Untitled Document
» Apresiasi
Senin, 09 Oktober 2011 | BP
Srikandi Versus Bhisma
SEBAGAI pria normal kendati berusia uzur, Rubag tergiur menyaksikan gambar cewek-cewek mengenakan hot pan atau celana pendek di halaman depan Harian Bali Post, Selasa (4/10) lalu. Awalnya, dia mengira para wanita yang rata-rata mengenakan baju kaos putih, berpaha mulus dan berpotongan seksi tersebut adalah pekerja kafe yang berdemo karena belakangan banyak tempat hiburan malam digerebek oleh petugas tramtib dan organisasi kemasyarakatan. Ternyata dugaannya meleset setelah membaca teks di bawah gambar dan tulisan dalam spanduk serta pamflet yang dibawa para perempuan itu.
Itu semata karena naluri lelakiku menyaksikan tubuh-tubuh bahenol berbibir sensual dengan senyum menantang. Apalagi ada gambar jantung berwarna merah menyala terpampang di spanduk yang mereka bawa, yang kalau nggak salah kutafsir sebagai lambang cinta dan nafsu menggelegak. Akhirnya aku kecele dan malu sendiri! Ternyata mereka mengaku dari organisasi bernama Srikandi Antikorupsi. Cuma terkesan paradoks setelah membaca tulisan dalam spanduk dan pamflet yang mereka bawa. Jangan Fitnah Banggar! I Love Banggar DPR-RI! Berantas Korupsi-Yes, Fitnah-No! Ini terkesan aneh, ketika kebanyakan orang curiga terhadap Banggar DPR-RI yang diduga terlibat dalam kasus korupsi, khususnya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang terkuak baru-baru ini. Aku tidak tahu, apakah karena mereka ingin tampil beda dari kebanyakan orang atau ada sesuatu di balik demonstrasi itu, papar Rubag.
Aku juga lelaki, sama seperti kau, sempat pula berpikiran ngeres! Gambar jantung merah mirip warna gincu yang di zaman dulu sering dioles Marilyn Monroe di bibirnya membuat mataku ikut melotot. Namun setelah membaca kata-kata yang menyertai jantung itu, aku jadi loyo seperti laki-laki bernafsu besar bertenaga kurang. Sebab, aku sering mengikuti berita tentang perseteruan antara KPK versus DPR-RI khususnya Banggar di koran maupun televisi. Malah ketika muncul isu mogok pembahasan RAPBN gara-gara empat pimpinan Banggar dipanggil KPK, aku yang tadinya bersikap netral, akhirnya antipati terhadap mereka yang mengaku jadi wakil rakyat itu. Selain mereka tidak memenuhi panggilan KPK, malah para koleganya mengabaikan tugas utamanya sebagai legislatif, yakni membahas hak rakyat untuk mendapat kucuran anggaran di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dll sesuai bunyi konstitusi. Padahal gaji dan tunjangan mereka selangit ! Itulah sebabnya aku jadi loyo, sehingga wajah-wajah yang cantik kulihat merengesan, komentar Kama.
Aku justru curiga menyaksikan kehadiran wanita-wanita itu di kantor KPK seperti ditulis di koran. Apa ini bagian dari feminisme atau posfeminisme, tanyaku dalam hati. Karena penasaran membaca teks yang tertulis di bawah foto itu yang hanya sekelumit, aku berusaha mencari beritanya lebih lanjut di internet. Lucu dan aneh ! Di internet dikatakan, saat para wartawan menanyakan tujuan dan ikhwal demonstrasi pada Winda, yang dianggap juru bicara para pengunjuk rasa tersebut, konon hanya dijawabnya Tidak tahu ! Meski Banggar diketahuinya sebagai singkatan badan anggaran, namun dia kembali membisu ketika ditanya, bagian mana dari kasus Banggar itu yang diprotes. Walau berkali-kali ditanya maksud mereka membela Banggar, cuma sekali yang dijawab dengan Tak ada komentar ye! Rupanya para wanita tersebut menganggap paha-paha mereka yang mulus dan seksi dibalut jins-jins pendek setinggi pertengahan paha, merupakan jawaban yang lengkap, hahaha, ujar Kondra sembari terbahak.
Cewek-cewek bercelana pendek itu dikirim Banggar! Demikian konon tengara Hermawan Sulistiyo, yang sayangnya detail ceritanya tidak bisa kubuka di internet. Kalau sinyalemen itu benar, pertanyaanmu dalam hati bisa kujawab, bahwa demo yang dilakukan para cewek tersebut adalah wujud dari posfeminisme. Menurut Susan Faludi, gerakan posfeminisme yang direkayasa media muncul seiring dimulainya hak-hak wanita untuk memilih dan dipilih dalam Pemilu di Amerika Serikat. Gerakan ini justru ikut mencerca keberhasilan kaum perempuan dalam tuntutan kesetaraan gender yang ditandai dengan keterlibatan mereka di kantor-kantor publik. Berbagai pekerjaan dilakukan wanita, termasuk militer, teknologi dan astronot, yang disebut feminisme yang dimulai di tahun 1960-an. Dalam film pun banyak kisah keperkasaan perempuan dibuat, seperti The Cat Woman, Six Million Dollars Woman dan Charlie Angels. Bahkan ketika posfeminisme digulirkan tahun 1980-an, film Tomb Raider yang menampilkan tokoh Lara Croft yang diperankan Angelina Jolie sempat meraih box office, tutur Rubag.
Lalu apa hubungannya Lara Croft dengan cewek-cewek bercelana pendek itu dan posfeminisme? Aku juga nonton sampai dua kali Tomb Raider karena terpikat sensualitas tubuh Angelina Jolie dan kegesitannya dalam berkelahi seakan dia perempuan yang hebat di ranjang maupun dalam profesi sebagai petarung, sela Gading.
Kendati para cewek yang mendatangi kantor KPK tersebut tidak selincah Lara Croft dalam berkungfu, namun keberanian mereka perlu dihargai. Ketika sentimen masyarakat terhadap para koruptor dibakar media, khususnya TV, setiap saat dengan berbagai mata acara, cewek-cewek itu berani hadir di ruang publik dengan aspirasi berbeda. Kalau kebanyakan orang menghujat dan memaki para koruptor, mereka justru membela orang-orang yang diduga terlibat kasus korupsi. Bahkan mereka mendatangi kantor instansi yang berseteru dengan pihak yang mereka bela dengan pamflet Jangan Fitnah Banggar! Belum lagi penampilan mereka yang kalau bernasib apes, bisa berhadapan dengan OKP yang terkenal anti tubuh-tubuh perempuan yang terbuka, getol merazia minuman keras dan mengobrak-abrik tempat hiburan. Kalau bukan sebagai Lara Croft, Angelina Jolie dalam kehidupan nyata mungkin tidak berani berbuat seperti cewek-cewek berhotpan itu, sambung Rubag lagi.
Kalau dipikir-pikir, wanita-wanita bercelana pendek itu memang hebat dan bernyali gede ! Apalagi yang mereka demo instansi hukum yang berjulukan super body! Tidak rugi kelompok yang cuma terdiri dari belasan orang itu menamakan diri Srikandi Antikorupsi. Dalam Bharata Yudha, tokoh yang bukan lelaki juga bukan perempuan itu berhasil merajam tubuh tokoh sakti mandraguna, Rsi Bhisma dengan ribuan panah, sehingga jenazahnya tampak seperti tidur di atas ranjang panah, kata Tut Nang.
Sebenarnya Srikandi adalah wanita, putri raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Dia adalah reinkarnasi dari Dewi Amba, yang ditolak cintanya oleh Bhisma lalu bersumpah untuk membunuh lelaki yang dicintainya dalam kehidupan berikutnya. Karena itulah Srikandi, sejak kecil dididik sebagai laki-laki, baik dalam berbusana maupun berperilaku dan dilatih berperang. Namun ketika berhadapan dengan Bhisma di medan Kuruksetra, sifat wanitanya muncul melihat penampilan Rsi yang seakan enggan menghadapinya. Dia kasihan dan bersimpati. Lalu menyelinaplah Arjuna di belakang Srikandi sembari melontarkan ribuan panah ke arah Bhisma. Dalam pewayangan Jawa, Srikandi dikisahkan sebagai istri Arjuna. Nah, di balik Srikandi Antikorupsi pun ada ratusan Arjuna yang menentukan nasib Bhisma hukum alias KPK itu, kata Lonjong. (aridus)

•     Landep
•     Kulkul Kubu, Kulkul Banjar…
•     Bulur
•     Gilik Bunter: 10…
•     Aksara
•     Gilik Bunter: 360°….
•     Sastra Mutakhir Kita
•     Mendengar yang Tidak Patut Didengar
•     Senja di Taman Sari
•     Wanoja
•     Kilometer Kemungkinan
•     Perempuan: Menulis dan Tulisan
•     Memahami Beragam Perbedaan Manusia
•     Lelaki dan Louhan Yanti Riswara Idris
•     ‘’Melajah Negakang Jit’’
•     ’Ngundukang Indik’’
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•     ‘’Manusa Salah Laku’’
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan…
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah…
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik…
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo…
•     Kota-kota Beranda…
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air…
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha…
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan…
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata…
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni…
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan…
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•     “In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi
•     Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan…
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan...
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak