ekstrem yang berakibat konflik.

Untuk upaya munculnya suatu konflik dalam kehidupan bermasyarakat, adalah masing-masing orang mampu benar-benar di tengah tepat, dengan mengingat ''Satya dan Tepasarira'' yang merupakan jalan suci yang satu, yang menembus semuanya (Zhong-Shu). Di mana tiap pelaku wajib satya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pelaksanaannya kepada sesama manusia. Ada rasa tepasarira, yakni apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah dilakukan terhadap orang lain. Sebaliknya bila diri sendiri ingin tegak/ sukses, hendaknya juga menyadari, agar orang lain pun dapat tegak/ sukses dalam kehidupan, dan menghayati di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara.

Ketiga, hubungan manusia dengan alam dan lingkungan hidup. Bahwa hidup manusia tidak lepas dari alam dan lingkungan yang menjadi pendukung kehidupannya. Manusia wajib menyayangi dan memiliki rasa tanggung jawab untuk kelestarian alam lingkungan hidupnya dan untuk melaksanakannya menjaga kelestarian alam pendukung kehidupan manusia ini, manusia wajib berpegang di dalam satya dan bertanggung jawab menepati hukum Tuhan (Tian-Li) dan menyayangi demi kelestariannya. Hal ini diungkapkan di dalam kitab tengah-sempurna/ Zhong-Yong. Bab utama V ''Bila dapat terselenggara tengah dan harmonis, maka kesejahteraan akan meliputi langit dan bumi, segenap makhluk dan benda akan terpelihara''.

Oleh karena di dalam kitab tengah-sempurna/Zhong-Yong XXIV : 3 tersurat, ''Iman itu bukan dimaksudkan selesai dengan menyempurnakan diri sendiri, melainkan menyempurnakan segenap wujud juga. Dan cinta kasih (Ren) itu menyempurnakan diri, dan bijaksana (Zhi) itu menyempurnakan segenap wujud. Inilah kebijakan watak sejati (Xing-Zhi-De) dan inilah keesaan luar dalam. Daripada jalan-suci (Dao), maka setiap saat janganlah dilalaikan, jadikan pegangan yang kokoh sebagai keimanan. San-Cai ini bukan 'Sancai' yang ada di dalam cerita serial ''Kera Sakti/ Sun-Go-Kong'' yang dimengerti oleh khalayak umum, melainkan ''Tuhan-Bumi-Manusia/ Tian-Di-Ren''. Shanzai.



•     Peringatan Hari ‘’Peh-Cun’’
•     Menuai Taburannya Sendiri
•     Kemenangan dan Keberuntungan yang Sebenarnya
•     Waisak, Meneladani Buddha
•     Menuju Bali Damai
•     Mengatasi Masalah Kehidupan
•     Bukti Cinta Sesama Orang Beriman
•     Ajaran Para Buddha
•     Berlaku Adil Tanpa Memandang Muka
•     Ordo Karmel III Komunitas Santa Teresa Avila, Bali
•     Renungan Tahun Baru
•     Khotbah
•     Masa Adven 2012
•     Hidup Berbahagia
•     Ibrahim, Tokoh Teladan yang Diidolakan
•     Mimbar Buddha
•     FKUB Terjun ke Kantong-kantong Komunitas Beda Agama
•     Ujian Hidup
•     Menyaksikan Mukjizat Tuhan
•     Syarat Yadnya Berpahala Mulia
•     ‘’Selingkuh’’ Rohani
•     Tiga Landasan Dasar Keimanan Agama Khonghucu
•     Ketaatan yang Penuh Kasih
•     Bangkit Menuju Kebebasan
•     Tulus dan Jujur
•     Hari Doa Panggilan Sedunia
•     Hari Ini, Digelar ''Shie Jit Thien Sang Sen Muk''
•     Pulau Bagi Diri Sendiri
•     Sampaikan Aspirasi Hendaknya Tak Anarkis
•     Vihara Purnama Bali Gelar Upacara Pemberkatan
•     Warisan Leluhur
•     Adat Hindu Harus Selalu ‘’Nutana’’
•     (Ignatius Suharto) Mendidik Kaum Muda
•     Badai Matahari Timbulkan Fenomena Mengagumkan
•     Al Qur’an dan Shalat Melatih dan Memperkuat Akal
•     Jadilah Seorang Pengasih
•     Umat Kepunyaan Tuhan, yang Tetap Rajin Berbuat Baik
•     Lancip Gunung, Runcing Keris, Tajam Pikiran...
•     Kekayaan Duniawi
•     Cinta Kasih dan Kesuksesan
•     Memelihara Kasih Persaudaraan
•     Bulan Kitab Suci Nasional
•     Puasa Pun Usai, Lalu?
•     Nilai Agamis Sembahyang ''King Hoo Ping''
•     Ramadhan, Anugerah Istimewa
•     Membangun Keluarga Memajukan Gereja
•     Tertipu Dunia, Mengabaikan Ayat-AyatNya
•     Debu Batin
•     Bangun Persaingan yang Sehat Bermartabat
•     Minggu Panggilan
•     Retret Agung 2011
•     Memaknai Perayaan Tahun Baru Imlek
•     Ambil Waktu Anda
•     Meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret
•     Jangan Berhenti Berbuat Baik
•     Renungan Dermaga Wacana
•     Penderitaan
•     Berbuat Baik di Bulan Kathina
•     Mulut Orang Benar Sumber Kehidupan
•     Ketaatan
•     Ihwal Buah Ramadhan
•     Syukur Bisa Bangun Pagi Ini
•     Umat Katolik di Singaraja Masih Trauma
•     Mimbar Buddha Jiwa-Jiwa yang Merdeka
•     Konfusianitas
•     Inti Isra' Mi'raj: Shalat!
•     Pesta Bola Dunia
•     Merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus
•     Umat Buddha Rayakan Waisak
•     Gema Waisak
•     Menjadi Saksi Kristus
•     Mempesona, namun Menjerumuskan
•     Umat Rayakan Jumat Agung
•     Persiapan Paskah 2010
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Menciptakan Hoki
•     Menjadi Anggota Tubuh Kristus
•     Sejarah Tahun Baru Imlek
•     Mewujudkan Harapan Baru
•     Membangun Wawasan tentang Waktu
•     Natal, Penggenapan Suatu Penantian dan Harapan
•     Hari Sembahyang Tang Cik
•     Persiapan Natal 2009
•     Ibrahim Sang Teladan
•     Kiamat
•     Perayaan Tumpek Krulut Pemujaan Bunyi-bunyian Menuju Harmonisasi Alam
•     Uang dan Keadilan
•     Putu Arya Tirtawirya dan Kematian yang Akrab
•     Pahlawan Keadilan dan Kejujuran

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak