DALAM MEMAHAMI hidup ini terlalu banyak yang perlu direnungkan. Mulai dari keseharian perjalanan hingga simbol-simbol sebagai kehendak dan kuasa alam. Ibarat bangunajn mungkin inilah sendi-sendi kehidupan yang menjadi dasar keteguhan jiwa dalam melakoni dinamika kehidupan.
Sayangnya dewasa ini kita telah dimanjakan dengan berbagai prilaku, berbagai produk budaya, teknologi sehingga jiwa kita tenggelam dalam modernisasi intelektual yang konsumtif, bahkan enggan mereproduksi produk lama yang telah dicap ketinggalan dan telah terkubur oleh masa lampau yang kelam. Kita lupa bahwa masa kini ada karena masa lampau, dan masa kini akan membawa menuju masa depan yang diharapkan lebih baik dari sebelumnya. Semangat keseharian masa lampau penuh perjuangan hidup yang harus diwariskan ke generasi demi generasi kendati untuk menyiasati masa kini yang penuh kemudahan dan kemanjaan.
Di zaman Raja Ida Dalem Waturenggong, pernah terjadi tuntutan rakyat Bali Aga yang menginginkan Pura Besakih lebih dihargai, untuk dijadikan tempat persembahyangan umum, karenanya beliau memprakarsai perluasan Pura Besakih sehingga menjadi pusat persembahyangan umat Hindu Bali. Beliau juga memberi berkembangnya budaya Islam Jawa yang semula berkehendak mengislamkan raja namun gagal, dan hingga kini kesenian rudat masih berkembang di Kampung Gelgel. Di bidang kerohanian beliau menerima ajaran pendeta Dang Hyang Nirarta, yang semuanya memperkaya khazanah budaya budaya Bali waktu itu tanpa kehilangan identitas dirinya. Semua ini tentu karena rasa saling memerlukan, dan keikhlasan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan.
DALAM BIDANG BUDAYA, setelah zaman Gelgel, Klungkung dahulu adalah pusat adat-istiadat Bali. Aturan keagamaan dijalankan betapa mestinya di bawah kendali Kerajaan Klungkung, sebagai penerus dinasti Swecapura. Hukum ditegakkan atas dasar kejujuran dan keyakinan hidup. Balai Kerta Ghosa dengan Taman Gilinya menjadi saksi keagungan adat dan budaya di masa lampau. Bahkan tak kurang hasil bumi rakyat pun dapat diketahui lewat Balai Kerta Ghosa ini.
EKSISTENSI Klungkung sejak Kerajaan Swecapura di Gelgel, dan berlanjut di Semarapura merupakan simpul-simpul religiusitas yang mesti dipelihara semangatnya hingga dewasa ini, karena tindakan yang dilakukan cenderung lebih memberi penghargaan kepada kehendak rakyat, upaya pencapaian keadilan dan kedamaian seperti yang disampaikan dalam tuntunan dalam bentuk tontonan pengejawantahan kitab itihasa seperti Mahabharata, Ramayana, dan kitab Niti Sastra lainnya.
Kejayaan Klungkung berakhir dengan perang puputan tahun 1906. Puputan menjadi pilihan karena kata-kata telah kehilangan kekuatannya. Orang sudah tidak mau lagi mendengar dengan telinganya, orang sudah tidak mau lagi melihat dengan matanya. Telinga dan mata telah kehilangan rasa. Maka badan sebagai penyangga sang jiwa harus merasakannya. Inilah yang membuat adu fisik terjadi.
Di tengah kehidupan yang makin kompleks dan makin syaratnya kepentingan, setelah 103 tahun kisah puputan terlewati, dan 66 tahun kemerdekaan Republik ini, apakah kita telah menemukan jati diri. Apakah kita telah menemukan apa yang kita cari, atau setidaknya telah tahu apa yang kita cari? Konon agama mengajarkan bahwa semasa hidup kebahagiaan dunia adalah tujuan, atau masyarakat adil dan sejahtera seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sesungguhnya apakah kita memahami yang bagaimana rupa dan rasa kebahagiaan atau masyarakat adil dan sejahtera itu, karena ternyata selama hidup tak pernah berhenti dengan gejolak. Gejolak-gejolak itu timbul karena kita berbuat, karena kita punya keinginan dan ini suatu keharusan. Itu sebuah cita-cita. Bahkan bagi Vivekananda menyatakan: ''Jikalau manusia dengan cita-citanya membuat seribu kali kesalahan, maka manusia yang tanpa cita-cita akan membuat lima puluh ribu kesalahan. Oleh sebab itu lebih baik orang mempunyai cita-cita''. Ini sebuah renungan. Memiliki cita-cita, mengetahui diri sendiri adalah jiwa yang luhur. Tanda kebaikan yang ada pada setiap orang, yang dapat memberi kebahagian pada setiap orang dan pada diri sendiri inilah yang membedakan manusia dengan pohon-pohon dan batu-batu yang menemani kehidupan manusia. Tak akan ada kebahagiaan tanpa usaha dan perbuatan. Betapa sulitnya memang memberi arti bahwa tantangan hidup itu adalah sebuah kebahagiaan, karena sebagian besar kita mengartikan tantangan itu adalah ujian yang terus-menerus yang terasa tiada pernah memberi hasil akhir sebuah kebahagiaan. Hidup ini hanyalah perjalanan, seperti halnya bumi yang terus berputar dalam dirinya mengikuti garis edar yang diatur.
Manusia mengenal baik dan buruk, mengenal salah dan benar, mengenal pikir dan rasa, dan cara-cara kehidupan itulah yang menjadi cirri-ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk lainnya di bumi ini.
Peringatan puputan adalah ciri pemberian penghargaan kepada sang perwira yang telah mengorbankan jiwa raganya demi ibu pertiwi dan martabat diri. Kehidupan manusia Bali memang lebih menghargai spiritual daripada kebendaan. Kitab-kitab suci menyiratkan bahwa kehidupan di alam baka lebih utama daripada alam maya. Seorang ksatria yang menang perang akan puas menikmati kekuasaan, keuntungan dan keberaniannya, namun penghormatan yang dipersembahkan kepadanya jauh lebih terasa setelah wafatnya. Oleh karenanya tak ada alasan kita berpikir bahwa peringatan puputan adalah peringatan kekalahan. Semangat puputan harus menjadi simpul pengukuhan martabat diri, dan martabat bangsa. Kesetiaan dan kesadaran jiwa kepada Ibu Pertiwi yang telah memberi kehidupan. Selamat dan Semangat Hari Puputan Klungkung ke-103.