Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Keluarga
Minggu, 19 Juli 2009 | BP
Mengemas Pendidikan Seks di Sekolah
BERDASARKAN survei forum Kisara (Kita Sayang Remaja) yang dikutip sejumlah media massa, hampir separuh (40,67%) remaja di Bali telah melakukan hubungan seksual. Angka ini lebih tinggi dari hasil survei di tingkat nasional yang hanya sebesar 28%.

Berita ini mungkin akan membuat banyak orang terkejut terutama para orangtua yang memiliki anak remaja, termasuk yang duduk di tingkat sekolah menengah. Atau, mungkin sebagian lagi tidak percaya akan hasil survei yang mendapatkan data hampir separuh remaja telah melakukan hubungan seks.

Percaya atau tidak, kini remaja telah melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Orang yang punya anak remaja sudah waktunya ekstrawaspada terhadap anaknya yang tergolong masa remaja. Penampilan remaja yang sepintas kelihatan baik-baik belum menjadi jaminan mereka tidak melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Menurut pengamatan penulis di sekolah (SMA), banyak fakta menunjukkan anak remaja yang kalem ternyata mengejutkan guru maupun orangtuanya bahwa si anak itu hamil.

Selaku masyarakat dan guru, penulis punya catatan tentang remaja yang terpaksa menikah ketika ia masih duduk di bangku sekolah di akhir tahun pelajaran ini (2009). Banyak remaja putri yang masih berstatus pelajar harus menikah gara-gara mengalami kehamilan. Selaku guru, penulis pernah tidak percaya pada keterangan siswa yang mengatakan temannya pindah sekolah ke Malang dua bulan menjelang ujian akhir. Akhirnya, terkuak juga kondisi yang sebenarnya, bahwa siswi itu harus menikah karena hamil.

Di salah satu sekolah menengah di Kabupaten Gianyar, siswi telah hamil delapan bulan saat UN 2009 ini. Namun, kejadian ini tidak tercium media massa. Belum pengumuman UN, si bayi telah lahir. Syukurlah kedua orangtua remaja itu masih punya keyakinan bahwa menggugurkan kandungan berdosa. Saat pengumuman, siswa yang hamil delapan bulan saat UN itu ternyata dinyatakan lulus.

Masih dari Kabupaten Gianyar, dalam waktu hitungan hari akan menikah lagi sepasang remaja yang masih berstatus pelajar SMA. Si orangtua memilih jalan menikahkan anaknya daripada menggugurkan kehamilan. Namun, ada juga yang memilih menggugurkan kandungan karena si anak masih ingin sekolah. Mereka tidak lagi berpikir dampak negatif menggugurkan. Dan, sebagian orangtua tidak tahu si anak telah menggugurkan kandungannya. Fenomena seperti itu bukan hal baru di masyarakat.

Persoalan kita sekarang, bagaimana mengurangi perilaku seks bebas di kalangan remaja? Sudah banyak orang berteori bagaimana mengurangi perilaku seks bebas di kalangan remaja. Namun, hasil survei seperti sekarang telah membuat kita terperangah setelah ditunjukkan data. Penyebabnya, tentu teori yang dikemukakan oleh para pakar kita lupakan. Selain itu, kadang contoh yang diperlihatkan orang dewasa kurang dapat diteladani oleh remaja sebagai bagian dari pendidikan seks.

Dianggap Tabu

Bicara masalah seks remaja, maka tidak lepas dari persoalan kejiwaan yang sedang dialami remaja, yakni kondisi sedang rasa jatuh cinta asmara kepada lawan jenisnya. Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, problema seks dan cinta di kalangan remaja merupakan masalah abadi yang tak akan pernah habis-habisnya untuk dibahas.

Banyak remaja yang malu untuk menanyakan masalah cinta dan seks pada orangtua atau gurunya. Kalau pun ada remaja yang bertanya, jawaban yang sering diberikan sekadarnya, "Kamu masih kecil, jangan main cinta-cintaan dulu. Lebih baik kamu fokus kepada pelajaran di sekolah." Sebagian lagi mengatakan seks kurang pantas dibicarakan karena dianggap tabu atau jorok. Semua ini tentu berdampak kurang baik terhadap remaja yang sedang mengalami rasa jatuh cinta.

Dalam dunia pendidikan, kalau seorang siswa kurang puas terhadap jawaban yang diterima, maka si anak akan mencari jawaban sendiri lewat sumber lain. Zaman sekarang sumber informasi tentu banyak, termasuk di dalamnya dunia maya. Jika rasa (nafsu seks) ingin tahu begitu tinggi, sangat berpotensi si remaja akan "mencoba" dengan pasangannya dan mereka tidak akan memikirkan apa yang akan terjadi setelah "praktik" itu.

Sumber informasi dari dunia maya maupun temannya tidak memberi penekanan soal etika moral maupun agama. Mereka hanya tahu bahwa teori harus dibarengi dengan "praktik". Hasil yang didapat dari "praktik" itu tiada lain seperti hasil survei Kisara. Sejumlah siswa harus meninggalkan bangku sekolah karena hamil atau mengamili.

Untuk meminimalisasi perilaku "coba-coba", sudah waktunya pendidikan seks diberikan sejak dini oleh guru di sekolah maupun orangtua di rumah. Dalam pendidikan seks ini tentu yang menjadi penekanan adalah sisi nilai-nilai moral, agama, maupun dampak sosial, selain dari sisi biologis -- akibat negatif dari kehamilan pada usia yang sangat muda.

Dampak biologis dari hubungan seks sudah sering diberikan oleh guru mata pelajaran biologi. Namun, apakah sudah dikembangkan pembahasannya dari sisi agama dan moral? Di sinilah titik lemahnya pendidikan kita. Pendidikan lebih banyak berkutat seputar keilmuan namun miskin dari sisi moral dan nilai-nilai agama. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, guru lebih banyak menekankan dari sisi ilmu -- apalagi penentu kelulusan siswa diukur dari perolehan nilai ujian akhir. Artinya, guru kurang sempat mendidik anak dari sisi moral terhadap permasalahan seks.

Hasil survei juga menjadi indikator bahwa pendidikan agama lebih banyak berkutat penjelasan pemahaman simbol-simbol agama daripada penanaman nilai-nilai agama dalam keseharian, termasuk perilaku seks. Semua simbol itu harus dihapalkan oleh siswa sebab akan keluar dalam ujian atau tes. Guru pun senang jika siswanya memperoleh nilai tinggi, apalagi nilai 10 (sempurna). Apakah nilai sempurna dapat dijadikan jaminan terhadap perilaku? Belum banyak orang memberi perhatian terhadap kondisi pendidikan yang sudah menunjukkan tanda-tanda miskin dengan nilai moral.

Demikian pula pendidikan budi pekerti, mata pelajaran ini tidak dapat membendung perilaku penyimpangan seksual di kalangan remaja. Kondisinya mirip dengan pendidikan agama yang lebih banyak menyentuh ranah kognitif (kecerdasan intelektual) yang mestinya menggarap ranah perilaku (sikap). Tingginya persentase (40,67%) remaja melakukan seks merupakan indikator kegagalan pendidikan pembentukan sikap di lembaga pendidikan.

Diajak Menggali

Untuk mengurangi penyimpangan seks di kalangan remaja adalah dengan memberikan pendidikan seks di lembaga pendidikan formal. Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular, depresi, dan perasaan berdosa (Sarlito Wirawan Sarwono, 2007).

Hendaknya pendapat Sarlito dan hasil survei dijadikan acuan betapa pentingnya pendidikan seks diberikan kepada siswa. Menurut penulis, masuknya pendidikan seks ke dalam kurikulum tidak harus menjadi mata pelajaran, cukup ditumpangkan pada mata pelajaran yang sudah ada, hanya bobotnya yang beda.

Kalau pendidikan agama berjalan dengan semestinya, siapa yang tidak merasa berdosa kalau sampai menggugurkan kandungan?

Demikian pula di dalam pendidikan budi pekerti, akan tumbuh rasa malu siswa melakukan seks di luar nikah. Tegasnya, pendidikan seks itu dikemas sedemikian rupa sehingga remaja memperoleh pemahaman yang benar tentang seks. Seks tidak semata berkaitan dengan kenikmatan duniawi, tetapi berkaitan dengan masalah agama, etika moral, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Metode pembelajarannya pun bukan ceramah semata. Alangkah baiknya remaja itu diajak menggali sikap kesehariannya berkaitan dengan aktivitas seks. Yang menumbuhkan rasa kasih sayang diimplementasikan dalam kehidupan nyata, sehingga yang menjerumuskan ke hal negatif dijauhkan. Ini sekadar contoh.



* igk tribana

•     Super Mario Band sebagai Hobi dan Keluarga Kedua
•     I Gusti Ayu Suwitry Wedastera Dip
•     Belajar Hidup Bersahaja
•     Lahan Kontrakan
•     Kursus Guru Yoga Bali-India Foundation Diminati Warga Asing
•     Konseling Pra Nikah dan Pernikahan
•     Gelar Lomba Mewarnai dan Baca Puisi
•     Ibu AHS Lakukan Penanaman Pohon
•     Berkebun Organik di Pekarangan Rumah
•     Proteksi Liburan Pelanggan
•     Gelar Bazaar Baju Murah, Sembako, dan Pendidikan
•     CSR Aqua Danone Berdayakan Pemulung
•     Buta, Lumpuh, dan Tak Tersentuh Bantuan
•     Wagub Puspayoga Bangun Cubang Bersama Warga di Kubu
•     Meningkat, Kekerasan Seksual pada Anak
•     Diterbitkan, Prangko Gerakan Pembudayaan Cinta 4 Pilar
•    
•     Terganjal Sikap Keluarga, Butuh Komitmen Semua Pihak
•     Ogah Disebut Justin Bieber-nya Indonesia
•     Penumpang Sepi, Angkot makin Bangkrut
•     Anak Putus Sekolah Buron
•     Dewan Nilai Gagal Pembinaan Guru di Klungkung
•     Longsor di Pancasari,Dua Anak Tewas
•     Kenali Anak Bermasalah dengan Makan
•     Diklat Kepelautan BST, CCM dan PSCRB
•     Terminal Kalah Bersaing dengan Terminal Bayangan
•     Oknum Advokat Jadi Tersangka Cek Palsu
•     TGPF BeberkanLima Fakta
•     Deteksi Dini Pelaku Pedofilia
•     Ciri-ciri Anak Kreatif
•     Kreatif Melatih Daya Ingat Anak
•     Meningkatkan Kreativitas Anak
•     Merawat Jas Hujan agar Tetap Awet
•     Cara Tepat Memilih Jas Hujan
•     Merawat Gorden agar Tetap Indah
•     Gorden untuk Kamar Anak
•     Strategi Tampil Ramping
•     Kelas Dasar bagi Anak Tunagrahita Ringan
•     Ubah Mitos Tentang Anak Manja
•     Menghadapi Anak yang Manja
•     Ubah Mitos Tentang Anak Manja
•     Mengajarkan Anak Cinta Bahasa Indonesia
•     Pimpinan Parpol Pertanyakan Sikap Pemeritah
•     Menata Gazebo di Halaman Rumah
•     Manfaatkan Kelapa sebagai Tanaman Hias
•     Budi Daya Tanaman Obat Keluarga
•     Memilih Furniture untuk Ruang Keluarga
•     Kenali Jenis Ruang Keluarga
•     Berharap Pemerataan Proyek Air Bersih
•     Pilih Meja Belajar yang Tepat
•     Memilih Furniture Ruang Belajar Anak
•     Buat si Kecil Betah Belajar
•     Kontak Alergi Akibat Tato Temporer
•     Solusi Atasi Anak Malas Belajar
•     Memilih Pakaian Bayi di Musim Dingin
•     Tetap Cantik di Musim Dingin
•     Pendidikan Karakater dalam Keluarga
•     Kiat Melatih Anak agar Mandiri
•     Membentuk Anak Mandiri
•     Hukum Adat Bali ''Matindih'' dalam Pengangkatan Anak
•     Buat Nyaman Ruang Keluarga
•     Jumat, 8 Juli 2011
•     Rujuk
•     Komunikasi yang Sehat untuk Memahami Anak Remaja
•     Ajari Anak-anak Memaafkan
•     Komunikasi yang Sehat untuk Memahami Anak Remaja
•     Program Acara BALI-TV
•     Latihan Awal bagi Anak Tunagrahita Ringan
•     Tips Menata Ruang Sempit
•     Memilih Gorden
•     Program Acara BALI-TV
•     Anak Susah Makan
•     Ada Fase Membangkang
•     Hindari Minum Susu Berlebihan
•     Trik Tepat Memancing Selera Belajar Anak
•     ''Terus, Terus... Prit, Ya Stop''
•     Bayi Tabung Solusinya
•     ''Problema'' Kesuburan
•     Memilih Kursi dan Meja yang Pas
•     Minimalis, Sesuaikan Penghuni Rumah
•     Mengatasi Anak Manja
•     Bahayakan Perkembangan Otak
•     Hindari Empat Penanganan yang Salah
•     Tekan Pergaulan Seks Bebas Remaja Perlu Diberi Pelajaran Seks
•     Serai Gantikan Racun Nyamuk
•     Kunci Keberhasilan Mengatasi Anak "Sindroma Down"
•     Keberaksaraan Anak Indonesia Masih''Rabun dan Lumpuh?''
•     Emosi, Ayah Tiri Dibogem
•     Melewati Masa Lajang dengan Menyenangkan
•     Menyikapi Rasa Takut pada Diri Kita
•     Melewati Masa Lajang dengan Menyenangkan
•     Menyikapi Rasa Takut pada Diri Kita
•     Belajar dari Ponsel, Kenapa Tidak?
•     Kiat Memberi Nama pada Anak
•     Memformat Kembali Pendidikan Karakter
•     Membentuk Keluarga Harmonis dengan Bahasa Cinta
•     Selektif dalam Mencari Teman
•     Pentingnya Pendidikan Seni Sejak Usia Dini
•     ''MOS'' yang Edukatif dan Kreatif
•     Terapkan
•     Bakar Serangga, Terbakar
•     Cara Anak-Anak Memahami Makna Cinta
•     Tumbuh kembangkan Kemandirian Anak pada Usia Dini
•     Lima Aspek Keintiman dalam Perkawinan
•     Usai Jalan-jalan, Pacar Dipolisikan
•     Mengajarkan Anak-anak "Magic Words" Sejak Kini
•     Anak Jenuh Belajar Atasi dengan Terapi Bermain
•     Menjadi Ayah yang ''Super''
•     Gerakan Pramuka dapat Membentuk Karakter
•     Istri Menghilang, Lapor Polisi
•     Oknum Guru itu Bantah Berselingkuh
•     Polisi Sebar Foto Pemerkosa
•     Mengembangkan Bakat Anak di Rumah
•     Bayi Kembar Tiga Lahir Setelah Sempat Keguguran
•     Asas Pengajaran untuk Anak Tuna Grahita
•     Mengembangkan Kreativitas Imajinatif Anak
•     dr. Yenny Ayuningtyas H
•     Anak-anak di Era Digital
•     Belajar Sains Sambil Bermain
•     Jelang Upacara Batara Turun Kabeh Trotoar di Besakih Mendesak Diperbaiki
•     Belajar Sains Sambil Bermain
•     Jangan Biarkan Anak Nonton TV Terus
•     Sisi Gelap Internet bagi Anak
•     Perlu, Berterima Kasih pada Anak
•     Sakit, Ditinggal Istri, Suami Lapor Polisi
•     Belajar Sambil Bermain, Mungkinkah?
•     Permainan Sederhana untuk Anak
•     ''Facial'' Tepat untuk Wajah
•     Bagaimana Hilangkan Rasa Takut Anak?
•     Cegah Kekerasan Terhadap Anak
•     Rebutan Anak, Main Pukul, Dipolisikan
•     Membantu Anak Meredam Emosi
•     Pendidikan Karakter Makin Merosot?
•     Resolusi Tahun Baru buat Anak
•     Menanam Sikap Antikorupsi dalam Pendidikan Moral di Sekolah
•     Gugah Dewan Wujudkan Perda dan Anggaran Pro-Gender
•     Menciptakan Ruang Aman untuk Anak
•     Mengapa Remaja Cenderung Melawan?
•     Memahami Penyebab Anak Sulit Konsentrasi
•     Biarkan Anak Baca Komik
•     Ajarkan Anak Sifat Sayang Sesama Mulailah dari Lingkungan Keluarga
•     Anak-anak Tumbuh Jadi Diskriminatif?
•     Mencari Usia Ideal Menikah
•     Figur Ayah dalam Keluarga
•     Program PKK Sejalan dengan Program Pemerintah
•     Buruk, Dampak Tayangan Horor bagi Anak
•     Jika Anak Ikuti Les Musik
•     Anemia dalam Kehamilan,Mengapa harus Dicegah?
•     Kasus Illegal Logging di Jembrana Makin Marak Hutan Dikapling-kapling, Musibah Makin Meningkat
•     Asah Kejeniusan Anak Sejak Dini
•     Anak Kreatif Itu Banyak Bertanya

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak