Untitled Document
» Apresiasi
Senin, 21 Nopember 2009 | BP
Permainan Sunyi (1)
Permainan Sunyi (1)
------------------------
Oleh Komang Widana Putra
------------------------

PERLAHAN Maha menggerakkan tangannya untuk menyentuh duri-duri ikan yang ada di piring ayah. Menyingkirkannya ke sisi piring dengan lembut. Terdengar desahan yang dalam dari mulut ayah. Dua bola matanya memandang jemari tangan Maha yang bergerak-gerak halus di hadapannya. Tidak ada suara. Tak ada percakapan yang terhambur menghiasi udara. Semua lebih memilih berdiam bahasa.

Berkelebat di benakku hal yang mendorong kami, anak-anak ayah, memenuhi undangannya untuk makan malam di ruangan ini. Pertama, ayah merindukan suasana yang ramai seperti kami kecil dulu yang ketika makan malam selalu berebut kursi agar bisa duduk di samping ayah. Dengan harapan ayah akan membantu menyingkirkan duri-duri yang ada di tubuh ikan yang menjadi menu rutin makan malam kami.

Pernah suatu kali, aku dan Bara, kakak lelaki tertua aku, berkelahi hebat karena berebut kursi. Ada suatu kebanggaan tersendiri di hati kami ketika ayah menyingkirkan duri-curi ikan di piring kami. Layaknya sebuah mitos yang kami pahat sendiri di benak masing-masing bahwa siapa di antara kami yang duri-duri ikan yang disingkirkannya dari piring kami, ia adalah anak kesayangan ayah. Pikiran aneh semacam itu membuat kami nyaris berkelahi setiap malam untuk berebut kursi agar duduk di dekat di samping ayah.

Kami empat bersaudara yakni Bara, Maha, Rama, dan aku. Masing-masing dari kami diberikan jarak dua tahun untuk lahir ke dunia. Tak ada yang istimewa dari tumbuh kembang kami. Semua berjalan apa adanya. Biasa saja. Ibu membagi sayangnya dengan merata kepada kami berempat. Begitu pula halnya dengan ayah. Bahkan terkadang ia lebih adil daripada ibu. Tidak dibedakannya antara si sulung, si tengah, maupun si bungsu. Ketika pulang dari kantor dan ayah membawa kudapan ringan, semuanya pasti berjumlah empat dengan merk dan rasa yang sama. Sehingga kami tidak pernah melancarkan protes dengan kata-kata ataupun tangisan sembari tangan menunjuk-nunjuk.

Akan tetapi, ada satu kebiasaan ayah yang kami semua sepakati secara diam-diam, dalam hal membagi kasih dan perhatiannya di meja makan. Seperti yang telah kuuraikan tadi, kami bersepakat bahwa ketika ayah menyingkirkan duri-duri ikan di salah satu piring kami, adalah bentuk perhatian ayah yang lain dan lebih. Istilah ''lain dan lebih'' inilah yang membuat pikiran kami gamang dan berusaha menerjemahkannya dengan perilaku: berebut kursi.

Ayah maupun ibu hanya bisa tersenyum yang tidak kami ketahui maksudnya. Bahkan mereka berdua tidak memarahi aku dan Bara ketika kami memecahkan gelas saat berebut kursi. Telapak tanganku terluka kena pecahan beling sementara kening Bara membiru karena kupukul dengan tempat tisu. Dua saudaraku yang lain tertawa kecil di bawah meja melihat keadaan kami. Dengan tenang ayah mengantarku ke dokter yang ada di sebelah rumah, sementara ibu mengambil lap dan air panas untuk mengompres kening Bara.

Kegaduhan kecil seperti itu yang kurindukan, kata ayah meneleponku dan tiga anaknya yang lain. Suaranya bagai gerimis yang tidak pernah dicurahkan langit selama berabad-abad. Suaranya bagai gerimis yang membasahi kenangan ''berebut kursi'' agar tumbuh kembali dalam pikiran dan perilaku kami. Aku mengiyakan datang. Begitu juga saudara-saudara yang lain. Kami sepakat akan datang pada saat ulang tahun ayah yang ketujuh puluh satu. Kesepakatan kami yang lain yakni: kami akan datang sendiri, tanpa suami atau istri apalagi anak-anak. Kami yang akan menjadi anak-anak, begitu tekad kami.

Alasan lain yang membuat kami mendarat kembali ke rumah ini adalah kesepian ayah. Tak ada yang diajaknya bercengkraman semenjak ibu meninggal enam tahun yang lalu, karena penyakit ginjal. Memang Maha, kakak perempuanku satu-satunya, sering menjenguk ayah kemari bersama putrinya yang kecil. Hanya Maha yang masih tinggal satu kota dengan ayah, sedangkan kami setelah bekerja kemudian menikah lebih memilih hidup mandiri.

Bukan karena ingin mengabaikan ayah, namun tuntutan pekerjaanlah yang menyebabkan kami harus meninggalkan rumah. Kami membuat perjanjian yang tidak tertulis bahwa masing-masing dari kami beserta keluarga sebulan sekali harus datang dan menginap di rumah ayah. Mula-mula perjanjian itu memang berjalan, namun seperti kubilang, gempuran pekerjaanlah yang menyebabkan kami tidak sempat pulang. Kami, anak laki-lakinya, meminta kepada Maha agar keluarganya untuk sering mengunjungi ayah. Maha mengerti, ia bersedia.

Ayah suka sekali berkebun. Oleh karena itu, kami membelikannya banyak tanaman untuk dirawatnya. Tanaman-tanaman itu akan menghindarkan dirinya dari serangan kenangan tentang ibu. Pag hingga sore ayah memang selalu disibukkan oleh tanamannya sampai lupa makan dan beristirahat. Kadang ayah kelelahan hingga perlu dipanggilkan dokter. Jika sudah begitu, Maha pasti akan menelepon kami untuk segera pulang. Ayah sakit, kata Maha. Kami, anak-anaknya, segera membatalkan semua rencana yang sudah disusun yang berhubungan dengan pekerjaan dan langsung memesan pesawat paling pagi. Kami tak ingin ayah sendirian berjuang melawan sakitnya.

Akhirnya, rumah yang saban hari senantiasa dikepung sepi dan suara serangga malam, mendadak riuh oleh kedatangan anak-anaknya, menantunya juga cucu-cucunya. Ayah yang seharusnya mesti istirahat menjadi tak pernah beristirahat dengan cukup sesuai anjuran dokter. Bahkan tidak jarang, ayah begadang hingga larut malam untuk membacakan dongeng kepada tujuh cucunya.

Apalagi sudah demikian, Maha akan datang ke ruang tengah dengan wajah galak dan memekik seperti ini, ''Kakek kalian perlu istirahat! Kalian mau ia seperti penyihir tua yang tidak bisa bangun untuk menggoyangkan tongkat sihirnya besok sehingga tidak mampu menyulap boneka-boneka kalian menjadi bayi-bayi nakal! Cepat tidur. Hampir jam sebelas. Hantu-hantu tanpa kepala sudah berkeliaran di rumah ini!''

Ayah pun menutup ceritanya dengan ekspresi wajah dibuat ketakutan sambil berbisik pelan, ''Nenek sihir sudah keluar dari sarangnya.'' Semua cucunya pun masuk ke kamar orangtua masing-masing, bersembunyi di balik kehangatan selimut tebal.

Anehnya, ayah kembali sehat dengan keadaan riuh seperti itu. Ia sudah bisa jalan-jalan berkeliling kompleks perumahan dengan semua cucunya, membelikan mereka es krim di ujung jalan dan juga balon-balon udara. Hanya satu hal yang membuat kami selalu diselimuti rasa bersalah yakni ketika Maha memergoki ayah mengurai air mata kemudian merajutnya sendiri di malam hari.

Ayah menangis sambil meraba potret ibu. Jendela kamar dibiarkannya terbuka sehingga angin dengan leluasa menjalarkan suara tangisnya ke telinga Maha. Hanya ia yang mendengar tangisan itu, kemudian datang ke kamarnya yang pintunya tidak terkunci. Maha melihat kesepian ayah yang seutuhnya. Maha menemukan kerentaan jiwa yang sesungguhnya. Maha memungut rasa sepi ayah yang telah berantakan di kamarnya, kemudian menyusunnya menjadi sebuah kisah yang diceritakannya kepada kami keesokan hari di meja makan.

(Bersambung minggu depan)


•     Perempuan: Menulis dan Tulisan
•     Memahami Beragam Perbedaan Manusia
•     Lelaki dan Louhan Yanti Riswara Idris
•     ‘’Melajah Negakang Jit’’
•     ’Ngundukang Indik’’
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•     ‘’Manusa Salah Laku’’
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan…
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah…
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik…
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo…
•     Kota-kota Beranda…
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air…
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha…
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan…
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata…
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni…
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan…
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•     “In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi
•     Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan…
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan...
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak