Untitled Document
» Budaya
Senin, 11 September 2011 | BP
Ranting
Oleh : Kadek Purnami

LANGIT senja nampak merah bersemburat abu, jembatan kayu ini masih terasa basah oleh sisa hujan. Lelaki itu membungkuk memetik setangkai bunga rumput liar, dia terdiam, tersenyum, lalu menciumi bunga tersebut, menempelkan ke dada kirinya, kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat, dilemparkannya bunga rumput liar itu ke sungai sebelum beranjak memasuki kedai disisi jembatan.

Meja di teras yang menghadap sungai adalah meja langganannya, meja untuk dua orang dengan dua kursi yang berhadapan. Seiring tenggelamnya senja dia akan terduduk sendiri tanpa pernah membawa siapapun. Dua buah kopi selalu dipesannya, satu untukknya dan secangkir lagi hanya diletakkan di depannya tanpa pernah disentuhnya. Lelaki itu menyulut dan menghirup dalam-dalam tembakau yang digulungnya sendiri dengan kertas. Dia memanggilku untuk memesan satu kue coklat dan meletakkan di samping kopi yang dipesankan untuk kursi yang kosong, dan kembali menghisap tembakaunya dalam.

Bulan purnama yang muncul sempurna disela pohon bambu adalah puncak waktu yang ditunggu. Lelaki itu terdiam kelu, matanya menerawang jauh kemudian mengambil tas kecil berbahan kulit, mengeluarkan semua isinya. Dia membaca lembar demi lembar kertas yang usang dan lusuh, melipatnya kembali, menegak kopi lalu sembari tersenyum ringan dia mengeluarkan serpihan bunga mawar yang kering, kerang, bahkan seruas ranting bambu dan dia akan kembali melinting tembakau untuk kesekian kalinya.

Kedai kami sudah akan tutup, tidak banyak pengunjung malam ini, tinggal tiga meja lagi, satu meja yang diisi oleh keluarga, satu meja pasangan muda dan meja kecil di pojok oleh lelaki itu. Dalam sayup-sayup lagu yang kuputar lelaki itu memanggilku.

" Apakah kedai sudah mau tutup?"

"Belum, mau pesan lagi?"

"Satu cangkir kopi lagi, mungkin dia akan datang malam ini".

Aku kembali membuatkannya secangkir kopi lagi. Dia tersenyum dan kembali melinting tembakau. Meja yang diisi oleh keluarga telah meninggalkan kedai. Suasana malam ini sedikit sepi, angin bertiup dingin. Purnama hilang ditelan kabut malam, gerimispun turun membasahi tanah. Lelaki itu kembali memanggil saya, membentuk kotak di udara. Dia sudah hendak pulang, meminta bon nya.

Tinggal satu meja lagi yang ditempati pasangan muda sebelum kedai ini kututup. Meja kubersihkan dan memadamkan lilin-lilin yang temaram. Sejenak saat mengangkat gelas kopi lelaki itu, aku melihat seruas ranting bambu miliknya tertinggal di samping kopi yang yang tak diminumnya. Aku mengambil dan melihat keluar kedai menyusurnya, mungkin dia masih berjalan-jalan di piggir jembatan. Sosok lelaki itu telah pergi.

Seruas ranting bambu nampak sangat biasa, berwarna coklat muda dan kering. Lamat-lamat kuamati mencoba mencari apa yang membuat dia selalu membawanya. Hanya ada satu goresan kecil berbentuk bintang, selebihnya hanya ranting bambu biasa. Aku menyimpannya di meja kecil samping tempat tidur dekat foto, jikalau dia nanti kembali lagi untuk mengambilnya.

Dalam kamar kurebahkan diri, hayalku telah terlempar jauh puluhan tahun yang lampau, saat pernah ada satu cinta yang kurasa indah. Aku tersenyum, dan memandang foto di meja kecil sebelah tempat tidurku, ah adakah kau selalu bersamaku walau wujudmu adalah kabut dingin dan harum cendana. Biar kukenang kau dengan indah dalam setiap dupa yang kubakar, dalam doa-doa yang kupanjatkan dari relung jiwaku. Kini aku adalah perempuan paruh baya yang hidup sendiri dengan cinta yang selalu hangat dalam setiap detik waktu saat mengenangmu.

Kedai ini adalah wujud cinta kita, kerapkali aku teringat, saat menyeduhkan kopi untukmu dalam kepulan asap yang tersamar kau memberikan ciuman sayang padaku, begitupun pada setiap adonan kue yang kubuat, kau selalu berbisik padaku

“ Kue itu akan menjadi sangat manis dimulutku, kau begitu banyak menuangkan senyuman termanismu, janganlah bagikan kue itu ke orang lain biar kunikmati sendiri”

Kedai kopi ini kubangun tepat setelah setahun kepergianmu, agar selalu kukenang dirimu. Senang rasanya saat melihat para tamu yang datang ke kedai menikmati kopi dan kue yang kubuat, mungkin kau akan iri dengan mereka. Ruangan yang penuh aroma cendana dari dupa-dupa yang ku bakar, kurasakan adanya dirimu bersamaku. Malam telah larut, aku tertidur bersama kenangan akan dirimu.

Hari ini hingga beberapa bulan ke depan kedai ini akan tutup, aku akan mengunjungi tempat kenangan kita di belahan selatan pulau ini, sebuah rumah yang sempat kita bangun bersama dipinggir pantai. Kedai ini adalah tanah idamanmu dulu yang kubeli dari tabungan kita. Pemandangan sawah yang sejuk, sungai dengan air gemericik yang jernih sebuah suasana pedesaan yang asri adalah tempat yang memang selalu kau sukai, tapi aku lebih menyukai pantai, dan kau mengalah untuk membangun rumah dipinggir pantai dan bukan di sawah tempat idamanmu, semua karena cintamu.

Barang-barang kukemas dalam tas, terakhir aku memasukkan foto dirimu. Aku tertegun saat melihat seruas ranting bambu itu, kuambil dan kuletakkan kembali. Aku menimang apakah akan aku bawa atau kutinggal. Mungkin ini adalah barang berharga bagi lelaki itu, dan akupun memutuskan membawa serta agar dapat kujaga, dan kukembalikan jika suatu hari nanti dia kembali ke kedai ini.

Pengumuman kedai tutup untuk dua bulan ke depan aku tempelkan pada pintu kedai sebelum aku mengunci rapat. Aku berjalan menuju jembatan kayu, melihat air jernih yang mengalir di bawahnya. Dan mengunjungi sebuah warung nasi tetanggaku untuk pamit dan menitipkan untuk menjaga kedai. Biasanya jika kedai tutup cukup lama, beberapa pelangganku akan datang dan kadang-kadang mereka menitipkan pesan maupun barang. Kedai ini sudah menjadi tempat para orang tua paruh baya mengisi waktunya untuk sekedar bercengkrama bersama keluarga maupun sahabatnya.

Mobil melaju dengan pelan, kuputar lagu-lagu kenangan kita, mungkin aku memang selalu hidup dengan kenangan, keluargaku sering menjadi kesal olehku, dan menganggap aku yang tak pernah sadar realitas, dan terlalu setia mencintaimu yang telah tiada. Usiaku memang masih pantas untuk menikah kembali saat kau tinggalkan, tapi aku memilih untuk tetap mengenang cinta kita dengan segala keindahannya. Tak sedikit lelaki yang mencoba mendekatiku dan mengutarakan niat untuk meminangku. Namun mereka tak punya cinta sepertimu. Sering pula kukatakan pada keluarga, jika suatu hari nanti ada yang menawarkan cinta seindah dirimu akan kupertimbangkan untuk kuterima.

Aku berhenti sejenak pada rumah mungil di tengah kota, aku turun membawa sekotak kue yang biasa kukirimkan untuk adik perempuanmu. Perempuan kedua yang kau cintai selain diriku. Kami menghabiskan waktu sore hari itu dengan bercengkrama, dan kembali mengenangkan dirimu. Dia juga perempuan kedua yang mencintaimu dengan sangat. Entahlah kau melihat atau tidak, keponakanmu tumbuh semakin dewasa dan menjaga ibunya dengan sangat baik, bahkan mereka sangat menyayangiku juga, mereka kerapkali menemaniku di rumah pada saat liburan karena mereka juga mencintai pantai, sama sepertiku.

Aku tiba dirumah kita saat petang, debur ombak terdengar bergemuruh, angin bertiup sedikit kencang. Dan aku menuju rumah tetanggaku untuk membawaknnya kue, tentu kau masih ingat dengan tetangga kita yang selalu iri melihat kita dulu selalu mesra dan minum kopi bersama di beranda depan, sementara dia selalu bertengkar bersama suaminya yang jarang dirumah. Tapi rasa iri mereka terhadapku mungkin lenyap saat mereka selalu kukirimkan kue-kue manis buatanku yang sembunyi-sembunyi kubagikan, karena kau tak ingin kue yang menurutmu dalam adonan itu terlalu banyak senyuman termanisku bercampur didalamnya.

Menyenangkan bagiku kembali ke rumah ini, hari-hariku hanya akan dihabiskan dengan memasak, berjalan di pantai, dan membaca bertumpuk-tumpuk buku yang kugemari. Entah mengapa walaupun kenyataannya aku hidup seorang diri, aku tak pernah merasa kesepian, aku selalu merasakan bahwa dirimu selalu ada menemaniku. Mungkin aku memang sedikit mulai nampak gila karena berbincang denganmu, dan di dalam benakku kau terdengar menjawabnya. Dan akupun tersenyum oleh itu, aku sering tertawa geli jika kulotarkan beberapa lelucon yang konyol dan aku mereka reka jawabanmu yang tak akan kalah konyol dariku. Ah mungkin terlalu banyak hal yang kita lewati bersama, dan semua hal itu membuatku begitu nyaman. Kau mencintaiku dan menerimaku begitu baik dengan segala kekurangan dan keterbatasanku. Mungkin itu yang membuatku nyaman bersamamu, dan belum bisa kutemukan pada lelaki manapun sebagai penggantimu. Sesuatu yang kurasa mahal di jaman seperti sekarang.

Setelah sebulan lebih dirumah ini aku merasa begitu nyaman dan enggan untuk kembali ke kedai, tapi aku harus tetap kembali ke kedai untuk menemui para pelanganku dan tentu hanya dari kedai itulah penghasilanku satu-satunya, yang aku butuhkan untuk biaya pengobatanku. Aku sering ingat pesan-pesanmu agar tak bekerja terlalu keras, dan berusaha meliburkan diri sebulan sampai tiga bulan dari waktuku dalam setahun hanya untuk melakukan hal-hal yang ingin kulakukan, agar aku tetap bisa menikmati hidup ini dengan seimbang.

Sore ini aku memasak kue labu kuning, labu yang diberikan oleh adikmu dari kebun mertuanya. Sembari menunggu petang aku berjalan-jalan sebentar menyusuri tepian pantai yang berpasir putih ini. Ini hari minggu, banyak keluarga dan pasangan muda mudi yang kepantai untuk berekreasi. Mereka terdengar bersuka cita, bercengkrama, bermain air, membuat istana pasir serperti yang sering kita lakukan bersama dulu, kau selalu buatkan aku istana pasir dengan buaya disekelilingnya, yang terus-terusan aku protes, kenapa harus buaya ? kau akan menjawab

“Agar kau tak berani keluar istana dan terus menemaniku sebagai sang raja”

Aku menyusuri pantai yang ramai, dan sebagian besar hanya duduk di kafetaria untuk memandang lepas ke lautan luas. Langkahku terhenti pada sebuah sosok yang kukenali namun aku begitu ragu dan mencoba untuk mengingat. Ya itu adalah lelaki yang sering datang ke kedai saat purnama. Akupun menghampirinya

“ Sore, uhhmm mungkin kamu tidak ingat denganku,"Iya kurasa tidak asing, tapi dimana aku melihatmu,Kamu sering datang ke kedaiku untuk meminum kopi

.Oooohhhh iya iya aku ingat sekarang, tempo hari aku datang ke kedaimu tapi sayang sedang tutup, tak disangka kita bertemu disini ya," purnama baru saja lewat, dia pasti datang pada saat purnama, tiba-tiba aku teringat tentang seruas ranting bambu yang dia tinggalkan. Akupun mengutarakan padanya tetang ranting bambu tersebut.

"Iya, aku datang ke kedaimu memang untuk menanyakan ranting bambu yang tertinggal itu, apakah mungkin kau melihat dan menyimpannya untukku atau mungkin sudah kau buang. Aku semakin tua, dan semakin pelupa, seringkali kumeninggalkan barang-barang berharga".

Sudah kuduga bahwa ranting bambu itu termasuk bagian dari barang berharga miliknya.

Ranting bambu itu telah ku simpan dengan baik, jika mau mengambilnya bisa ikut denganku kerumah yang tak jauh dari sini, aku juga sedang membuat kue labu kuning, jika mau, mungkin bisa sambil ngopi dirumahku? tapi maaf aku sedang tidak membuat kue coklat yang biasa kamu pesan di kedai.

Kami akhirnya menuju rumah, minum kopi bersama. Ah, suamiku di surga, mungkin kau akan sangat marah padaku hari ini, karena aku membawa lelaki ke rumah kita, dan lelaki itu tidak digigit oleh buaya-buaya yang kau buat di sekeliling istana pasir. Aku hanya membuatkannya kopi dan memberinya kue labu tidak berbuat lebih. Aku yakin kau akan tetap marah padaku. Karena aku membuatkannya kopi dirumah kita. Tapi jika aku boleh jujur lelaki itu mencuri perhatianku sejak dia datang ke kedai setiap purnama. Jika kau marah dari surga sana, janganlah beri aku hukuman yang berat.

Kami pun bercengkarama hingga larut, tak hanya kopi yang kusuguhkan, tapi aku memasak makan malam untuknya, menuangkan anggur dan kami terus bercengkrama semakin akrab hingga larut.

" Kuperhatikan kau senang sekali datang pada saat purnama ke kedaiku?"

" Ya, kau memperhatikannya?" ( sambil menghela nafas berat) Ya aku memperhatikannya, kau datang setiap purnama, berjalan menuju jembatan kayu, memetik bunga rumput liar, melemparnya ke sungai, memesan dua cangkir kopi, kue coklat dan membuka tas kulit beserta semua isinya. Kau nampak begitu khidmat melakukan semua proses itu .Ah, kau telah melihat semua detail yang kulakukan, tak ada yang harus kusembunyikan lagi. Kekasihku dulu pernah berjanji padaku, untuk menemuiku di jembatan kayu pada saat purnama jauh sebelum kau buka kedai itu. Uhmm itu sebabnya kau selalu datang pada saat purnama dan memesan dua cangkir kopi? Ya, dan sampai hari ini dia tak datang menemuiku di jembatan itu sampai puluhan tahun berlalu aku tak menerima kabar darinya. Dia telah bersuami dan mereka tinggal di luar negeri, dan hingga hari ini aku masih menunggunya datang pada saat purnama. Dan ranting bambu itu pasti darinya? Ya pada purnama yang bertahun-tahun lalu aku menyatakan cinta di jembatan kayu itu, di pinggir sungai itu masih masih banyak sekali pohon bambu kuning, aku menebas sedikit batangnya, kami menggores jari dengan bambu itu dan mengisap darah agar mengalir dia dalam darahku, dan aku dalam darahnya, dan dia membuat satu bintang pada ranting bambu itu, agar aku selalu menjadi bitang di hatinya. Dan untuk pertama kalinya aku meninggalkan ranting bambu itu dikedaimu, mungkin itu pertanda aku memang sudah harus melupakannya, dan ranting bambu itu telah kembali ke asal, dimana tempatnya dulu tumbuh di kedai mu itu”

Entah apa yang harus kutanggapai dari cerita lelaki itu, dimatanya terlihat dia begitu mencintai kekasihnya. Ah tak hanya dia yang menuai kisah pada jembatan itu, kedai ku pun ada karena cinta, dan entah siapa lagi orang-orang yang pernah mengutarakan cinta diatas jembatan itu, dan akan ada sekian banyak kisah yang mengharukan. Kami diam hening, malam makin larut, udara semakin dingin, aku memberikan dia selembar selimut. "Dirumah ini tidak ada siapa-siapa, jika kau ingin menginap, rumah ini terbuka untukmu.”

“ Terima kasih, jika boleh apakah aku bisa tetap datang ke kedaimu walaupun itu tidak purnama?" ( ada nada tulus yang kurasakan, yang menggetarkan jiwaku) Biar aku buatkan kopi setiap hari, dan kue kesukaanmu .Dari awal aku ke kedaimu, kopi mu memang luar biasa. Ah, telah lama tak kurasakan getar hati dan rasa nyaman ini. Mungkin kau sedang marah padaku dari surga sana, atau mungkin juga tersenyum melihatku ada yang menemani, sehingga kau tak sedih melihatku sendiri. Apakah kau yang mengirim lelaki ini untuk menghangatkan hatiku kembali? aku tak bisa mendengar jawabanmu yang pasti, bahkan aku tak mampu merekanya. Namun hatiku merasa begitu nyaman sama seperti saat mencintaimu.

Entahlah, ombak berdebur semakin keras, subuh sebentar lagi datang.



Ubud, 20 Juli 2011

•     Rishi Markandeya Buka Rahasia Sri Krishna adalah Titisan Narayana
•     Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori
•     Kebahagiaan Pejabat Publik Menegakkan Kebenaran
•     Menjadi Besar karena Melayani
•     Ibu sebagai Savitri, Ayah adalah Brahmana Dianggap Sudra Sebelum Ditahbiskan Veda
•     Hemat dan Menabung Wujud Pengamalan Agama
•     Memuji di Depan, Mencela di Belakang
•     Bunga Surgawi Saugandhika Ditemukan Putra Pandu
•     Bhima Diberikan Pengetahuan Perubahan Tiap Yuga Yuga
•     Memilih Pemimpin Bak Memilih Segunung Bibit Bunga
•     Pahlawan Memperjuangkan Anak Cucu
•     Meskipun Hidup Sukses, Tetaplah Berhati-hati
•     Jalan Suci bagi Hidup Insani
•     Shiva Sering Muncul di Ujjanaka Mencari Dewi Uma
•     Sungguh Memesona Pribadi Orang Beriman
•     Hidup Ini Bagaikan Air Mengalir di Sungai
•     Di Samanta-Panchaka Aturkan Persembahan pada Leluhur
•     Mohon Diceritakan Kisah Brahmana Pembantai Ksatria Itu
•     Mahadewa Siap Tahan Laju Derasnya Gangga dari Surga
•     Deda Adat Diminta Mandiri Tuntaskan Masalah Adat
•     Sri Rama Menunjukkan Wujud Brahman pada Parasurama
•     Pemimpin Bali ke Depan Menegakkan Dharma, Bukan Kejar Kekuasaan
•     Rishi Vyasa, Narada, Parvata Lepas dengan Puja Khusus ...
•     Kuningan, Lambang Hidup Aman dan Sejahtera
•     “Menghakimi” Laskar Pelangi
•     Besok, Puncak Karya Ida Batara Turun Kabeh
•     Memelihara Kebudayaan Hindu
•     ‘’Wei-De-Dong-Tian, Xian-You-Yi-De’’
•     PLN Tekan Konsumsi Listrik hingga 290 MW
•     Dilangsungkan Sehari Sebelum ''Pangerupukan''
•     ''Melasti'' di Danau Beratan Dibanjiri Umat
•     Prabu Nala Menyamar sebagai Vahuka
•     Penyebab Hidup Tidak Bahagia
•     Gajah Liar Menyerang Para Kafilah hingga Banyak yang Tewas
•     Indra: Phalguna Anakku, Dia Nara, Pertapa Hebat
•     Yama Tongkat, Varuna Jaring, dan Kuvera Antarddhana
•     Yama Tongkat, Varuna Jaring, dan Kuvera Antarddhana
•     Yudhishthira: Kematian Masih Lebih Baik
•     Sungai ‘’Disiksa’’, Sungai Pun ‘’Menyiksa’’ Kita
•     Meningkatkan Hidup Bagaikan Angkat Batu ke Gunung
•     Dussasana Berusaha Keras Telanjangi Draupadi
•     Adat Para Kshatriya Bharata Telah Lenyap
•     Edisi Lima Puluh Satu
•     Layak Jadi Pasar Seni
•     Dosa Besar Bertengkar dengan Saudara Satu Leluhur
•     Kata, Buku, Kita
•     Doa dalam Sepiring Nasi
•     Vyasa: Ditakdirkan Penyebab Kehancuran Para Kastria
•     Bhisma: Semua Wajib Tunduk dan Memuja Janarddana
•     Sri Krishna Diberikan Argya, Penghormatan Utama
•     Pimpin Keluarga Yadava, Bawa Hadiah Berlimpah
•     Krishna Lepas Ikatan Badan Titisan Jaya dan Wijaya
•     Palguna Kemudian Diberi Gelar Danajaya
•     250 Orang Ikuti Pendalaman ‘’Sradha Bhakti’’ WHDI
•     Bhima Tewaskan Raja Jarasandha Raja-raja yang Ditawan Penguasa Magada Itu Dibebaskan
•     Partha Tak Dapat Hidup Tanpa Sri Krishna
•     Jarasandha, Raja Sakti Putra Vrihadratha Disatukan Rakshaha Jara, Setelah Lahir Terpisah Dua
•     Arjuna Setuju dan Tak Gentar Melawan Raja Sakti Jarasandha
•     Raja Jarasanda Persembahkan 100 Raja
•     Yudhishthira Terus Memikirkan Upacara Rajasuya
•     Yudhishthira Puas Cerita Narada Soal Sabha Surgawi
•     Prinsip Memegang ''Tengah/Tepat''
•     Bupati Gde Agung Buka FSBB 2012
•     Narada Memberi Nasihat Panjang Lebar
•     Agni Melalap Habis Hutan Khandava
•     Idul Adha, Semeton Muslim Diimbau Tak Sembelih Sapi
•     Lima Ciri Manusia Bersifat “Sattwam”
•     Arjuna Dapat Kereta, Busur, dan Anak Panah Surgawi
•     Agni Lemas, Dipuaskan Mentega 12 Tahun Upacara Api
•     Subhadra Melahirkan Abhimayu
•     Perempuan yang Tersingkir dan Dimarginalkan
•     Lima Ekor Buaya Dibebaskan Kutuknya
•     Arjuna Kawin dengan Putri Chitrangada
•     Saat Mandi di Sungai Gangga, Ulupi Menarik ke Daerah Naga
•     Tilottama Sukses Memicu Duel Sunda dan Upasunda
•     Menguatkan Eksistensi Varna Asrama Dharma
•     Rishi Narada Berkunjung ke Indraprasta
•     Pandava Disambut Prabu Dhritarashtra
•     Pandava dan Draupadi Pulang ke Tanah Leluhurnya
•     Kakek Bhisma dan Guru Drona Usulkan Pandava Dijemput ke Panchala dan Diberi Setengah Kerajaan
•     Hidup Ini Berenang di Lautan Madu dan Racun
•     FGMPB Persembahkan Kreasi Budaya Gong Luang
•     Vyasa Tak Persoalkan Pernikahan Pandava-Draupadi
•     Shalya dan Karna Kalah, Raja Lain Tunduk
•     Radheya Nyaris Berhasil Memanah Sasaran
•     Berada di Panchala, Menumpang di Perajin Priuk
•     Cubang Penampungan Air Hujan di Kubu Karangasem
•     Ayahnya Dibantai, Parasara Bertekad Hancurkan Dunia
•     Cucu Vasishtha Ucapkan Veda Dalam Kandungan
•     Kemasukan Roh Rakshasa, Semua Anak Vasishtha Dimakan
•     Dikalahkan Arjuna, Gandharva Wariskan Chakshushividya Dapat Melihat Apa pun yang Ingin Disaksikan
•     Drona Membagi Setengah Kerajaan Panchala
•     Drona Mempunyai Putra Aswatthaman
•     Kailasha Surga Semesta
•     Bhima Diserahkan Sebagai Upeti Kepada Rakshasa Kekuatannya Setara 10.000 Ekor Gajah
•     Takut Jadi Persembahan untuk Rakshasa Vaka
•     Sang Istri Ngotot Diserahkan untuk Korban Rakshasa
•     Yudhishthira Diramal Kelak Memerintah Raja-raja di Bumi
•     Rakshasa Hidimva Saling Tantang Dengan Bhima Adiknya Hidimvi Juga Akan Dibantai Karena Jatuh Cinta
•     Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung
•     Dengki pada Pandava Dhritarashtra Dorong Putra Pandu Kunjungi Kota Varanavata
•     Generasi Ke-47 Prabu Janamejaya Gelar Upacara Kurban Ular, Pembenaran Tiga Kutukan
•     Raja Parikshit Dikutuk sang Sringin Sambut Kematian dengan Meditasi pada Narayana
•     Generasi Ke-46 Prabu Parikshit
•     Prabu Dhritarashtra Diajari Kanika
•     Drona Bagi Dua Kerajaan Pancala Partha Diberi ''Brahmasira'', Mampu Melalap Bumi
•     Tanpa Susila Kekuasaan akan Sia-sia
•     Membangkitkan Spirit Semesta
•     Arjuna Demonstrasikan Keterampilan Penguasaan Senjata Karna Hadir Menunjukkan Diri sebagai Musuh
•     Di Antara Pangeran, Arjuna Seorang ''Atiratha'' Ekalavya Ditolak Berguru kepada Drona
•     Drona, sang Guru Pangeran Kuru Demo Mengambil Bola di Sumur dengan Ilalang
•     Bhimasena Minum ''Rasakunda'' Milik Raja Naga Vasuki Kekuatan Jadi Tidak Terukur
•     Prabu Pandu Wafat Kunti dan Panca Pandawa Diajak ke Hastinapura
•     Kunti Melahirkan Arjuna Titisan Indra Disambut Semua Dewa, Aditya, Rudra, Vasu, Rishi
•     Menyambung Dinasti Kuru Kunti Gunakan “Adithyahrdya” Undang Para Dewa
•     Dengar Ratapan Jelang Kematian Rishi Kandama
•     Profesi Kekal Sebelas Karmelit Awam Bali
•     Pernah Tusuk Serangga, Tangan Rishi Akhirnya Terpancak
•     Yudhishthira Anak Tertua Pewaris Kerajaan Kuru- Bima Lahir Bersamaan Duryodhana yang Meringkik
•     Lomba Seni dan Sains 2012
•     Satyavati Minta Keturunan Bharata Tak Putus Komit Brahmacari, Bhishma Tolak Kawini Istri Adiknya
•     Meditasi untuk Anak-anak
•     Budaya Belajar
•     Prabu Santanu Menikahi Dewi Gangga Tujuh Anak Dibuang ke Sungai, Kedelapan Devavrata
•     Delapan Vasu Dikutuk Brahmarishi Vasishtha Mohon Dewi Gangga sebagai Ibunya di Bumi
•     Kembalikan Kejayaan Dinasti Bharata Vasishtha Diangkat sebagai Pendeta Kerajaan Dinasti Ke-32
•     Mala dan Hujan
•     Seni Wadah Menyebarkan Kebenaran dan Kesucian
•     Muni Sejati Berikhtiar Bershadana dengan Sepirit Tanpa Pamerih
•     Pitra Yadnya dan Lansia Miskin Telantar
•     Nyanyian Suci dalam Terjemahan Bergambar
•     Jangan Menyakiti dengan ’’Panah’’ Kata-kata Kasar Orang Bijaksana Hidup Selalu ’’Puas”
•     Bertapa Keras Prabu Yayati Naik Ke Sorga Tak Marah dan Pemaaf, Adalah Bijaksana
•     Pemahaman Hakikat Kebangsaan
•     Selera Tak Pernah Dikenyangkan Kenikmatan
•     Kutukan Rishi Sukra Yayati Dihilangkan Kemudaannya Alias Jadi Jompo
•     Mempunyai Tiga Anak dari Sarmishtha Devayani Adukan Prabu Yayati kepada Sukra
•     Bali, di Antara Tradisi dan Modernitas
•     Nyanyian Suci dalam Terjemahan Bergambar
•     Devayani Minta Ayahnya Menyerahkan Dirinya kepada Prabu Yayati
•     Sarmishtha Akhirnya Senangkan Devayani Sukra dan Anaknya Tak Jadi Tinggalkan Asura
•     Sang Kacha Tolak Devayni sebagai Istri
•     Hidupkan Sukra setelah Keluar dari Perut Gurunya
•     Rishi Sukra Minum “Abu” Muridnya Disajikan Asura Yang Mencampur Dengan Madu
•     Puncak Kualitas Daya Budi...''Melajah Nutur hingga Matur''
•     Tingkatkan Pengawasan Obat dan Makanan
•     Silsilah Dinasti Bulan dan Surya Sri Rama, Tokoh yang Termasyhur Dinasti Suirya
•     Rishi Astika Memohon Hadiah Upacara “Korban Ular” Dihentikan
•     Rishi Astika Senangkan Prabu Janamejaya Raja Pertimbangkan Beri Hadiah
•     Bangun Adat Meredam Kekerasan
•     Jejak Rsi Markendya di Lereng Raung
•     Sang Istri Dianggap Salah dan Ditinggal Pergi
•     Jaratkaru Sedih Melihat Para Pitri Tergantung Tali
•     Ungkap Pentingnya RUU Perlindungan Budaya
•     Para Ular Melakukan Ritual Pensucian Sakra Alias Indra Mencuri Lagi Amrita
•     Mengambil Amrita untuk Bebaskan Ibu dari Perbudakan
•     Brahmana Memasuki Tenggorokan sang Pengelana Angkasa
•     Indra Turunkan Hujan, Para Naga Bergembira Ria
•     Garuda, Lahir dengan Telur Pecah Sendiri
•     Upacara Korban Ular Rishi Jaratkaru Kawini Jaratkatu, Adik Vasuki
•     Vasuki Berencana Gagalkan Upacara Korban Ular
•     Brahmana, Inspirasi Makhluk agar Percaya Tuhan
•     Seekor Naga Tua Sadarkan “Keberingasan” Rishi Ruru
•     Menjelang Menikah dengan Ruru,Pramadvara Dipatuk Ular
•     Agni, Mulutnya Para Dewa dan Pitri
•     Naradha Nasihati Arjuna Menjadi Sannyasa
•     Ringkasan Cerita Anusasana dan Aswamedha Parva : Arjuna Bertarung Lawan Putranya Sendiri, Vabh
•     Sawma Awards, 18 Aktor dari 17 Grup Teater Unjuk Gigi
•     Kata Kasar Membuat Sirnanya Kebahagiaan
•     Arjuna Panah Drona dengan Senjata Narayana
•     Menunggu Hari Baik Utarayana Bhishma Berbaring di Atas Puluhan Panah Arjuna
•     Samanta-panchaka,Tempat ''Perang Sudara'' Barathayuda
•     Membina Tradisi yang ‘’Bergizi’’
•     Dianugrahi Senjata Pasupata Arjuna Lebih Dulu Bertarung lawan Mahadewa
•     Arjuna Larikan Subadra Atas Dorongan Calon Iparnya, Sri Krisna
•     Pada Barathayudha Selama 18 Hari di Tegal Kuruksetra
•     Pejabat Publik Wajib Ciptakan ''Raksanam'' dan ''Dhanam''
•     Pergeseran Budaya Kreatif
•     Tumbuhkan Kebersamaan
•     Brahma Kabulkan Permintaan Dewi Bumi
•     Tiga Kali Menitis Lawan Avatara
•     dengan Missi Mengamankan Pelaksanaan Dharma
•     Dongeng Sandal Jepit
•     Shiva Menikahi Sati, Anak Rishi Daksa
•     Danawa Maya, Arsitek Kerajaan Megah Pandawa
•     Kelahiran dan inkarnasi Penciptaan dan penghancuran
•     Mereka yang Dapat Disebut ''Bhakta''
•     Bharathayuda 18 Hari, 4,7 Juta Prajurit Gugur
•     Pelajari Bharata Empat Bulan Seluruh Dosa akan Dicuci Bersih
•     Satu-satunya pengaruh Sastra Cina dalam Sastra Bali
•     Bingung Cari Juru Tulis
•     Dosanya Dibebaskan, Lima Danau Jadi Tempat Suci
•     Dosa-dosanya Membunuh Ksatria, Dibebaskan
•     Lima Sikap Hidup Tumbuhkan ‘’Asuri Sampad’’
•     Bentuk Budaya Kota, Berbuat Berdasarkan Filosofi Agama
•     Galungan Menang Melawan Diri Sendiri
•     Siwaratri Menguatkan Kesadaran Jiwa
•     Meniti Hari-hari Kecemerlangan...
•     Hidup Lebih Sukses
•     Lindungilah Tumbuh-tumbuhan Sumber Makanan dan Obat
•     Wayang Wong Tejakula di Tengah Ruang Modern
•     Weda Wakya
•     Antonio Blanco di Sydney
•     Minoritas Jangan Dieksploitasi
•     Konferensi Topeng Internasional Digelar di Buleleng
•     Berkorban Nyawa Demi Persatuan Nusantara
•     Oleh Ni Putu Rastiti
•     Dalam Karya Uuk dan Ari
•     Pendidikan Watak Lewat Pergaulan Mulia
•     Iwan Fals Jadi Dalang
•     Pendidikan Karakter Membentuk Siswa Lebih Peka
•     Angel Lelga Rilis Single “Baby I L U”
•     Sifat Politisi Dalam Kehidupan Pragmatis
•     Implementasikan Nilai-nilai ''Panca Dresta''
•     Apresiasi Pameran Patung di Desa Budaya
•     Dari Pameran Foto di Undiksha
•     Tujuan Pemujaan Tuhan Pencipta Surya
•     “New Historicism" atau Sejarah Baru
•     Hindari Bermusuhan dengan Saudara
•     Budaya, Adat, Maagama Hindu?
•     Ibu dan Anak
•     Modal Budaya Seharusnya Mampu Menundukkan Kapitalisme
•     Menegakkan Makna Tatwa Desa Pakraman
•     Konsekuen Jabarkan Konsep Tri Hita Karana
•     Garuda ''Sang Pembebas'' dari Bahan Koran
•     Cerai
•     Makna Tatwa Upacara Atma Wedana
•     Genealogi Tindak Kekerasan dalam Masyarakat Bali
•     Ranting
•     Tabanan Mengusung Mario sang Maestro Nan Virtuoso
•     BERINGIN
•     "Makotekan" Sahur hingga Takbiran
•     Bisa Kelola Peluang
•     Memahami Empat Jenis Putra
•     Isi Kemerdekaan dengan Tujuh Hal
•     ''Pendet Mahardika'' Menggedor Ke-Indonesiaan
•     "Matindih" dalam Pengangkatan Anak
•     Semoga Kebaikan Datang dari Segala Penjuru
•     A Y A H
•     Mengawinkan Butoh dengan Lukisan
•     Chili Festival ke-3 Hadirkan 300 Macam Sambal
•     Pura Tri Hita Karana, Berlin Implementasikan Kearifan Lokal
•     Lebih ke Fisik, Pembangunan Jiwa dan Raga Terabaikan
•     Perlu 'Revolusi' Pemberdayaan Sektor Pertanian Bali
•     Sarasehan Pendidikan Berkarakter Budaya Daerah
•     ISI Denpasar Gelar Lomba Cipta dan Desain
•     ''Makotek'', Tradisi Tolak Bala
•     Kenapa Jurnal Sajak?
•     EMAK
•     Kesenian Bali Vz Tsunami Globalisasi Budaya
•     POHON
•     Kesenian Ketungan
•     ''Sira Arya Wang Bang Pinatih'' Hibur Pengunjung PKB
•     Tak Pernah Mati meski Generasi Berganti
•     Barong Vs Rangda di PKB
•     Ekspresi Liar Musisi ''Gila''
•     Seniman Kepulauan Sangihe Meriahkan PKB
•     Transformasi Bela Diri ke dalam Gerak Tari
•     Seniman Kepulauan Sangihe Meriahkan PKB
•     Ekspresi Liar Musisi ''Gila''
•     Barong Vs Rangda di PKB
•     India Persembahkan Tarian ''Kathakali''
•     Hidupkan Joged dan Janger
•     Parade ''Ngelawang'' Tetap Memikat
•     Joged Penting Jadi ''Penting''
•     Lewat ''Exhibition & Farewell Party''
•     Walau Dipapah, Ekspresinya Masih Kuat
•     Memohon Kemakmuran di Pura Agung Pecangakan
•     KPK Harus Usut Anas dan Menpora
•     PKB, Lokomotif Penggerak Rekonstruksi Kesenian Langka
•     Galungan dan Penyucian Ilmu Pengetahuan
•     CIDOMO
•     Embrio Penari Gambuh Tampil Elegan
•     Semar Pagulingan Banjar Binoh Tampil Memukau
•     Gambuh Anak-anak Undang Gelak Tawa
•     Kehilangan Gereget
•     Memasuki Taman "Sebait Pantun Bujang"
•     Cerpen Alex R. Nainggolan
•     Musik Baru untuk Gambelan Bali
•     Pengertian dan Makna Berjapa
•     Belajar dari Pohon 3: Air dan Api
•     Belajar dari Pohon 1: Memperkuat Akar
•     Belajar dari Pohon 2: Mendapat dan Melepas
•     Oleh WS. CH. Budhi, S. Pribadi, SP
•     Gemerlap Pesona Legong di Pentas PKB
•     Generasi Penerus Kejayaan Dramatari Arja
•     Erotisme Marak, Seni Tradisi Melarat
•     Tampilkan Tari Klasik..Penari Jepang Tebar Pesona
•     Fragmentari "Manik Angkeran"
•     Stan Kerajinan Ramai Pengunjung
•     Meluruskan Pengertian ''Desa Kala Patra''
•     Prabu Parikesit dan Sedah Wong
•     Makepung dan Maguling-Gulingan Bertabur Gelak Tawa
•     Ngayah untuk Seni
•     Papua, Peringkat II Dharmawidya SMP
•     Mengkritisi UDG XI Perlu Didorong Etnis Lokal
•     Pedharma Wacana Sulsel Memukau
•     Gringsing, Perang Tenun vs Sutra
•     Mimpi
•     Menjauhkan Politik Transaksional
•     Made Jimat Suguhkan Tari Jauk Manis
•     Mengatasi Kemiskinan Kultural dan Struktural
•     Joko Tarub dan Dewi Langit
•     Tertarik Sutradarai Drama Gong
•     Manusia Merusak Alam Tak Beda dengan Hewan
•     Kelas Menengah Bali dan Mimpi Otentisitas Budaya
•     Seniman Karangasem Tampil di Pesona Budaya TMII Jakarta
•     Lewat Pertolongan Orang Lain
•     Sendratari Bali Menyatukan Bangsa
•     Lindungi Alam dan Manusia dari Kejahatan
•     Menonjolnya Sifat-sifat Keraksaan
•     Puisi Sebagai Perang Filsafat
•     Berawal dari Musik Pop
•     KEYLA dengan Formasi Baru
•     Kisah Cinta Bali Kuno Dalam Balutan Seni
•     Tuhan Turun Beravatara Melindungi Ciptaan-Nya
•     Tips Menjaga Keindahan Kain Tenun Lurik
•     Cerpen WAYAN SUPARTHA
•     Menulis, Indikator Profesionalisme Guru
•     Kajian Budaya Memerlukan Penjelasan Teoritis
•     Ketika Calonarang ''Ngereh'' di Siang Bolong
•     Memuja Tuhan untuk Kemakmuran yang Adil
•     Pendidikan untuk Perubahan
•     Gema Waisak
•     Mulia, Pahala Melakukan Pesantian
•     Penembang Wargasari
•     Mencari Jagoan yang Cerdas Meski Tak Perkasa
•     Serumpun tapi Tak Rukun
•     Irang Rekam Lagu Nuansa Rock
•     Meriahkan Halo Sultra 2011
•     Wanda
•     weda wakya
•     Miskin, Kaya dan Cukup
•     Barisan Tari Baris Kawal Pulau Bali
•     Jika Tuhan Ada di Mana-mana, Mengapa Bangun Pura?
•     Kembali ke Musik
•     Ingin Harumkan Musik Indonesia
•     Menyuap, Berjudi, Menipu Wajib Dihukum
•     Berlian dan Pecintanya
•     Rekam Lagu Tapanuli
•     Diuntungkan Berwajah Oriental
•     Membalas Budi Orangtua
•     Kebo Iwa, Dipuja-puji Dalam Pentas Seni dan Politik
•     Gagasan Mulia Jangan Diwujudkan dengan Marah
•     Mencari Jawaban di Persimpangan Jalan
•     Belajar Berdialog dengan Alam dan Air
•     Bunuh Diri dan Masalah Kesehatan Masyarakat
•     Renungan Minbar Agama Kristen Protestan
•     Tujuh Perilaku Mengamalkan Dharma
•     Menyucikan Laut dan Gunung
•     Menghargai Kepercayaan Orang Lain
•     Pemujaan Tri Murti untuk Kendalikan Tri Guna
•     Manjadi Ben Hur dan Titanic
•     Dosa Penegakan Hukum tanpa Keadilan
•     Tantri Penggemar Pink
•     Wayang Betel Cambuk Wayang Kulit Bali
•     Perkembangan Sastra Bali Modern 2010
•     Mengembangkan Pariwisata Spiritual
•     ''Bali: Art, Ritual, Performance'' Terbesar di AS Sepanjang Sejarah
•     Cinta, Kasta, Rasa
•     Band Samantha Lagu ''Bibir'' Diprotes KPI
•     Pejabat Negara Agar Fokus Ngurus Warga Negara
•     Lindungi Kecerdasan dengan Bhakti pada Tuhan
•     Membongkar Manusia, Mempertanyakan Manusia
•     Indra Herlambang Jadi "Teroris"
•     Luna Maya Main Operet
•     Demi Kebaikan dan Kenyamanan Hidup Hindari Empat Hal
•     Awal Yang Menentukan Hanya Satu Jam Saja
•     Indah Septiari Dewi Kangen Nyanyi di ''Bali TV''
•     Tari Tradisional Bali Diusulkan ke UNESCO Upaya Dapat Pengakuan sebagai WBD
•     Hidup Bahagia Itu Mengatasi Suka Duka
•     Nilai Kepahlawanan "Perang Jagaraga" dalam Tabuh Balaganjur
•     Kemerdekaan yang Memabukkan Itu
•     Gunakan Jnana Bala Atasi Penderitaan
•     Wayang Lemah Masih Kokoh Di Bumi "Banten"
•     Mengikuti Ibrahim, Meneladani Keindahan Akhlaknya
•     Bhuta Yadnya Itu Melestarikan Alam Bukanlah Pembantaian
•     Berkaca dari Kehidupan Serangga Penghasil Madu
•     Kreativitas Tinggi yang Perlu Pembenahan
•     Desa Kala Patra Dasar Berdana Punia
•     Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya
•     Ussy Sulistiawaty Berharap Menang
•     Memaknai Hari Raya Keagamaan
•     Kemajuan Pariwisata Bali Belum Mampu Sejahterakan Rakyat
•     Parade Gong Kebyar Se-Kota Denpasar Bangun Gairah dan Kuatkan Jati Diri
•     Indah Dewi Pertiwi Rekor MV Termahal
•     Wayan Naya Pameran Tunggal di Damping Gallery
•     Okokan Buka Parade Budaya Tabanan
•     Konser Gitar Klasik, Guru dan Murid Satu Panggung
•     Bergaya Modern, Tetap Pertahankan Budaya Bali
•     Bawa Opera "Banjaran Gatotkaca" ke Australia
•     Kelembutan adalah Kekuatan
•     The Virgin Main Film "Penganten Sunat"
•     Serahkan Bantuan Rp 10 Juta
•     Oleh WS. CH. Budhi. S. Pribadi.SP
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Rahasia Tongkat Ajaib Harry Potter
•     Melalui Sastra, Sejarah Dituturkan
•     ''Solitude of The Earth II'' Perupa Bali Bicara Lingkungan
•     Bali Berjaya dalam Film Dokumenter Tingkat Nasional
•     Penguasa harus Melindungi Catur Asrama dan Catur Varna
•     Pesta Sajak "Segara Anak"
•     Agum Gumelar Dukung Konser 1000 Band United Lebih Besar dari Woodstock
•     Putu Astrid Mengais Rezeki dari Menari
•     Denny Malik Gelar "The Glory of Sriwijaya"
•     Empat Hal yang Selalu Ada Di Rumah Orang Baik
•     Dari Wayang Wong Tejakula Melacak Kembali Kelahiran Seni Topeng Dunia
•     Haji, Mengikuti Jejak Tokoh Teladan
•     Warisan Budaya dalam Film Holiwood
•     Sinta, Gadis Lupus yang Mengagumkan
•     Angkus Prana Gaungkan Kebahagiaan, Kedamaian, dan Kesejatian dari Museum Rudana
•     Saba Kumpul dan Nyanyi Bersama
•     Mario Blanco: Mari Berbagi dan Peduli Dalam Seni
•     Hitler Mati di Indonesia
•     Jagat Bali Keajaiban Kekuatan Tuhan di Pura Goa Giri Putri
•     Tiga Pratima Ditemukan di Ceningan
•     Indah Kalalo Tampil Panas
•     ''Pelebon'' Raja Peliatan IX Jadi Atraksi Budaya Diiringi Gajah dan Kuda
•     David Foster Konser untuk Bencana
•     Stanley Sagala Yang Penting Kreativitas
•     Indek Pembangunan Manusia Menurut Hindu
•     Maribeth Teringat Bali, Ingin Jadi WNI
•     Satu Panggung, Dua Cerita
•     Sekaa Demen Bali Gelar Yoga Festival
•     Jakarta Blues Festival Rama Satria Tampil Memukau
•     Jero Wacik Resmikan Bali Theatref
•     Upaya Mengangkat Roh ke Sorga
•     Tahun 1895 Singaraja sudah Kedatangan Komedi Stamboel
•     2011, Bon Jovi Diundang ke Indonesia
•     Wacik Harapkan Miss Universe Ceritakan Keindahan Indonesia
•     Band Inggris Arkarna Kagumi Penonton Indonesia
•     Prosesi Penyucian "Pratima" Terkait Tumpek Landep
•     Oleh WS. CH. Budhi, S.Pribadi, SP
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Ada Kantor Telepon, Ada Gudang Opium
•     Memandang Bali dengan Objektif
•     Java Rockn Land Diguyur Hujan Deras
•     Hidup Dalam Hiruk Pikuknya Dunia Modern
•     Pengembangan Desa Wisata di Bali Konsep Jitu Lestarikan Adat, Budaya dan Alam
•     Baru 13 Judul Film Terdaftar di FFI
•     Erick Yusuf Bangkit Kembali Rekam Musik Nasyid dan Jazz
•     Jegog Meriahkan Festival Musik Bambu Nasional
•     NDF Penuh Nuansa Budaya
•     Tertib Lalu Lintas dalam Karikatur Siswa
•     Ira Maya Sopha Dijuluki Monster
•     Ayu Laksmi Bernyanyi di Rumah Sendiri
•     Konser Gamelan Bali di Tanah Leo Tolstoy
•     Pagelaran Barong Brutuk Sebagai Upacara Ritus Kehidupan
•     Pembaharu Sastra Bali Tradisional
•     Memperbaiki Prilaku dan Kebiasaan
•     Buah Pala Atasi Susah Tidur
•     Asmirandah Pilih Jadi Sutradara daripada Akting
•     Pembaharu Sastra Bali Tradisional
•     Baliwood di SMK 01 Mas, Ubud Garap FTV ''Kunci Berdarah''
•     Buat Film Drama Kemanusiaan
•     Bhatara Datonta dan Barong Brutuk, di Truyan
•     Jauhi Sikap Hidup Eksklusif dan Dikotomis
•     Jumlah Kendaraan dan Penduduk Tak Seimbang
•     Joged Menggoda, Seni Klasik Penuh Pesona
•     Kangen Menyanyi
•     ''Workshop'' Budaya Jepang di SMAN 1 Ubud
•     Semara Ratih Keliling Eropa
•     Dhawiya Zaida Geregetan Jadi Penyanyi
•     Kisah Timun Mas dan I Gusti Pasekan Tonjolkan Kearifan Lokal di Layar Kaca
•     Bali Agung" Pukau Pengunjung Bali Theatre
•     Iwan Fals Kampanye Hijau
•     Lagu Perjuangan Masih Eksis dalam Pergaulan Remaja
•     “Hanoman Duta" Digelar di Tanah Kelahirannya
•     Sembahyang Kepada Leluhur dalam Budaya Tradisi Konfusianitas
•     Lomba Foto dan Film Dokumenter Bali Berjaya di Tingkat Nasional
•     Bali Berjaya di Tingkat Nasional
•     Vera Lasut Modal Nekat
•     Kate Winslet Teman Biasa
•     Mengembangkan Lingkungan Sosial yang Mendukung Kriya Seni
•     ''Darah Garuda'' Epik Perang Demi Kemerdekaan, Persatuan, dan Toleransi Beragama
•     Sastrawan, Mahasiswa, dan Pejabat Meriahkan Pesta Puisi Kemerdekaan
•     Lomba Foto Pembangunan
•     Sentuh Hubungan Emosional
•     FTV ''Kebo Iwa'' Dibintangi Artis Jakarta dan Bali
•     Raih Muri Mainkan Karya Scott Joplin
•     Lepas Album Balada Shalawat
•     Barong dan Barong dalam Foto
•     Sastra Bali Modern Milik Siapa?
•     Menyoal "Buah" Puasa Dalam Diri Kita
•     Pengertian Merdeka Menurut Hindu
•     Musik Sarana Bangun Karakter GBN Meriahkan HUT RI
•     Nyanyikan Lovina Bali Kelompok Rare Kual Disambut Hangat di Jakarta
•     Debu Rilis Album "Dianggap Gila"
•     Batik Warisan Budaya Asli Indonesia
•     Tampil Estetik, Perlu Ruang Kreasi
•     Beda Manusia Durjana dan Sujana
•     Usung Konsep ''Tri Hita Karana''' Gunawan Jajal Beijing Biennale 2010
•     Episode Terakhir Malam Ini di Bali TV
•     Diprotes, Tajen dengan Kedok Bangun Pura
•     Bali sebagai Penyaji Terbaik
•     Video Keong Racun Tembus 1 Juta Hit di YouTube
•     Brahmana Keling Pukau Penonton
•     Bahagia Berduet dengan Wedhasmara
•     Myanmar-Indonesia Art Exchange 2011 di Bali
•     Pandita dan Kala Jengking
•     Prinsip Bisnis Membangun Kesejahteraan Yang Adil
•     Lana, Penyanyi Jazz Belia
•     Platinoem Band Dikawal Lima Mahasiswa Berprestasi
•     Festival Seni Tradisional Daerah Se-MPU di Mataram Bali Tampilkan ''Dukuh Siladri'' dan ''Siwa Ling
•     Festival Seni Tradisional Daerah Se-MPU di Mataram Bali Tampilkan ''Dukuh Siladri'' dan ''Siwa Ling
•     Gelar Tur di Empat Kota Jateng
•     Scientia" Dan "Sapientia"
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Perjalanan Meramu Musik Tradisi dan Modern
•     Memberdayakan Kantung-kantung Budaya
•     TARI PENDET, DARI PULAU DEWATA MENGERLING DUNIA
•     Membangun Karakter Melalui Cipta Seni dan Kreativitas
•     Teater Angin Smansa Gelar Lautan
•     Prihatin, Bahasa Bali Mulai Jarang Digunakan
•     Menabung Mengendalikan Keinginan
•     Kolaborasi Sekaa Gong Bali dengan Jerman
•     Seni Tradisi Membangun Identitas Bangsa
•     Pesona Kebyar Legong Seniman Paman Obama
•     Pesan-Pesan Kebijaksanaan
•     Lomba Cipta Seni Pelajar 2010 Digelar di Istana Tampaksiring
•     Dr. Wedakarna Terima Gelar Ksatria Mahautama Bali Dwipa
•     Tingkat Hunian Hotel di Bali Berangsur Turun
•     Di Film ''Selimut Berdarah'' Enno Lerian Berbikini
•     Senin, 12 Juli 2010
•     Tak Terpengaruh Ariel Peterpan
•     Fikom Universitas Dwijendra Raih Juara II Film Dokumenter
•     Memeriahkan Puisi dengan Musik Band
•     Bercengkrama dalam Kolaborasi Seni
•     Tradisi Membangun Identitas Bangsa
•     Jegog Menyengat, Penari Jepang ''Ngelangunin''
•     Bendana Muli Jegeg Kolaborasi Tiga Etnis di Lampung Timur
•     Dewa Putu Mokoh di Mata Ketut Sudra Seniman Besar Bali yang Patut Diteladani
•     "Drupadi Alpita"Telanjangi Kehormatan
•     Gali Terus Kearifan Lokal Bali
•     Gambuh mesti Tetap Eksis
•     Tanjek PKB Magnet Joged Masih Kuat
•     Atraksi "Ngurek" Warnai Parade ''Ngelawang''
•     Terbuai Pesona Tari Saman
•     Sebuas-buas Macan, Tak Pernah Memangsa Anak Sendiri
•     Gong Kebyar Wanita Tak Sekadar Numpang Lewat
•     Hasan Faruq Ali Belum Puas Jadi Obama Kecil
•     Dayak Kalbar Suguhkan Tradisi Agraris
•     All Indonesian Rock Star Band Pembuka Slash
•     Suku Dayak Tampilkan ''Coritanya Muntuh Mula''
•     Arja RRI Denpasar ''Banjir'' Penonton
•     Dari Arena PKB XXXII "Arja" Klasik Bikin Asyik
•     Tanjek PKB Tetaring Roboh, Stan Kemasukan Air Hujan
•     Abiyoga Gelar ''Tajen'' di PKB
•     Senin (28/6)
•     Parade Ngelawang
•     Mengenang Tuhan Lewat Wayang
•     Ada Tiga Jenis Manusia Menurut Keinginannya
•     Persembahan Seni Generasi Pelestari Arja
•     TANJEK PKB Drama Gong belum Ditinggalkan
•     Atraktif, Siap Jadi Primadona Baru PKB
•     Menbudpar:Film Harus Mencerdaskan
•     Puisi Musik Gebrak Panggung PKB
•     Mencoba Bangkit dari "Tidur Lelap"
•     Mengukur Sebuah Keindahan
•     Fragmentari Suddhamani Sarotama ''Guncang'' Ardha Candra
•     Jadwal PKB XXXII Sabtu (19/6)
•     ''Three Solo'',Plastisitas Gerak Virpi Pahkinen
•     Selonding, Kegiatan Berkesenian Nenek Moyang
•     Lecehkan Pemangku Pura, Oknum Maharsi Dikenakan Sanksi Adat
•     Perhiasan dan Kebaya Diminati
•     ''Loloh'' Cemcem Diminati
•     Bali pun Bisa Garap Sinetron dan FTV
•     Tanjek PKB XXXII Pameran Seni Rupa
•     Senin (14/6)
•     Mengabdi Kejayaan Seni hingga Usia Senja
•     Barong Waluh Pukau Gubernur
•     Memberontak Demi Musik
•     Pawai ''Bhuana Kerthi'' Awali Pesta Rp 5 Miliar
•     PESTA SENI BUKAN PANGGUNG NEGARA TEATER BALI
•     Pesona Sendratari Yang Mencerahkan Moral
•     Pergulatan Batin Seorang Perempuan
•     Arkeologi Pulau Seribu Pura
•     Menemukan Keajaiban Dialog
•     Dimana Wanita Dihormati Disana Para Dewa Melimpahkan Anugerahnya
•     Pasamuan MUDP, Kasepekang Semestinya tak Diberlakukan
•     Lebah Ratu Tambah Koleksi Taman Budaya
•     Prioritaskan Bangun Karakter Bangsa
•     Hari Perayaan Duan-Yang/Peh-Cun
•     Renungkanlah Enam Hal dalam Hidup
•     Revitalisasi Pendidikan Pancasila
•     Biaya Rp 12 Milyar, Didanai Seorang Hindu
•     Saman, Tari Seribu Gerak
•     Deedeee dengan Album Urban Pop
•     ''Satya Synergy Award''
•     Legong Keraton Kian Redup Binarnya
•     Jangan Biarkan Anjing Menyebarkan Rabies
•     Sekilas Tentang Pura Pangrebongan Kesiman
•     Seni Rupa Mulai ''Dilupakan''
•     Kreasi Tari ''Nara Simha'' dan ''Mithya'' Tampil Memukau
•     Kembali Mempersembahkan
•     Kreasi Tari "Nara Simha" "Mithya" Tampil Memukau
•     Afgan Ingin Seperti Frank Sinatra
•     J Rocks: Fashion Penting di Musik
•     Pemujaan Tri Murti untuk Mengendalikan Perubahan
•     Al-Qur'an, Tak Sekadar Dibaca
•     Ribuan Penonton Saksikan Makotek di Munggu
•     Film Drama Musikal Anak Penuh Persahabatan
•     Tampil Menarik dengan Gaya Etnik
•     Film Drama Musikal Anak Penuh Persahabatan
•     Film Drama Musikal Anak Penuh Persahabatan
•     Tawarkan ''Super Pop''
•     Anugerah Kuningan Saat ''Satvika Kala''
•     Ekspresi Estetis Pada Karya Seni Fotografi
•     Eksotisme ''Ngelawang'', Romantisme Usang
•     Penolak Bala hingga Mengais Rezeki
•     Seniman Tua Gianyar Melenggang ke Belanda
•     Memaknai Hari Raya Galungan
•     Tiga Tugas Ilmuwan Memperingati Galungan
•     Melebur Batas Ilmu antara Ruang Sakral dan Akademis
•     RESENSI BUKU
•     Penjor Galungan, Swadharma Seni Umat Dalam Mewujudkan Rasa Bhakti
•     Well& Berawal Dari Medana Punia
•     "The Almer" Pangeran Tampan dari Kampung Arab Surabaya
•     Stanley Sagala Rekam Lagu Rohani
•     Signals Diproduseri Ernest Cokelat
•     Menyibak Hening Cahaya
•     Oleh I KOMANG ARBA WIRAWAN
•     Membangun Budaya Baru di Bali Utara
•     Perang Pisang di Tenganan Dauh Tukad
•     Lilin Lilin Kecil dan Mimpi
•     Mitos Cantik dan Kendali pada Tubuh Perempuan
•     Biarkan Aku Menari
•     Diterima Wakil Menteri Pendidikan Nasional
•     Modifikasi Pecahkan Rekor Muri
•     Dari Titik Berbeda, Menemukan Titik yang Sama
•     “Ziarah" Keindahan Guy Roussille
•     Sembilan Insan Musik Dirikan "Reuni" Makin Tua Makin Berkarya
•     Ny. I.A. Selly Mantra Pimpin Penampilan Tari Pendet
•     Kerispatih Sulit Cari Vokalis Pengganti Sammy
•     Membangun SDM yang Sakti
•     Memburu Keseimbangan dalam Puisi Alam
•     Slank Belum Dapat Izin Konser Tunggal
•     Bali Perlu Miliki Museum Warisan Alam
•     Selasa, 6 April 2010
•     Senin, 5 April 2010
•     Kesenduan yang Menghibur
•     Perempuan-perempuan Imajiner di Simpang Kenyataan
•     Parade Gong Kebyar, Langkah Sangat Bijaksana
•     Perempuan-perempuan Imajiner di Simpang Kenyataan
•     Musik Merangsang Perkembangan Otak Bayi
•     Produk Pro Audio Indonesia Tampil Di Frankfurt Prolight + Sound 2010
•     dan Menggambar ''Pradnya Kirana''
•     Band Kampus Bisa Unjuk Gigi di A Soundversity
•     Gambuh, Mengabadikan Spirit Toleransi
•     Nasib Pengajaran Sastra dan Budaya
•     Menyeimbangkan Dinamika Purusa dan Pradana
•     "Bedoyo Legong Calonarang", Sebuah Kolaborasi Unik
•     Mencari Nikmat di Jalan Sesat
•     Makna Hari Nyepi Ditinjau dari Sudut Fisafat
•     Simbol Bumi
•     Seniman Sebagai Pengawal Taksu Bali
•     MAKNA HARI RAYA NYEPI DITINJAU DARI SUDUT FILSAFAT
•     Oleh WS. CH. Budhi S. Pribadi. SP
•     Oleh I Ketut Wiana
•     JK: Film 3G Bisa Tularkan Hal Positif
•     Diah dan Tulus Duta Buleleng
•     Untuk ''Event'' Internasional
•     Java Jazz Festival Dari Krisna Dkk Sampai Caroline Zachrie
•     (Masa Keemasan Majapahit)
•     Sujiwo Tejo Bangga Filmnya Ditonton Jero Wacik
•     Wacik Klarifikasi Pernyataan, Tanggapi Kecaman Pemilik Museum
•     Karya Budaya Penting Diinventarisasi
•     Edies Adelia Sering Nonton Wayang
•     Ketika Anak-anak Jadi Diri Sendiri Dari Lomba Membaca Puisi Anak-anak
•     Kebudayaan Hindu dan Budha Bersatu di Tanah Kilap
•     Barong Berusia Dua Abad Dibangkitkan Kembali
•     ''Augmented Reality'' Teknologi Baru Gantikan RBT
•     Aspirasi dengan Kekerasan
•     Merancang Ruang Pameran Ergonomis
•     Serpihan Mutiara Hikmah
•     Pelopor Pembuatan Topeng-topeng Kreasi
•     Yang Makan Sendiri, Menderita Sendiri
•     Anggaran PKB di Gianyar Menurun
•     Parkir Pasar Umum Negara Semrawut
•     Adat Dapat Menyesatkan Tanpa Dasar Kitab Suci
•     MIMBAR AGAMA KATOLIK
•     Makna Patung bagi Pemimpin Negeri
•     Mengintip Karya Seni Rupa Pemenang Hibah
•     Sejumlah Pesan dan Ajaran Universal dari Pulau Bali
•     Saksikan Lukisan Sambil Membaca dan Belajar Sejarah
•     Menghindari Dosa-dosa dengan Renungan Rohani
•     Pergolakan dan Transisi Kekuasaan di Bali Selatan
•     Dimas Jay akan Garap Film "Perang Puputan"
•     Dana Punia, Prioritas Beragama di Zaman Kali
•     Nama Seniman untuk Nama Jalan di Denpasar, Mengapa Tidak?
•     Pentas Drama Bahasa Inggris di Undiksha
•     NU Sepeninggal Gus Dur, antara Tradisi dan Inovasi
•     Shaggydog Melanglang ke Mancanegara
•     Tertarik Menggunakan Busana Adat Bali
•     PT Bukan ''Menara Gading''
•     Menguak Perjalanan Kalender Masehi
•     Libatkan Puluhan Komunitas Dan Ribuan Peserta
•     Tampilkan Jepretan Puspayoga dan Rai Mantra
•     Kritik Bukan Cacian
•     Gemarlah Membaca, Maka Cerdaslah Bangsaku
•     Fungsi Sastra dalam Tradisi Bali
•     Tidur Siang Itu Harus?
•     Wadah Kreatif Para Siswa Berteater
•     Natal dan Semangat Baru
•     Gadis 12 Tahun Mainkan Karya Chopin
•     Anak Tunanetra Tidak Fals
•     Nyenuk dan Rsi Bojana
•     Tuhan Itu Baik kepada Semua Orang
•     Sektor Pertanian di Bali,Bangkit atau Bangkrut?
•     Mengenang Seniman Sejati Guru Gambang Gede Rai Jadi
•     Mutiara Terlupakan di Danau Beratan
•     Memahami Penyebab Anak Sulit Konsentrasi
•     Inez Tagor Biarkan Anak Baca Komik
•     Warisan Budaya Dunia Perlu Lembaga Pengelola
•     Konsep Purusa-Predana
•     Pertama Kali Diadakan Tahun 1712
•     Penyanyi Indonesia Kurang Berkualitas
•     Harmoniskan Hubungan Manusia-Alam
•     Pameran Biennale Pertama Seni Lukis Tradisional Bali
•     Eksistensi Desa Pakraman dan Otonomi Daerah
•     Seni Abstrak (Bali) Bangkit Lagi?
•     ''Kharisma Yogyakarta dan Borobudur'' Digelar di Bali
•     ''Naungan Pelangi'' Juarai ''The Battle of Song 2009''
•     Kejujuran Pedagang
•     Ruang Dialog Museum Bali
•     Kolaborasi Wayang Internasional
•     Tanah dan Bungkling...
•     Bojog, Api, dan Angket...
•     Sekolah Selenggarakan Mata Pelajaran Muatan Lokal
•     Siap ke Miss Universe
•     Eksploitasi Kisah Asmara Dua Orang "Berbeda"
•     Jangan Penjual Arang
•     Junjung Keharmonisan Antarumat Beragama
•     Perilaku Kupu-kupu
•     Keroncong Religi Kristiani
•     Melawak Sampai ke Jepang
•     Berperan Penggoda
•     Kaum Urban Bercirikan Multibudaya
•     Menggali Inspirasi dari Batu Permata
•     Tak Mudah Membuat Lagu Anak
•     ''Pasar'' Seni Rupa Kontemporer
•     Seni Kontemporer Dikebiri Seni Tradisi?
•     Melihat Bali dari Dalam
•     Ida Batara di Merajan Agung Sukahet
•     Selama Hidup Berkomitmen Jaga Budaya Bali

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak