------------------------
Oleh Komang Widana Putra
------------------------
PERLAHAN Maha menggerakkan tangannya untuk menyentuh duri-duri ikan yang ada di piring ayah. Menyingkirkannya ke sisi piring dengan lembut. Terdengar desahan yang dalam dari mulut ayah. Dua bola matanya memandang jemari tangan Maha yang bergerak-gerak halus di hadapannya. Tidak ada suara. Tak ada percakapan yang terhambur menghiasi udara. Semua lebih memilih berdiam bahasa.
Berkelebat di benakku hal yang mendorong kami, anak-anak ayah, memenuhi undangannya untuk makan malam di ruangan ini. Pertama, ayah merindukan suasana yang ramai seperti kami kecil dulu yang ketika makan malam selalu berebut kursi agar bisa duduk di samping ayah. Dengan harapan ayah akan membantu menyingkirkan duri-duri yang ada di tubuh ikan yang menjadi menu rutin makan malam kami.
Pernah suatu kali, aku dan Bara, kakak lelaki tertua aku, berkelahi hebat karena berebut kursi. Ada suatu kebanggaan tersendiri di hati kami ketika ayah menyingkirkan duri-curi ikan di piring kami. Layaknya sebuah mitos yang kami pahat sendiri di benak masing-masing bahwa siapa di antara kami yang duri-duri ikan yang disingkirkannya dari piring kami, ia adalah anak kesayangan ayah. Pikiran aneh semacam itu membuat kami nyaris berkelahi setiap malam untuk berebut kursi agar duduk di dekat di samping ayah.
Kami empat bersaudara yakni Bara, Maha, Rama, dan aku. Masing-masing dari kami diberikan jarak dua tahun untuk lahir ke dunia. Tak ada yang istimewa dari tumbuh kembang kami. Semua berjalan apa adanya. Biasa saja. Ibu membagi sayangnya dengan merata kepada kami berempat. Begitu pula halnya dengan ayah. Bahkan terkadang ia lebih adil daripada ibu. Tidak dibedakannya antara si sulung, si tengah, maupun si bungsu. Ketika pulang dari kantor dan ayah membawa kudapan ringan, semuanya pasti berjumlah empat dengan merk dan rasa yang sama. Sehingga kami tidak pernah melancarkan protes dengan kata-kata ataupun tangisan sembari tangan menunjuk-nunjuk.
Akan tetapi, ada satu kebiasaan ayah yang kami semua sepakati secara diam-diam, dalam hal membagi kasih dan perhatiannya di meja makan. Seperti yang telah kuuraikan tadi, kami bersepakat bahwa ketika ayah menyingkirkan duri-duri ikan di salah satu piring kami, adalah bentuk perhatian ayah yang lain dan lebih. Istilah ''lain dan lebih'' inilah yang membuat pikiran kami gamang dan berusaha menerjemahkannya dengan perilaku: berebut kursi.
Ayah maupun ibu hanya bisa tersenyum yang tidak kami ketahui maksudnya. Bahkan mereka berdua tidak memarahi aku dan Bara ketika kami memecahkan gelas saat berebut kursi. Telapak tanganku terluka kena pecahan beling sementara kening Bara membiru karena kupukul dengan tempat tisu. Dua saudaraku yang lain tertawa kecil di bawah meja melihat keadaan kami. Dengan tenang ayah mengantarku ke dokter yang ada di sebelah rumah, sementara ibu mengambil lap dan air panas untuk mengompres kening Bara.
Kegaduhan kecil seperti itu yang kurindukan, kata ayah meneleponku dan tiga anaknya yang lain. Suaranya bagai gerimis yang tidak pernah dicurahkan langit selama berabad-abad. Suaranya bagai gerimis yang membasahi kenangan ''berebut kursi'' agar tumbuh kembali dalam pikiran dan perilaku kami. Aku mengiyakan datang. Begitu juga saudara-saudara yang lain. Kami sepakat akan datang pada saat ulang tahun ayah yang ketujuh puluh satu. Kesepakatan kami yang lain yakni: kami akan datang sendiri, tanpa suami atau istri apalagi anak-anak. Kami yang akan menjadi anak-anak, begitu tekad kami.
Alasan lain yang membuat kami mendarat kembali ke rumah ini adalah kesepian ayah. Tak ada yang diajaknya bercengkraman semenjak ibu meninggal enam tahun yang lalu, karena penyakit ginjal. Memang Maha, kakak perempuanku satu-satunya, sering menjenguk ayah kemari bersama putrinya yang kecil. Hanya Maha yang masih tinggal satu kota dengan ayah, sedangkan kami setelah bekerja kemudian menikah lebih memilih hidup mandiri.
Bukan karena ingin mengabaikan ayah, namun tuntutan pekerjaanlah yang menyebabkan kami harus meninggalkan rumah. Kami membuat perjanjian yang tidak tertulis bahwa masing-masing dari kami beserta keluarga sebulan sekali harus datang dan menginap di rumah ayah. Mula-mula perjanjian itu memang berjalan, namun seperti kubilang, gempuran pekerjaanlah yang menyebabkan kami tidak sempat pulang. Kami, anak laki-lakinya, meminta kepada Maha agar keluarganya untuk sering mengunjungi ayah. Maha mengerti, ia bersedia.
Ayah suka sekali berkebun. Oleh karena itu, kami membelikannya banyak tanaman untuk dirawatnya. Tanaman-tanaman itu akan menghindarkan dirinya dari serangan kenangan tentang ibu. Pag hingga sore ayah memang selalu disibukkan oleh tanamannya sampai lupa makan dan beristirahat. Kadang ayah kelelahan hingga perlu dipanggilkan dokter. Jika sudah begitu, Maha pasti akan menelepon kami untuk segera pulang. Ayah sakit, kata Maha. Kami, anak-anaknya, segera membatalkan semua rencana yang sudah disusun yang berhubungan dengan pekerjaan dan langsung memesan pesawat paling pagi. Kami tak ingin ayah sendirian berjuang melawan sakitnya.
Akhirnya, rumah yang saban hari senantiasa dikepung sepi dan suara serangga malam, mendadak riuh oleh kedatangan anak-anaknya, menantunya juga cucu-cucunya. Ayah yang seharusnya mesti istirahat menjadi tak pernah beristirahat dengan cukup sesuai anjuran dokter. Bahkan tidak jarang, ayah begadang hingga larut malam untuk membacakan dongeng kepada tujuh cucunya.
Apalagi sudah demikian, Maha akan datang ke ruang tengah dengan wajah galak dan memekik seperti ini, ''Kakek kalian perlu istirahat! Kalian mau ia seperti penyihir tua yang tidak bisa bangun untuk menggoyangkan tongkat sihirnya besok sehingga tidak mampu menyulap boneka-boneka kalian menjadi bayi-bayi nakal! Cepat tidur. Hampir jam sebelas. Hantu-hantu tanpa kepala sudah berkeliaran di rumah ini!''
Ayah pun menutup ceritanya dengan ekspresi wajah dibuat ketakutan sambil berbisik pelan, ''Nenek sihir sudah keluar dari sarangnya.'' Semua cucunya pun masuk ke kamar orangtua masing-masing, bersembunyi di balik kehangatan selimut tebal.
Anehnya, ayah kembali sehat dengan keadaan riuh seperti itu. Ia sudah bisa jalan-jalan berkeliling kompleks perumahan dengan semua cucunya, membelikan mereka es krim di ujung jalan dan juga balon-balon udara. Hanya satu hal yang membuat kami selalu diselimuti rasa bersalah yakni ketika Maha memergoki ayah mengurai air mata kemudian merajutnya sendiri di malam hari.
Ayah menangis sambil meraba potret ibu. Jendela kamar dibiarkannya terbuka sehingga angin dengan leluasa menjalarkan suara tangisnya ke telinga Maha. Hanya ia yang mendengar tangisan itu, kemudian datang ke kamarnya yang pintunya tidak terkunci. Maha melihat kesepian ayah yang seutuhnya. Maha menemukan kerentaan jiwa yang sesungguhnya. Maha memungut rasa sepi ayah yang telah berantakan di kamarnya, kemudian menyusunnya menjadi sebuah kisah yang diceritakannya kepada kami keesokan hari di meja makan.