» Apresiasi Senin, 31 Oktober 2010 | BP Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu... OKTOBER BULAN yogashastra. Mitos sasih kapat alias karttikamasa yang entah dihembuskan oleh siapa pada mulanya, sekarang telah menjadi cerita milik bersama: sesama penganut aksara, dan sesama pemeluk shastra.
SIAPA ITU orang yang menjadi penganut aksara dan pemeluk shastra?
Tidak perlu siapa, yang penting apa yang dilakukan oleh seorang penganut aksara dan pemeluk shastra. Tidak berbeda dengan pemeluk agama yang melakukan ritual, penganut aksara pemeluk shastra pun melakukan ritualnya sendiri.
BAGAIMANA RITUAL para penganut aksara pemeluk shastra itu? Tidak beda dengan pemeluk agama yang dengan berbagai sarana upacara mendekatkan dirinya dengan Pencipta dirinya, begitu pula penganut aksara pemeluk shastra. Ritualnya adalah mendekatkan diri pada Pencipta bersaranakan tubuh mereka sendiri.
BEDANYA, barangkali, kalau agama bisa dan sering dirayakan rame-rame di tempat tertentu, aksara dan shastra dirayakan secara sepi-sepi sunyi di tempat tidak mesti tertentu.
Kalau perayaan agama dapat diketahui dari pakaian dan dekorasi lainnya, perayaan aksara dan shastra tidak langsung bisa diketahui karena tidak ada busana dan dekorasi tertentu. Tubuh itu sendiri konon busana.
JANTUNG, hati, limpa, paru-paru itu adalah dekorasi yang tidak kelihatan karena dibungkus busana tak tembus pandang. Barangkali masih ada banyak perbedaan lainnya, begitu pula barangkali masih ada banyak persamaan lainnya. Tapi biarlah nanti orang lain saja yang menghitung berapa jumlah perbedaan dan persamaannya. Yang jelas, ingin saya katakan, bahwa bukan hanya agama yang dianut dan dipeluk, tapi juga aksara dan shastra bisa dianut dan dipeluk.
PEMELUK AGAMA yang sejati pastilah ia seorang penganut aksara dan pemeluk shastra sekaligus. Tapi seorang penganut aksara pemeluk shastra belum tentu adalah seorang pemeluk agama tertentu.
MISALNYA, renungkanlah pertanyaan sederhana ini: apa kira-kira agamanya Dang Hyang Nirartha?
Konon ia lahir dan dibesarkan di lingkungan orang tua penganut Buddhapaksa. Di Bali ia mengembangkan Shiwapaksa. Di Lombok mengajarkan agama Waktu Telu yang terasa jelas keislamannya.
TIDAK USAH DIJAWAB sekarang apa kira-kira agamanya. Hanya untuk direnungkan, bahwa ia yang dipastikan sebagai seorang penganut aksara dan pemeluk shastra tidak membuat dirinya susah dengan bentuk-bentuk agama.
DENGAN PEMBACAAN TERBALIK, bahan renungan itu bisa kita pahami, bahwa hanya orang yang tidak beraksara dan tidak bershastra yang mengkakukan dirinya dengan bentuk-bentuk agama, dan termasuk bentuk ritualnya.
Dengan kata polos-polosan, kita simpul-simpulkan, bahwa penganut aksara pemeluk shastra lebih mengarahkan dirinya ke isi, sementara penganut agama institusional lebih diarahkan oleh institusinya untuk bertahan di bentuk untuk menjaga bentuk, mempertahankan bentukt, dan bila perlu berani mati demi nindihin bentuk-betuk itu.
TAPI ITU BARU SEKADAR bahan renungan. Jangan dibuat susah. Dan jangan terlalu dibawa jauh-jauh. Aksara dan shastra memang pertama-tama mengajak orang berani merenung. Bila perlu merenung dengan cara terbalik. Seperti seorang petani yang sambil bekerja, terus belajar membulak-balikkan tanah sebelum akhirnya ditanami entah apa oleh dirinya.
KALAU SEANDAINYA seorang petani, karena rasa sayangnya pada tanah, akhirnya tidak berani membalikkan tanah dengan cara mencangkulinya, lalu apa yang bisa ia tanam, dan apa yang kelak akan dia petik, dan apa yang akan ia makan?
AGAMA INSTITUSIONAL cenderung membuat kita memuja bentuk secara membabi buta. Sama ironisnya dengan petani yang memuja tanah tapi tak berani mencangkuli tanahnya, padahal mencangkul dan membulak-balikkan tanah adalah bentuk pemujaan tanah itu sendiri.
Akan sama ironisnya dengan orang yang karena rasa bhaktinya pada atma, lalu tidak berani belajar menaik-turunkan atmanya sendiri, bagaimana mungkin ia akan lulus dalam pelajaran pertama ilmu kelepasan? Begitu konon kata buku-buku.
INI HANYA BAHAN RENUNGAN, jangan dibuat susah dulu. Kita harus menghargai apa yang kita warisi dari masa lalu justru dengan cara berani membulak-balikkannya.
Tapi yang namanya keberanian, memang bukan sesuatu yang akan didapatkan begitu saja. Berani itu juga perlu dipelajari lama sekali melalui jatuh bangun berkali dan berkali. Berani itu ikhlas.
ibm. dharma palguna
•
‘’Melajah Negakang Jit’’ •
’Ngundukang Indik’’ •
Cerita-cerita dari Loteng •
KEN DEDES •
CERCAK •
Budaya Teknologi •
‘’Manusa Salah Laku’’ •
Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan… •
Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah… •
Kaung Bedolot •
Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa •
Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa •
Bertemu sang Guru Jati •
Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta •
BAHASA BUNGA •
Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan •
Gumam Tengah Malam •
Palsu •
Gumam Tengah Malam •
Tapanuli, Tepian yang Cantik… •
Perempuan •
CAHAYA UNTUK TIDORE •
Indonesia Beraksara! •
Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang •
Gumam Tengah Malam... •
Pikiran: Lubang Jarum Waktu... •
Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu •
Penunggu Pagi •
Subak di Mata Miguel Covarrubias •
Menepi Air, Memuncak Gunung •
Koloni Semut •
Bokong •
Banjir •
Koloni Semut •
Bahasa: Referensi dan Godaan •
Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia •
Gorontalo… •
Kota-kota Beranda… •
Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air… •
Anak Panah Menembus Jantung •
Perempuan •
Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha… •
Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan… •
Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata… •
Sastrawan dan Profesionalismenya •
Memahami Ki Hadjar Dewantara •
Kabut •
Kota Harmoni… •
Sebuah Jam Tak Padam •
Bahasa Air: Bergerak ke Depan… •
Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim •
Bianglala... •
Nur •
Buku Antologi Puisi Denpasar •
Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif •
Telur Bebek •
Hasan Al Banna •
“In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi •
Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan •
Di Dalam Rumah... •
Sepeda "Onthel" •
Interlokal •
Menghayati Hidup di Kampung Bajo •
Imajinasi Turisme •
Yogya-Denpasar... •
Menghayati Hidup di Kampung Musi... •
Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012 •
Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012'' •
Perempuan dan Pohon •
Puisi dalam Tubuhmu •
Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’ •
Mantra Ombak •
Daya Bahasa: Hening Utama... •
CERPEN •
Binasa Bersama Bahasa •
Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka •
Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya... •
Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh... •
Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa... •
Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara" •
Bahasa: Mendengar dengan Benar •
Layang-layang Berekor Naga •
Layang-layang Berekor Naga •
Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat •
Kapat: Bunga, Bungah, Bingar •
Sastra Digital •
Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia •
Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia •
Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi... •
Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik... •
Palungan Batu Perempuan Tua •
Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca •
Jam Kosong •
Menerima Tilem 17 Agustus ... •
Puasa dan Kemerdekaan… •
Peti Mati •
Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada •
Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada... •
Panah Kata Sang Guru •
Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru •
Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru •
Sungkalabasa •
Sastra Interdisipliner •
Putri Malam •
Bersandar •
Sastra, Medium Refleksi •
Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat... •
12-isme: Spiral Kewaktuan... •
Ng Di Tengah Bangli... •
Hadiah bagi Tubuh... •
Campuhan Windhu Sagara... •
Ratu Ayu Manik Blabur •
Nenek dengan Dua Kendi •
Ratu Ayu Sunaring Jagat... •
Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun.... •
Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah •
Nini Ratna Pulang •
Empat (4) Sajak Muhamad Aswar •
Surat dari Negeri Asing •
Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...) •
Belum Optimal Mengolah Cerita •
Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar •
Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia... •
Enteg, Degdeg, Tegteg... •
Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh... •
Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari... •
Rindu Hening Sang Bayi... •
Belajar Melek Mpu Tanakung... •
Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan... •
Membaca Manusia dan Rembulan (3) •
Tutur Sahaja dari Kubutambahan •
Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua •
Kesantunan + Kedalaman + Keluasan... •
Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?... •
Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat •
Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender •
Senja •
Patung Perempuan •
Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional •
Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina •
Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra •
* Pusat Getaran yang Menggetarkan •
MENUNGGU PETANG SINGGAH •
Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud •
Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali •
Pulang •
Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus •
Gatot Brajamusti Buat Film •
KELASI MUDA •
Menikmati Alih Media Sastra ke Film •
Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali •
Putri •
Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan... •
Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah... •
Srikandi Versus Bhisma •
Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ... •
* Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ... •
JENDELA RUMAH URBAN •
Persimpangan Waktu •
Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)... •
Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4) •
Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali •
Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)... •
Pesan Drupadi pada Negeri... •
Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1) •
Luka di Kulit Kayu... •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7) •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8) •
Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6) •
Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5) •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6) •
Sajak Sajak •
Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara •
Senja •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)... •
Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)... •
ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan •
Bali Menolak Bus Besar •
Tamu Tak Diundang •
Seluruh Penjuru Sempurna... •
Berharap Terjadi Sebuah Perubahan... •
Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir... •
I Kadek Surya Kencana •
Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh •
Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula •
Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup •
Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu •
Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011 •
Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni •
Aneka Tari Bali Memukau •
Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi •
* Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB •
Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan... •
Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu... •
Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian... •
Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII •
LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI •
Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...) •
Keindahan Bola Kerelaan Melepas... •
Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong... •
Kloning •
Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan... •
Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali... •
Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup •
De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang •
DENDANG DI PENULISAN •
Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup •
Malam Chairil Anwar di Singaraja •
Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh... •
Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh... •
Hidangan di Pagi Buta •
Di Rusuk Kebun Teh •
Membaca Bali dari Nusa Ceningan •
Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta •
Regresi Human Male •
Raudal Tanjung Banua •
KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI •
Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi... •
Rebung •
Pelurusan Arti bagi Bumi •
Kesabaran Inti Spiritualitas •
Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago •
Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi... •
Faizal Syahreza •
Realisasi Mantra Suara Aksara •
Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana •
Pablo Neruda Menjaga Hening •
DENPASAR FESTIVAL •
Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari •
Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali •
Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial •
Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan •
Dari Kaki Memahami Kepala •
DENPASAR FESTIVAL •
Sepanjang Jalan Bukan Kenangan •
Seloka Upacara Sawah •
Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres •
Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang... •
Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén •
Marah itu Sayang •
CEMAS TETAS •
Buleleng - Probolinggo P.P •
Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama... •
Deburan Keindahan Kekuatan... •
Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan •
"Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini •
Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi •
Orang Pesisir Utara •
Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda •
Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau... •
KALAU DUKA BERTAMPUK •
MENCATAT KELUH IBU •
Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri •
Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan •
PADA HUJANLAH •
Hukum Sungai... •
Epilog •
Esensi Pembelaan... •
Waktu Solilokui •
Oleh Agung Bawantara •
Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa •
Sungai dan Orang Arti Menyeberang •
KALAU DUKA BERTAMPUK •
USIA •
Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga... •
Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu... •
Menjual Barang Hasil Oplosan •
Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan... •
Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan... •
Dalam Sehelai Daun •
Puncak Capaian... •
Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama •
Kubiarkan Kata •
Sejatinya Zona Anugerah •
Sejati Luar Dalam Bahasa •
Pemilik Kastil Batu •
Merefleksi Gandhari •
Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar... •
aku ingin rumah ini segera sepi •
Sangkan Paraning Dumadi •
Puput Awan...Klimaks Ketegangan... •
Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata... •
Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan... •
Yang Terurai di Kecipak Pagi •
Kau Tak Terpahami •
Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis... •
Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis... •
Pemujaan Sunyi •
Zinda Ruud Purnama •
Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis... •
Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis? •
Lentera Temaram •
Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana... •
PENARI PANTAI MENDIRA •
FSRD ISI Pameran Seni di Australia •
Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai •
Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati... •
Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak •
Lentera Temaram •
PURA •
AMLA •
Dan Gelombang Sensor Diri •
Nur Wahida Idris •
Separuh Pikiran Sebuah Buku •
Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring •
Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri •
Representasi Persepsi Kehidupan Mistis... •
YUGEK •
Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya... •
Dari Pintu ke Pintu •
Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan •
Yang Asing Membeku Budhi Setyawan •
Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu... •
Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)... •
Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam •
Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah... •
17 Lilin di Anggurmu •
Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci... •
Tradisi di Ubun-ubun Jagat... •
SANG HYANG BATUR BALI •
Moksa •
Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik •
Tengah Malam : hujan di pesanggaran •
JANJI SAKRAL CINTAMANI •
Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis •
KONTEMPLASI •
SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI •
Wajah Wajah... •
Jarak... •
Pelajaran dari Batur (Atas) •
Pelajaran dari Batur (Bawah) •
SELAIN HUJAN •
DINI HARI •
BANG BANG BANG(LI) •
Di Jendela •
Zinda Ruud Purnama •
PERTANYAAN DARI TENGGARA •
NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG •
NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN •
Cerita Murung dari Laut •
Raudal Tanjung Banua •
Simalakama Budaya... •
NUSA PENIDA: PEMUTIHAN •
Bahan Renungan Pusat Kehidupan... •
KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN •
PENYELAMAT BUDAYA... •
MENARI SALSA •
DUA PENGARANG SINGARAJA... •
SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT... •
SANG(G)A LANGIT... •
PERTAPAAN EMBRIO •
PERTAPAAN AIR •
Nuryana Asmaudi SA MB •
SINGA DI TENGAH PASAR... •
HARMONI BUAS DAN LIAR... •
Restu Pasar...Kembali ke Pasar •
Budaya Kota...KOTA BUDAYA... •
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain •
Raudal Tanjung Banua •
Sihir Pasar...Pasar Api... •
Dua Arus Besar...Pasar Agung... •
Budaya Pasar ...Pasar Budaya... •
Denpasar dan Manusia Pasar •
Pasar dan Denpasar •
Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata •
Tagore di Gianyar •
Raudal Tanjung Banua •
Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura •
Musuh •
Bakau •
GALILEO GALILEI •
TAMU YANG MENETAP •
Penemu Bali...PENEMU UBUD •
Ibadah Hari Hujan •
Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM •
Perayaan Ibu (II) •
Sepuluh Ribu Rupiah •
Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana... •
Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita? •
Perayaan Ibu (I) •
Perayaan Ibu (II) •
Feminisme Dalam Koin... •
ANAK PEREMPUAN •
Naga Hitam •
Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu •
TEMBANG BUMI •
Tentang Bumi dan Ibu •
Kado buat Pak Guru •
Tentang Lelaki dan Ibunya... •
Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya •
Rotary Peduli Anak-anak •
Permainan Sunyi (2) •
Ketika Guru Menjadi Selebritis... •
Permainan Sunyi (1) •
Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar... •
Kadek Wara Urwasi •
Antara Tiga (3) Kediri... •
Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda... •
Nyanyian (Pasar) Kodok... •
TENUNG RINDU