RENCANA kenaikan harga BBM membuat para sopir di Buleleng lesu darah. Pasalnya, dengan harga BBM seperti sekarang saja usaha jasa angkutan umum kondisinya mengkhawatirkan. Penumpang sudah sejak lama sepi. Dan jika kini harga BBM naik, modal yang harus dikeluarkan sopir akan bertambah dan harga bahan pokok akan naik, sehingga usaha angkutan umum sekaligus para sopirnya lambat laun akan gulung tikar.
Seorang sopir angkutan umum Jurusan Singaraja-Gilimanuk, Gatot, menuturkan penumpang saat ini sudah semakin sepi. Ini terjadi karena masyarakat sangat sedikit yang memanfaatkan angkutan umum karena lebih banyak menggunakan mobil pribadi atau sepeda motor. Kondisi ini membuat dirinya sering norok setoran.
Gatot mencontohkan rata-rata modal untuk membeli BBM setiap hari Rp 90.000. Dalam satu hari, dia mendapat penghasilan paling banyak Rp 100.000. Pada kondisi tertentu penghasilannya hanya Rp 50.000. Sementara pemilik kendaraan mengharuskan menyetor per hari Rp 20.000, sehingga dengan penghasilan itu, Gatot mengaku sering norok setoran.
"Itu hitung-hitungan saat harga BBM belum naik. Nah kalau sekarang harga BBM dinaikkan otomatis modal harus ditambah sementara kondisi penumpang lagi sepi. Kami khawatir akan lebih banyak lagi norok setoran," katanya.
Hal senada diungkapkan sopir angkutan kota (angkot), Komang Japa dan Komang Astawa. Dua sopir angkot ini menyatakan keberatan jika pemerintah menaikkan harga BBM. Untuk itu, dia meminta pemerintah menunda menaikkan harga BBM. Jika harga BBM jadi dinaikkan dipastikan usaha jasa angkot yang digelutinya ini akan gulung tikar.
Sebab jika dipaksakan narik angkot sementara harga BBM mahal dipastikan penghasilannya tidak akan sebanding dengan modal yang dikeluarkan. "Kalau harga BBM naik, mungkin kami akan beralih profesi. Karena jika tarif dinaikkan itu tidak menjamin akan bisa mendapatkan untung. Karena kondisi penumpang akan makin sepi," katanya. (kmb)