Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Apresiasi
Senin, 20 Nopember 2011 | BP
Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
DI TENGAH globalisasi yang ditandai dengan banjir citra visual yang ditayangkan televisi dan media baru hingga ke ruang-ruang privat yang begitu menggoda, masih cukup banyak kelompok anak muda di Bali yang secara khusyuk membaca dan memaknai puisi. Bagi mereka puisi bukan sekadar dibaca di dalam kamar (puisi kamar), namun telah dialih-kreasikan menjadi musikalisasi puisi, bentuk pertunjukan puisi (poetry performing), suatu tradisi yang eksis dan berkesinambungan dihidupkan melalui agenda festival dan lomba pada komunitas sastra sejak tahun 1990-an di pelbagai daerah di Bali.


Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali berakhir Agustus yang lalu, misalnya, diawali dengan gelaran lomba Parade Musikalisasi Puisi di setiap kabupaten yang menyeleksi ratusan kelompok lalu mengerucut menjaring 15 kelompok pada babak final yang digelar di gedung Ksrarinawa, Taman Budaya, Denpasar. Sebagai anggota juri, saya bersama penyair I Gusti Putu Bawa Samargantang dan Warih Wisatsana setelah membubuhkan angka penilaian yang digunakan sebagai penunjuk awal atas penampilan setiap kelompok lalu berdiskusi untuk menjelajahi aspek estetik dan artistik secara utuh-padu dari setiap kelompok penampil.

Akhirnya juri memutuskan, ''Komunitas Senang Berteman dengan Anda'' dari Gianyar (juara I), Teater Antariksa, Denpasar (juara II) dan Komunitas Ampas Kopi, Singaraja (juara III). Sebagian besar kelompok peserta telah menunjukan kesungguhannya berpartisipasi dalam lomba ini. Mereka telah menyiapkan tata busana dan tata panggung, yang dirangkaikan dengan tata gerak (koreografi) yang menunjukan nuansa kebalian, suatu ikhtiar yang patut diacungi jempol. Namun, kadangkala bila abai atau lalai dicermati ketiga elemen itu dapat mengaburkan penafsiran atas puisi, sehingga tidak tercapai keutuhan dan kebulatan puisi yang digubah menjadi musikalisasi puisi.

Suatu hal yang harus diterima dalam setiap gelaran lomba adalah ada kelompok terpilih dan ada pula kelompok yang tersisih. Yang membanggakan ketika melihat para peserta yang mengikuti lomba ini jauh hari selama berbilang bulan tetap dengan semangat menerima kenyataan akhir ini. Suatu hal yang menggirangkan saya adalah dapat memetik hikmah dan berkah dari setiap pertemuan dalam gelaran lomba musikalisasi puisi di Bali.

Pada kesempatan ini saya tidak akan melakukan evaluasi atas lomba musikalisasi secara khusus. Dari setiap gelaran lomba musikalisasi puisi tentu ada benang merah penilaian yang terbentang sekaligus mengikat setiap kelompok peserta. Selain tata-tertib lomba yang telah disepakati dengan penyelenggara, hal yang paling mendasar adalah pokok soal penafsiran atas puisi yang dialihkreasikan menjadi musikalisasi puisi.



Organisme

Puisi merupakan cerminan dari sebuah organisme yang membangun kompleksitas dunia, yang memungkinkan kita menghidupkan puisi itu melampaui zamannya - kita tidak sekadar bernostalgia dengan puisi yang ditulis penyair puluhan tahun lampau namun memberi konteks untuk zaman kita. Patut disadari bahwa sebagian besar khalayak masih tenggelam dalam romantisisme dalam memaknai pembacaan atau pertunjukan musikalisasi puisi, sekadar menjadi laku sang aku yang ingin dilihat (baca: ditonton) sehingga menimbulkan jurang yang menganga antara penampil, audien dan situasi kekinian.

Situasi dan makna yang terkandung dalam sebuah puisi dapat mengilhami penciptaan musikalisasi puisi dengan terang dan mantap. Pada pembacaan puisi atau deklamasi dari kuatrin sajak konvensional dengan tiga bait berirama a-a-b-b- c-c-d-d- e-f-e-f, misalnya, dapat mereguk unsur musik di dalamnya. Selain itu, warna vokal, artikulasi, ekspresi dan gestikulasi yang baik serta tepat, yang sesuai dengan isi dan maksud puisi menjadi hal yang penting dalam pencapaian optimal dari penampil. Modulasi suara, rheng, yang kuat ketika peserta membacakan puisi-puisi Bali adalah suatu contoh apik dalam menjelajahi unsur musikalitas puisi (walau tanpa dibantu instrumen musik).

Khusus pada musikalisasi puisi, musik diaransemen semata-mata untuk kepentingan puisi. Musikalisasi puisi bukanlah puisi yang sekadar diiringi musik atau puisi yang dilagukan. Dari beberapa peserta yang saya amati bahkan menjelajahi berbagai instrumen musik akustik untuk menghadirkan bebunyian alam seperti suara desau angin, air mengalir dan gemuruh guruh untuk membangun suasana yang terkandung pada sajak Goenawan Mohamad (GM), ''Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi''. Cukup banyak peserta yang memilih puisi karya GM menempuh tantangan yang luar biasa, bahkan GM sendiri dulu sempat mengakui bahwa puisi-puisinya sulit untuk dijadikan sebagai poetry performing, dibandingkan dengan puisi-puisi balada karya Rendra. Ikhtiar meramu puisi dan musik menjadi musikalisasi puisi nampak terus berkembang. Beberapa kelompok musikalisasi bahkan mencoba menjelajah beat-beat musik sejenis reggae.

Gagasan sastrawan dari desa Moding, Jembraba, Nanoq da Kansas yang selama ini banyak mencipta musikalisasi puisi, agar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali membuatkan album bagi kelompok musikalisasi puisi yang berprestasi sebagai apresiasi untuk komunitas sastra dan siswa di sekolah-sekolah se-Bali, patut direalisir secepatnya. Sayang sekali bila penampilan optimal sebuah kelompok musikalisasi puisi hanya berlalu begitu saja saat gelaran lomba berakhir. Paling tidak album musikalisasi puisi itu kelak dapat digunakan sebagai bahan work-shop di beberapa daerah sebagai bentuk bandingan yang mumpuni dari pencapaian sebuah kelompok musikalisasi.

Selama ini album musikalisasi puisi yang telah dirilis di Bali dikerjakan dan diayai secara swadaya. Sebut saja penyair Tan Lioe Ie yang menggubah sajak-sajaknya dan sjak-sajak Umbu Landu paranggi menjadi album musikalisasi puisi bertajuk ''Kuda Putih''. Tan Lioe Ie secara kosisten sampai saat ini mendorong gelaran pertunjukan musikalisasi puisi yang dirangkai dengan diskusi apresiasi seperti pada pentas dan diskusi Musikalisasi Puisi Kelompok "Senja Hening" yang dimotori Wendra Wijaya dan Risma Putri di markas Dapur Olah Kreatif (DOK), Warung Tresni, Sabtu (5/11) kemarin. Nun di utara Bali, Singaraja, Komunitas Mahima yang dimotori penyair Kadek Sonia Piscayanti juga banyak menyemai bibit kelompok musikalisasi puisi. Di bandingkan daerah lain di Indonesia, sepuluh tahun terakhir ini musikalisasi puisi mengalami pertumbuhan yang geitu pesat.



* Helmi Haska

Pecinta sastra dan pengamat seni budaya.





•     Jelang Tahun Baru Bersama Apoteker Kimia Farma
•     Wara Urwasi
•     Desa Penglipuran
•     Sanur
•     Kesenjangan Teks Subak dengan Konteks Bali (3)
•     Perempuan Melati
•     Permasalahan Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013
•     Natal dan Tahun Baru 2014
•     Aroma
•     Reklamasi, Begawan Bisma dan Baratayuda
•     Bantuan Tahap Kedua Rp 2,410 M
•     Di Ujung Pangkah
•     Tutur Susastra Serba Tuhan Tuhan Ke-u-Tuhan
•     Antara Kesederhanaan dan Kemapanan...
•     Momentum Harmoni Keindahan: Krulut
•     Siasat Khidir
•     Perdebatan Arjuna dalam Kakawin Arjuna Wiwaha
•     Guru dan Tantangan Masa Depan
•     Hidup Benar, Mati Benar
•     Manusa Vs Jelema
•     Ada Apa di Balik Kakawin Arjuna Wiwaha
•     Mendeteksi Kemampuan Siswa Didik
•     Pelukis Gelombang Laut
•     Pembelajaran Bahasa dalam Kurikulum 2013
•     Kiat Guru Menciptakan Siswa Sukses (1)
•     Air Mata di Pulau Tunda
•     Ke-Indonesiaan
•     Puisi dan Sumpah Pemuda
•     Kala Tiga, Jaya Tiga
•     Poros Dasar, Padma Tiga, Lempuyang
•     Memburu yang Tertinggal di Cagar Manggarai
•     Seekor Burung Parkit yang Terbang dari Sarangnya Yang fana adalah waktu.
•     Armijn Pane dan Sastra Indonesia
•     Puspa Tan Alum Padma Hati
•     Trotoar
•     Mendongeng Masa Kini
•     Puisi dan Lukisan
•     Setelah Sastra Menjadi Astra
•     Pohon Bambu di Kamarku
•     Ragam Bentuk
•     Peristiwa dan Kata
•     Makna di Balik Benda Sekeliling Kita
•     Bioskop di Kenya
•     Koplak
•     Cerita Tentang Ibu
•     Puisi dan Lukisan
•     Monolog Hutan Kota
•    
•     Anjing dan Bulan
•     Seekor Kecebong dan Sebutir Nasi
•     Bale Masigit dan Nubanara
•     KEBYAR
•     Catatan-catatan Tagore tentang Bali (2)
•     Bali: Kesenjangan Teks dengan Konteks
•     Sastra Kelautan di Tengah Materialisasi Budaya
•     Anomali Bayang Bayang
•     Labirin Bukit Gumang
•     Setelah Bali Berkepala Bandara
•     Bali: Masihkah Milik Bali?
•     Tumpek
•     SANGKIL
•     Biografi dan Fiksi
•     SUAP
•     Merah
•     Adu Ketangkasan Melestarikan Barong
•     Artis Seksi Nikita Dikeroyok
•     Dua Puluh Tatoo Tanda Cinta
•     Diantarai
•     PENTAS RAMAYANA
•     Kandik Pikul Alih Ileh-ileh
•     Utuh Penuh Seluruh, Prima Jiwa Raga
•     LUBANG HITAM
•     Dengan Kebenaran dan Kesucian, Seni Jadi
•     Sastra, Sungai, Peradaban
•     Romansa Perjalanan Esai Kecil Danau Toba Masih Menggoda...
•     LEMOT
•     Ampun
•     Manfaat Perpustakaan Sekolah
•     Landep
•     Kulkul Kubu, Kulkul Banjar
•     Bulur
•     Gilik Bunter: 10
•     Aksara
•     Gilik Bunter: 360
•     Sastra Mutakhir Kita
•     Mendengar yang Tidak Patut Didengar
•     Senja di Taman Sari
•     Wanoja
•     Kilometer Kemungkinan
•     Perempuan: Menulis dan Tulisan
•     Memahami Beragam Perbedaan Manusia
•     Lelaki dan Louhan Yanti Riswara Idris
•    
•    
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•    
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo
•     Kota-kota Beranda
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•    
•     Film
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Bul
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak