Untitled Document
» Apresiasi
Senin, 30 Januari 2010 | BP
Ketajaman, Keluasan, Kedalaman...
Tagore di Gianyar
PADA akhir dekade kedua abad 20, seorang Rabindranath Tagore berkunjung ke Gianyar. Sebagai orang yang sangat didengarkan oleh dunia ketika itu, pujangga besar dunia itu tidak berbicara banyak tentang apa yang dilihatnya, tentang apa yang didengarnya, dirasakannya, termasuk apa yang barangkali dicemaskannya.

Ia memang tidak berbicara. Tapi ia menulis tentang semua itu, walau pun tidak banyak. Tulisannya tidak banyak yang kita ketahui. Kebanyakan orang juga tidak tahu menahu tentang itu.

Dari sedikit yang kita ketahui itu, isi tulisannya ternyata sangat menyanjung orang-orang Bali. Tulisannya penuh dengan pujian dan apresiasi yang sangat tinggi tentang kebudayaan Hindu yang konon tidak dilihatnya di India, tapi justru di Bali, atau persisnya di Gianyar itu. Lama setelah tulisan itu terbit (dalam bahasa Inggris), dan lama setelah Rabindranath Tagore meninggal dunia, dan bahkan lama setelah dunia mengalami banyak perubahan (termasuk Bali dan terutama Gianyar), tulisan-tulisannya tentang Bali itu masih tetap dirujuk oleh orang-orang yang ingin melihat Bali seperti dulu (bukan seperti apa adanya sekarang). Sebagai pembaca yang sedang berlajar kritis, kita berusaha mengerti dengan benar apa yang dikatakannya, dan memahami dengan bijaksana apa yang dimaksudkannya. Pendek kata, waspadailah setiap pujian, walaupun pujian itu datangnya dari seorang pengarang besar dunia.

Lalu apa masalahnya? Kunjungan Rabindranath Tagore di Bali sangat singkat. Kunjungan itu hanya dalam hitungan hari. Dan dari kunjungan singkat itu, sangat wajar bila ia sejatiya melihat sedikit dari apa yang ada. Kita pun sangat paham bahwa apa yang dilihatnya itu adalah tontonan yang dengan khusus disajikan kepada seorang tamu istimewa seperti dirinya. Sebaliknya, apa yang ditulisnya kemudian ternyata sangatlah dalam dan luas. Di sinilah letak pertanyaannya.

BAGI SEORANG pembaca yang hidup di jaman yang berbeda dengannya, saya melihat ada sesuatu yang belum pas hubungannya antara kunjungan singkat tamu istimewa dengan isi tulisan yang luas dan dalam itu. Bagaimana mungkin dengan paket kunjungan singkat ia bisa melihat banyak dan mendalam?

Memang tidak mudah menjadi seorang pembaca yang adil terhadap sebuah atau beberapa buah tulisan, terutama jika pembaca itu adalah orang yang hidup dari jaman yang tidak sama jiwa dan isi pikirannya. Karena berbeda udara yang dihirup. Berbeda air yang diminum. Berbeda makanan yang dimakan. Berbeda Buku Alam yang dibaca. Untuk bisa menjadi pembaca yang adil, kita coba memahaminya dari dua kemungkinan.

PERTAMA, mungkin saja ia melihat banyak dan mendalam karena ia adalah seorang pujangga besar. Karena bukankah kita sepakat bahwa pujangga besar umumnya memiliki ketajaman dan keluasan penglihatan dan kemampuan untuk merumuskan dan menuliskannya. Soal benar tidaknya isi tulisan itu adalah masalah lain lagi. Karena bukankah kita sepakat bahwa seorang pujangga lebih melihat sesuatu dengan perasaannya, dengan intuisinya, dan tidak selalu mudah dinilai oleh logika biasa. Apalagi pujangga tidak melulu menulis tentang apa yang dilihatnya, tapi terkadang apa yang ingin dilihatnya. Jadi kebenaran wacana seorang pujangga haruslah kita tempatkan pada porsinya. Dengan argumentasi ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa hubungan antara kunjungan singkat dengan isi tulisan yang luas dan mendalam bukan sesuatu yang tidak bisa dipahami.

KEDUA, mungkin saja ia melihat banyak dan mendalam karena sebelum datang ke Bali (Gianyar) ia telah mengetahui keadaan Bali dari sumber-sumber tertulis. Pada masa itu telah terbit sangat banyak buku tentang Bali, terutama yang ditulis oleh orang-orang Eropa.

BUKU-BUKU itu secara bersama-sama berhasil membangun Bali Dalam Kata, sehingga membuat Bali menjadi sebuah pulau kecil dengan kebudayaan besar. Buku-buku seperti itu menjadi referensi utama bagi orang yang ingin tahu tentang Bali pada masa itu. Referensi tandingan ketika itu belum banyak jumlahnya, kecuali laporan-laporan pemerintah kolonial tentang pembakaran hidup-hidup janda-janda raja (masatya), jual-beli budak lelaki dan perempuan, jual beli pusaka dan lontar, dan sebagainya. Laporan seperti itu belum banyak diangkat ke permukaan sehingga jarang diketahui oleh publik.

JADI, ada kemungkinan bahwa Bali Dalam Kata seperti itu telah ada di kepala Tagore. Sehingga kunjungannya ke Bali bisa dikatakan semacam stempel atas sejumlah informasi yang telah diketahuinya. Dengan demikian memang sangat mungkin bahwa kunjungan singkat itu menghasilkan tulisan yang luas dan mendalam, seakan penulisnya telah tinggal lama di Bali dan benar-benar mengetahui seluk-beluk kejiwaannya.

Sekarang romantisme tentang Bali seperti Bali Dalam Kata itu sudah nyaris berlalu. Buku-buku tentang Bali yang terbit belakangan tidak melulu berisi kebudayaan besar dan luhung itu, tapi Bali Apa Adanya.
PENILAIAN tentang Bali sangat tergantung pada referensi yang dipergunakan. Dan referensi yang melatarbelakangi pandangan seorang Rabindranath Tagore tentang Bali sudah sangat jelas, yaitu romantisme tentang Bali. Bedanya, romantisme itu ditulis oleh seorang pujangga yang dari tulisan-tulisannya nampak sangat paham tattwa, budaya, agama, bahkan jiwa dan roh kebudayaan. Sehingga jangankan kita, dunia pun seakan tersihir olehnya pada masanya. Tak salah ketika dunia kemudian menyebutnya Bapak Romantisme Dari Timur.



Lalu apa? Tidak ada apa-apa, selain tentang sebuah Jaman yang punya jiwa dan punya kehendak sendiri. Tagore dan pikirannya adalah salah satu produk terbagus dari zamannya.

PRODUK zaman apakah kita ini? Kita akan tahu segera setelah jaman kita ini berlalu. Artinya, identitas kita akan ditemukan oleh generasi zaman mendatang.



ibm. dharma palguna



•     ‘’Melajah Negakang Jit’’
•     ’Ngundukang Indik’’
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•     ‘’Manusa Salah Laku’’
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan…
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah…
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik…
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo…
•     Kota-kota Beranda…
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air…
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha…
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan…
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata…
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni…
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan…
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•     “In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi
•     Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan…
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan...
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak