''BAPA di surga tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya."
(Doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama.)
Sejak Minggu, 29 November 2009, umat Kristiani memasuki Masa Adven 2009. Setiap Masa Adven masing-masing keuskupan mengadakan Aksi Adven Pembangunan (AAP) dengan tema yang berbeda-beda. Keuskupan Denpasar memilih tema "Menuju Pertumbuhan Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang Inklusif dan Transformatif". Tema ini dipilih karena Keuskupan Denpasar akan memperingati Jubileum 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar.
Sekitar abad ke-9, gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan gereja. Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat pekan. Biasanya pekan keempat Adven terpotong oleh tibanya Hari Natal. Untuk tahun ini, Adven ke-4, 20-24 Desember 2009 (hanya selama empat hari). Tanggal 24 malam sudah perayaan Vigili Natal.
Menurut Fr. William P. Saunders, Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani. Pada hari Epifani, para katekumen (calon baptis) dibaptis menjadi warga gereja. Jadi, persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa. Adven berlangsung selama tiga pekan, sedangkan prapaskah berlangsung selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu)
.
Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Natal adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran tanpa awal dan akhir. Jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal, dan bagaimana kita berharap dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di Kerajaan Surga.
Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir.
Terang itu sendiri melambangkan Kristus yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa kegelapan serta kejahatan, dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.
Makna Masa Adven terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin adventus, artinya "kedatangan"). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda "kedatangan" ini, (a) dalam perayaan liturgi Adven, gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus; dan (b) membarui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (no.524).
Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dunia. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengan-Nya.
Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa yang mengawali tulisan ini. ("The Celebration of Advent" yang diterjemahkan oleh Yesaya: www.indocell.net/yesaya atas izin The Arlington Catholic Herald).