SEBAGAI pria normal kendati berusia uzur, Rubag tergiur menyaksikan gambar cewek-cewek mengenakan hot pan atau celana pendek di halaman depan Harian Bali Post, Selasa (4/10) lalu. Awalnya, dia mengira para wanita yang rata-rata mengenakan baju kaos putih, berpaha mulus dan berpotongan seksi tersebut adalah pekerja kafe yang berdemo karena belakangan banyak tempat hiburan malam digerebek oleh petugas tramtib dan organisasi kemasyarakatan. Ternyata dugaannya meleset setelah membaca teks di bawah gambar dan tulisan dalam spanduk serta pamflet yang dibawa para perempuan itu.
Itu semata karena naluri lelakiku menyaksikan tubuh-tubuh bahenol berbibir sensual dengan senyum menantang. Apalagi ada gambar jantung berwarna merah menyala terpampang di spanduk yang mereka bawa, yang kalau nggak salah kutafsir sebagai lambang cinta dan nafsu menggelegak. Akhirnya aku kecele dan malu sendiri! Ternyata mereka mengaku dari organisasi bernama Srikandi Antikorupsi. Cuma terkesan paradoks setelah membaca tulisan dalam spanduk dan pamflet yang mereka bawa. Jangan Fitnah Banggar! I Love Banggar DPR-RI! Berantas Korupsi-Yes, Fitnah-No! Ini terkesan aneh, ketika kebanyakan orang curiga terhadap Banggar DPR-RI yang diduga terlibat dalam kasus korupsi, khususnya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang terkuak baru-baru ini. Aku tidak tahu, apakah karena mereka ingin tampil beda dari kebanyakan orang atau ada sesuatu di balik demonstrasi itu, papar Rubag.
Aku juga lelaki, sama seperti kau, sempat pula berpikiran ngeres! Gambar jantung merah mirip warna gincu yang di zaman dulu sering dioles Marilyn Monroe di bibirnya membuat mataku ikut melotot. Namun setelah membaca kata-kata yang menyertai jantung itu, aku jadi loyo seperti laki-laki bernafsu besar bertenaga kurang. Sebab, aku sering mengikuti berita tentang perseteruan antara KPK versus DPR-RI khususnya Banggar di koran maupun televisi. Malah ketika muncul isu mogok pembahasan RAPBN gara-gara empat pimpinan Banggar dipanggil KPK, aku yang tadinya bersikap netral, akhirnya antipati terhadap mereka yang mengaku jadi wakil rakyat itu. Selain mereka tidak memenuhi panggilan KPK, malah para koleganya mengabaikan tugas utamanya sebagai legislatif, yakni membahas hak rakyat untuk mendapat kucuran anggaran di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dll sesuai bunyi konstitusi. Padahal gaji dan tunjangan mereka selangit ! Itulah sebabnya aku jadi loyo, sehingga wajah-wajah yang cantik kulihat merengesan, komentar Kama.
Aku justru curiga menyaksikan kehadiran wanita-wanita itu di kantor KPK seperti ditulis di koran. Apa ini bagian dari feminisme atau posfeminisme, tanyaku dalam hati. Karena penasaran membaca teks yang tertulis di bawah foto itu yang hanya sekelumit, aku berusaha mencari beritanya lebih lanjut di internet. Lucu dan aneh ! Di internet dikatakan, saat para wartawan menanyakan tujuan dan ikhwal demonstrasi pada Winda, yang dianggap juru bicara para pengunjuk rasa tersebut, konon hanya dijawabnya Tidak tahu ! Meski Banggar diketahuinya sebagai singkatan badan anggaran, namun dia kembali membisu ketika ditanya, bagian mana dari kasus Banggar itu yang diprotes. Walau berkali-kali ditanya maksud mereka membela Banggar, cuma sekali yang dijawab dengan Tak ada komentar ye! Rupanya para wanita tersebut menganggap paha-paha mereka yang mulus dan seksi dibalut jins-jins pendek setinggi pertengahan paha, merupakan jawaban yang lengkap, hahaha, ujar Kondra sembari terbahak.
Cewek-cewek bercelana pendek itu dikirim Banggar! Demikian konon tengara Hermawan Sulistiyo, yang sayangnya detail ceritanya tidak bisa kubuka di internet. Kalau sinyalemen itu benar, pertanyaanmu dalam hati bisa kujawab, bahwa demo yang dilakukan para cewek tersebut adalah wujud dari posfeminisme. Menurut Susan Faludi, gerakan posfeminisme yang direkayasa media muncul seiring dimulainya hak-hak wanita untuk memilih dan dipilih dalam Pemilu di Amerika Serikat. Gerakan ini justru ikut mencerca keberhasilan kaum perempuan dalam tuntutan kesetaraan gender yang ditandai dengan keterlibatan mereka di kantor-kantor publik. Berbagai pekerjaan dilakukan wanita, termasuk militer, teknologi dan astronot, yang disebut feminisme yang dimulai di tahun 1960-an. Dalam film pun banyak kisah keperkasaan perempuan dibuat, seperti The Cat Woman, Six Million Dollars Woman dan Charlie Angels. Bahkan ketika posfeminisme digulirkan tahun 1980-an, film Tomb Raider yang menampilkan tokoh Lara Croft yang diperankan Angelina Jolie sempat meraih box office, tutur Rubag.
Lalu apa hubungannya Lara Croft dengan cewek-cewek bercelana pendek itu dan posfeminisme? Aku juga nonton sampai dua kali Tomb Raider karena terpikat sensualitas tubuh Angelina Jolie dan kegesitannya dalam berkelahi seakan dia perempuan yang hebat di ranjang maupun dalam profesi sebagai petarung, sela Gading.
Kendati para cewek yang mendatangi kantor KPK tersebut tidak selincah Lara Croft dalam berkungfu, namun keberanian mereka perlu dihargai. Ketika sentimen masyarakat terhadap para koruptor dibakar media, khususnya TV, setiap saat dengan berbagai mata acara, cewek-cewek itu berani hadir di ruang publik dengan aspirasi berbeda. Kalau kebanyakan orang menghujat dan memaki para koruptor, mereka justru membela orang-orang yang diduga terlibat kasus korupsi. Bahkan mereka mendatangi kantor instansi yang berseteru dengan pihak yang mereka bela dengan pamflet Jangan Fitnah Banggar! Belum lagi penampilan mereka yang kalau bernasib apes, bisa berhadapan dengan OKP yang terkenal anti tubuh-tubuh perempuan yang terbuka, getol merazia minuman keras dan mengobrak-abrik tempat hiburan. Kalau bukan sebagai Lara Croft, Angelina Jolie dalam kehidupan nyata mungkin tidak berani berbuat seperti cewek-cewek berhotpan itu, sambung Rubag lagi.
Kalau dipikir-pikir, wanita-wanita bercelana pendek itu memang hebat dan bernyali gede ! Apalagi yang mereka demo instansi hukum yang berjulukan super body! Tidak rugi kelompok yang cuma terdiri dari belasan orang itu menamakan diri Srikandi Antikorupsi. Dalam Bharata Yudha, tokoh yang bukan lelaki juga bukan perempuan itu berhasil merajam tubuh tokoh sakti mandraguna, Rsi Bhisma dengan ribuan panah, sehingga jenazahnya tampak seperti tidur di atas ranjang panah, kata Tut Nang.
Sebenarnya Srikandi adalah wanita, putri raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Dia adalah reinkarnasi dari Dewi Amba, yang ditolak cintanya oleh Bhisma lalu bersumpah untuk membunuh lelaki yang dicintainya dalam kehidupan berikutnya. Karena itulah Srikandi, sejak kecil dididik sebagai laki-laki, baik dalam berbusana maupun berperilaku dan dilatih berperang. Namun ketika berhadapan dengan Bhisma di medan Kuruksetra, sifat wanitanya muncul melihat penampilan Rsi yang seakan enggan menghadapinya. Dia kasihan dan bersimpati. Lalu menyelinaplah Arjuna di belakang Srikandi sembari melontarkan ribuan panah ke arah Bhisma. Dalam pewayangan Jawa, Srikandi dikisahkan sebagai istri Arjuna. Nah, di balik Srikandi Antikorupsi pun ada ratusan Arjuna yang menentukan nasib Bhisma hukum alias KPK itu, kata Lonjong. (aridus)