Pameran “Painting@Drawing” yang digelar di Tonyraka Art Gallery, 30 Maret hingga 13 April 2012 yang lalu, cukup menantang publik seni yang telah lama dalam dekapan romantisisme, yang merujuk dari tradisi seni rupa tinggi (high art). Sepanjang garis sejarah seni rupa modern Indonesia, seperti kita ketahui, penuh patok klaim "pembaruan" yang bercorak nasionalisme yang memberat. Ketika arus seni rupa kontemporer semakin kencang datang ke Indonesia, yang ditandai dengan hilangnya sekat antara “seni rupa” dan “desain” atau hilangnya kategori seni rupa tinggi (high art) dan seni rupa rendah (low art), para perupa pun mengancang kembali, melakukan retreat, mendalami elemen yang mendasar dari seni rupa: drawing.
“Painting@Drawing” menjadi tema pada pameran untuk membesut kekuatan drawing sebagai bentuk visual termurni dalam karya seni rupa, yang senantiasa melakukan evolusi dalam dirinya ke bentuk-bentuk seni rupa yang lain. Gelaran pameran ini sebenarnya ingin bermain dalam ruang, waktu dan cerapan – tentang bagaimana kita hari ini mendefinisikan seni rupa untuk hari esok. Drawing (gambar) menjadi medium yang pas sebagai awal bagi tujuh belas perupa yang terlibat untuk mencoba berbagai kemungkinan dan perspektif baru dalam berkarya dan merekam keberadaan dan identitas mereka di tengah dunia, selain juga hubungan dengan lingkungan fisik sekitar mereka.
Drawing sendiri sebenarnya memiliki definisi dan batasan yang problematik. Hal yang sulit sebenarnya jika ingin mendefinisikan drawing dengan pengertian yang hierarkis dan ajeg. Secara formal dan sederhana drawing didefinisikan sebagai pendekatan berkarya dengan cara menggoreskan garis di atas bidang datar – atau menurut konvensi umum di atas kertas. Medium yang digunakan pun biasanya pensil, ballpoint, charcoal, crayon, graphite, kapur dan lain sebagainya.
Namun kini, seiring dengan semakin mengaburnya batasan-batasan seni, batasan drawing secara medium dan teknis pun semakin absurd sehingga kemudian definisi drawing yang begitu sederhana di atas tidak lagi relevan hari ini. Berdasarkan tradisinya, drawing sendiri tidak pernah lepas dari praktik seni lainnya. Ia selalu menjadi tahap awal pembentukan karya (perancangan) oleh para seniman sebelum berkarya lukis, patung atau karya-karya lainnya. Namun, drawing sesungguhnya juga mampu menjadi karya yang berdiri sendiri dan tidak lagi berkaitan dengan bentuk karya lainnya secara konseptual maupun esensi. Drawing akhirnya mendapatkan otonominya pada abad ke-14 (di Barat terutama) dan berhasil menjadikan dirinya sebagai salah satu tujuan akhir dari sebuah usaha penciptaan artistik. Maka dari itu menurut Emma Dexter dalam Vitamin D, drawing tidak bisa dipahami begitu saja berdasarkan pengertian teoretis ataupun filosofisnya. Drawing kini harus dilihat dari keterkaitannya dengan pengalaman sang perupa dalam berbagai aspek yang melingkupi keberadaannya. (Dexter, Emma. Vitamin D. 2005. Phaidon Press Inc. New York).
Drawing
Berdasarkan semangat drawing itu, pameran ini menampilkan karya-karya perupa yang memiliki latar belakang penciptaan artistic dan cerapan yang berbeda yang merespon konsep drawing yang begitu luas ini. Tujuhbelas perupa ini memiliki pendekatan yang beragam dalam menyikapi drawing, dan secara sadar ataupun tidak tetap merujuk pada latar belakang karya mereka.
Dengan adanya keragaman referensi visual dan bentuk inilah yang kemudian menjadikan karya-karya drawing yang dipamerkan membawa keunikan masing-masing. Karena bagaimanapun, pada dasarnya drawing adalah proses merekam pengalaman yang ditransformasikan dalam bentuk visual, sehingga tentunya jejak artistik mereka selama ini akan terekam pula.
Pada akhirnya memang batasan antara lukis dan drawing menjadi sangat bias. Pameran Painting@Drawing mepresentasikan drawing tidak lagi berfungsi sebagai subordinat dari seni lukis melainkan sebaliknya. Namun di sisi lain karya-karya pada pameran itu juga membangkitkan lagi kebingungan batas antara seni lukis dan drawing. Ada perupa yang menggunakan cat air di atas kertas. Posisi cat air dalam praktik drawing kontemporer berada di antara seni lukis dan drawing. Ia bisa dimasukkan dalam kategori drawing karena sifat cat air yang transparan sehingga ia tidak berpotensi menutup goresan-goresan drawing. Cat air juga tidak bersifat korektif (sehingga tidak menutupi kejujuran drawing) dan ‘selesai’ seperti halnya cat minyak atau cat akrilik yang padat menutup garis sehingga menutup seluruh jejak proses berkarya.
Keyakinan ini juga diamini oleh Walter Benjamin dalam esainya, “Painting, or Signs and Marks” (1917), yang menerangkan posisi cat air dalam seni lukis dan drawing, “The only instance in which color and line coincide is in the watercolor, in which the pencil outlines are visible and the paint is put on transparently. In that case the background is retained, even though it is colored.”
Penggunaan media yang beragam ini tidak akan pernah menyalahi prinsip drawing, karena pada dasarnya drawing selalu bersifat terbuka dan eksploratif. Setiap orang dapat melakukan aktivitas drawing diatas media dan medium apapun. Secara prinsip drawing adalah seni yang mengedepankan proses. Bukan hanya proses sebelum menghasilkan karya dalam bentuk lain, tetapi juga sebuah proses yang merangkum pengalaman dan eksistensi para perupa. Tetapi, seperti yang telah dikemukakan, drawing juga memiliki kekuatan untuk menjadi sebuah karya akhir yang independen dan selesai. Drawing adalah bentuk representasi termurni dan tercepat untuk menuangkan pemikiran dan gagasan mereka tanpa ada intervensi artistik yang berlebihan.
Drawing sebagai kesempatan untuk bereksperimentasi dan bereksplorasi, mencari teknik baru yang dapat menghasilkan visual yang diharapkan dan memberi kepuasan tersendiri. Secara konseptual, karya-karya yang dipamerkan juga sangat merepresentasikan filosofi drawing. Seluruhnya merefleksikan filosofi drawing yang termutakhir – meminjam tulisan Emma Dexter, “It’s all drawing in the sense they are the results (and documentation) of various experiments with material, space, and language.” Maka drawing kini tidak bisa lagi didefinisikan hanya berdasar material dan medium yang digunakan– ia adalah keyakinan dan attitude.