Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
YANTRA adalah satu sarana untuk memusatkan pikiran dalam praktik latihan ritual yoga, samadhi, meditasi. Bentuk Yantra bisa bermacam-macam disesuaikan dengan tujuan. Salah satu bentuk Yantra adalah bunga padma. Bunga yang satu ini termasuk sangat digemari oleh para spiritualis dan ritualis karena berbagai alasan. Itu pula barangkali sebabnya, mengapa bunga misterius ini dalam shastra disebut dengan berbagai nama. Selain padma, bunga ini umum disebut pangkaja, tunjung, terate, seroja. Pendek kata, bunga satu ini diapresiasi sangat tinggi karena kualitasnya.
Dari padma-yantra itu, sekarang kita alihkan perhatian ke Pulau Bali. Apakah Pulau Bali ini pernah dijadikan sebuah yantra, sehingga bentuk mistis pulau satu ini digambarkan seperti sekuntum bunga padma?
PERTANYAAN ITU tentu masuk akal. Karena bentuk mistis pulau Bali memang digambarkan seperti bunga padma, sedangkan bunga padma seperti disebutkan di atas adalah salah satu bentuk yantra yang digemari.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, terlebih dahulu kita lihat bagaimana bentuk padma yang dipilih sebagai gambar Bali itu. Seperti telah diketahui, bentuk padma yang dipilih kurang lebih sebagai berikut.
Dalam bunga padma itu ada satu lingkaran pusat, tempat serbuk sarinya berkumpul. Lingkaran pusat itu dikelilingi oleh empat ''kelopak-dalam'' yang masing-masing menghadap ke empat penjuru angin. Di luar yang empat itu, ada delapan ''kelopak-luar'' yang masing-masing menghadap ke delapan penjuru angin.
Itulah bentuk padma yang dipilih dari berbagai bentuk padma yang ada dan yang dikenal. Padma itu adalah sebuah konsep yang ada dalam pikiran dan pandangan.
Bagaimana konsep abstrak itu diterapkan dalam Bali yang nyata secara geografis? Penerapannya secara singkat seperti berikut ini.
LINGKARAN pusat padma adalah Pura Besakih. Empat kelopak dalam, atau catur lawa adalah empat pura yang mengelilingi Pura Besakih, yaitu: Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Ulun Kulkul, dan Batu Madeg. Sedangkan delapan kelopak luar, atau asta dala, adalah delapan pura jagat yang tersebar seperti sebuah lingkaran besar, yaitu: Lempuyang (timur), Gualawah (tenggara), Andakasa (selatan), Uluwatu (baratdaya), Batukaru (barat), Pucakmangu (baratlaut), Batur (utara) dan kembali Besakih (timur laut).
PETA INI juga disebut Dewata Nawa Sanga, lengkap dengan masing-masing dewanya, warnanya, senjatanya, dan silabel sucinya. Apabila bunga padma mistis itu kuncup, maka dibayangkan semua dewa di semua penjuru kembali ke pusat, dan bersatu di Besakih. Pada saat bunga padma itu mekar, dewa-dewa itu dibayangkan kembali ke wilayah-wilayahnya masing-masing.
BEGITULAH sekilas konsep Padma Bhuwana dan penerapannya di Bali. Mengapa para yogi dan yang selevelnya zaman dahulu meletakkan kerangka dasar Bali seperti itu? Kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pas untuk pertanyaan ini. Kebanyakan dari kita masih menduga-duga dengan referensi masing-masing.
SALAH SATU dugaannya, karena barangkali memang seperti padma itulah mereka melihat Bali dalam samadhinya, dalam meditasinya, dalam renungannya, dalam mimpinya, dan dalam sadarnya. Dugaan ini bisa membenarkan asumsi bahwa gambar padma Bali dulunya adalah sebuah Yantra. Sekarang pun, orang bisa memistiskan jagat Bali sebagai bunga padma dalam latihan meditasinya.
Kita memang bisa berdiskusi panjang, apakah padma itu adalah gambar yang sudah ada dalam pikiran mereka yang dibawa dari sononya, dan kemudian dipasangkan untuk Pulau Bali? Apakah gambar padma itu tidak bisa dipasangkan di Jawa, atau di Lombok?
DISKUSI ITU akan semakin menarik bila ditambahkan materi yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini.
Bagaimana kira-kira perdebatan para intelektual zaman itu, sehingga melahirkan kesepakatan tentang pura-pura tertentu yang merepresentasikan masing-masing kelopak padma?
APA KIRA-KIRA pertimbangannya, mengapa pura-pura yang merepresentasikan padma itu hampir setengahnya ada di Bali Timur, atau Karangasem?
Apakah kira-kira teori keseimbangan yang dilambangkan oleh masing-masing kelopak itu, ketika dipasangkan dengan cara lebih berat di timur, akan juga melahirkan keseimbangan Bali ke depannya secara mistis?
PERTANYAAN SEPERTI ITU masih bisa diperpanjang, terutama bila kita melihat perkembangan Bali sekarang sebagai pulau Hindu di tengah lautan Islam, sebagai pulau pariwisata di tengah samudera global, sebagai pulau ''hidup'' yang bergolak dan berubah dari dalam dirinya. Kondisi dan situasi Bali seperti sekarang ini akan menyebabkan munculnya ''kantog-kantong'' yang tidak lagi bisa dimasukkan dalam gambar Padma Mandala itu. Atau, bisa dimasukkan dengan berbagai cara, namun akhirnya akan menjadikan gambar padma yang kelopaknya di sana-sini seperti robek terkoyak.
PERTANYAAN-PERTANYAAN di atas bukanlah PR yang mesti segera dikerjakan, tapi hanya dalam renungan bagi mereka yang bisa meromantismekan Bali dalam dharma-wacananya. Karena itu sama-sama mengetahui, bahwa padma bukanlah satu-satunya bunga yang merepresentasikan Bali sekarang. Sudah ada bunga-bunga lain yang kuncup-mekar di berbagai sudut. Mengetahui adalah satu hal, mengakui atau mengingkari adalah hal lain.