Untitled Document
» Apresiasi
Senin, 29 Agustus 2010 | BP
Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
YANTRA adalah satu sarana untuk memusatkan pikiran dalam praktik latihan ritual yoga, samadhi, meditasi. Bentuk Yantra bisa bermacam-macam disesuaikan dengan tujuan. Salah satu bentuk Yantra adalah bunga padma. Bunga yang satu ini termasuk sangat digemari oleh para spiritualis dan ritualis karena berbagai alasan. Itu pula barangkali sebabnya, mengapa bunga misterius ini dalam shastra disebut dengan berbagai nama. Selain padma, bunga ini umum disebut pangkaja, tunjung, terate, seroja. Pendek kata, bunga satu ini diapresiasi sangat tinggi karena kualitasnya.

Dari padma-yantra itu, sekarang kita alihkan perhatian ke Pulau Bali. Apakah Pulau Bali ini pernah dijadikan sebuah yantra, sehingga bentuk mistis pulau satu ini digambarkan seperti sekuntum bunga padma?

PERTANYAAN ITU tentu masuk akal. Karena bentuk mistis pulau Bali memang digambarkan seperti bunga padma, sedangkan bunga padma seperti disebutkan di atas adalah salah satu bentuk yantra yang digemari.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, terlebih dahulu kita lihat bagaimana bentuk padma yang dipilih sebagai gambar Bali itu. Seperti telah diketahui, bentuk padma yang dipilih kurang lebih sebagai berikut.

Dalam bunga padma itu ada satu lingkaran pusat, tempat serbuk sarinya berkumpul. Lingkaran pusat itu dikelilingi oleh empat ''kelopak-dalam'' yang masing-masing menghadap ke empat penjuru angin. Di luar yang empat itu, ada delapan ''kelopak-luar'' yang masing-masing menghadap ke delapan penjuru angin.

Itulah bentuk padma yang dipilih dari berbagai bentuk padma yang ada dan yang dikenal. Padma itu adalah sebuah konsep yang ada dalam pikiran dan pandangan.

Bagaimana konsep abstrak itu diterapkan dalam Bali yang nyata secara geografis? Penerapannya secara singkat seperti berikut ini.

LINGKARAN pusat padma adalah Pura Besakih. Empat kelopak dalam, atau catur lawa adalah empat pura yang mengelilingi Pura Besakih, yaitu: Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Ulun Kulkul, dan Batu Madeg. Sedangkan delapan kelopak luar, atau asta dala, adalah delapan pura jagat yang tersebar seperti sebuah lingkaran besar, yaitu: Lempuyang (timur), Gualawah (tenggara), Andakasa (selatan), Uluwatu (baratdaya), Batukaru (barat), Pucakmangu (baratlaut), Batur (utara) dan kembali Besakih (timur laut).

PETA INI juga disebut Dewata Nawa Sanga, lengkap dengan masing-masing dewanya, warnanya, senjatanya, dan silabel sucinya. Apabila bunga padma mistis itu kuncup, maka dibayangkan semua dewa di semua penjuru kembali ke pusat, dan bersatu di Besakih. Pada saat bunga padma itu mekar, dewa-dewa itu dibayangkan kembali ke wilayah-wilayahnya masing-masing.

BEGITULAH sekilas konsep Padma Bhuwana dan penerapannya di Bali. Mengapa para yogi dan yang selevelnya zaman dahulu meletakkan kerangka dasar Bali seperti itu? Kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pas untuk pertanyaan ini. Kebanyakan dari kita masih menduga-duga dengan referensi masing-masing.

SALAH SATU dugaannya, karena barangkali memang seperti padma itulah mereka melihat Bali dalam samadhinya, dalam meditasinya, dalam renungannya, dalam mimpinya, dan dalam sadarnya. Dugaan ini bisa membenarkan asumsi bahwa gambar padma Bali dulunya adalah sebuah Yantra. Sekarang pun, orang bisa memistiskan jagat Bali sebagai bunga padma dalam latihan meditasinya.

Kita memang bisa berdiskusi panjang, apakah padma itu adalah gambar yang sudah ada dalam pikiran mereka yang dibawa dari sononya, dan kemudian dipasangkan untuk Pulau Bali? Apakah gambar padma itu tidak bisa dipasangkan di Jawa, atau di Lombok?

DISKUSI ITU akan semakin menarik bila ditambahkan materi yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini.

Bagaimana kira-kira perdebatan para intelektual zaman itu, sehingga melahirkan kesepakatan tentang pura-pura tertentu yang merepresentasikan masing-masing kelopak padma?

APA KIRA-KIRA pertimbangannya, mengapa pura-pura yang merepresentasikan padma itu hampir setengahnya ada di Bali Timur, atau Karangasem?

Apakah kira-kira teori keseimbangan yang dilambangkan oleh masing-masing kelopak itu, ketika dipasangkan dengan cara lebih berat di timur, akan juga melahirkan keseimbangan Bali ke depannya secara mistis?

PERTANYAAN SEPERTI ITU masih bisa diperpanjang, terutama bila kita melihat perkembangan Bali sekarang sebagai pulau Hindu di tengah lautan Islam, sebagai pulau pariwisata di tengah samudera global, sebagai pulau ''hidup'' yang bergolak dan berubah dari dalam dirinya. Kondisi dan situasi Bali seperti sekarang ini akan menyebabkan munculnya ''kantog-kantong'' yang tidak lagi bisa dimasukkan dalam gambar Padma Mandala itu. Atau, bisa dimasukkan dengan berbagai cara, namun akhirnya akan menjadikan gambar padma yang kelopaknya di sana-sini seperti robek terkoyak.

PERTANYAAN-PERTANYAAN di atas bukanlah PR yang mesti segera dikerjakan, tapi hanya dalam renungan bagi mereka yang bisa meromantismekan Bali dalam dharma-wacananya. Karena itu sama-sama mengetahui, bahwa padma bukanlah satu-satunya bunga yang merepresentasikan Bali sekarang. Sudah ada bunga-bunga lain yang kuncup-mekar di berbagai sudut. Mengetahui adalah satu hal, mengakui atau mengingkari adalah hal lain.



ibm. dharma palguna



•     Perempuan: Menulis dan Tulisan
•     Memahami Beragam Perbedaan Manusia
•     Lelaki dan Louhan Yanti Riswara Idris
•     ‘’Melajah Negakang Jit’’
•     ’Ngundukang Indik’’
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•     ‘’Manusa Salah Laku’’
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan…
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah…
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik…
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo…
•     Kota-kota Beranda…
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air…
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha…
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan…
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata…
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni…
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan…
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•     “In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi
•     Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan…
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan...
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak