Jakarta (Bali Post) -
Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2012 rata-rata berada pada kisaran 9.100 - 9.300 per dolar AS walau perekonomian global masih diliputi ketidakpastian.
"Kami memperkirakan nilai tukar 2012 rata-rata akan berada pada kisaran 9.100 - 9.300 per dolar AS," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Kamis (31/5) kemarin.
Darmin menjelaskan prospek nilai tukar rupiah pada tahun ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik yang masih menguat. Namun hingga akhir Mei terjadi tren pelemahan nilai tukar rupiah serta mata uang negara-negara kawasan lainnya yang tidak terlepas dari pengaruh ketidakpastian kondisi di Eropa. "Sampai akhir Mei, nilai tukar rupiah secara rata-rata tercatat 9.117 per dolar AS melemah 3,98 persen dibandingkan rata-rata tahun 2011 sebesar 8.768 per dolar AS," katanya.
Kondisi tersebut, kata Darmin, mendorong penyesuaian aliran modal asing dari instrumen pasar keuangan domestik ke pasar keuangan global yang lebih aman atau safe haven.
"Selain itu, pelemahan rupiah juga disebabkan semakin tingginya impor yang sejalan dengan kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional," kata Darmin.
Ia menjelaskan pergerakan nilai tukar hingga akhir tahun disebabkan beberapa faktor antara lain membaiknya perekonomian global pada paruh kedua 2012 yang meningkatkan kinerja ekspor dan neraca transaksi berjalan.
"Hal tersebut mendorong arus modal masuk lebih tinggi dibandingkan paruh pertama 2012 dan neraca pembayaran secara keseluruhan mengalami surplus," katanya. Menurut dia, pada 2013 nilai tukar secara rata-rata juga berada pada kisaran yang sama karena adanya peningkatan aliran modal asing terutama berbentuk FDI yang meningkatkan surplus neraca fiskal.
Sedangkan terkait dengan laju inflasi, Darmin memperkirakan masih tetap terkendali sepanjang tahun hingga akhir tahun berada pada kisaran 4,5 persen plus minus satu persen.
Ia menjelaskan laju inflasi diperkirakan akan rendah karena selama empat bulan pertama 2012, masih tercatat sebesar 1,09 persen secara bulanan dan 4,5 persen secara tahunan. "Perkembangan tersebut ditopang oleh inflasi inti yang masih terkendali di level 4,24 persen sejalan dengan pasokan barang dan jasa yang tetap memadai dalam memenuhi peningkatan permintaan serta inflasi administered prices minimal," katanya.
Sementara itu, mata uang rupiah bergerak menguat sebesar 30 poin terhadap dolar AS pada Kamis sore dipicu intervensi Bank Indonesia di tengah sentimen global yang tidak stabil. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis sore, menguat 30 poin menjadi 9.570 dibanding posisi sebelumnya 9.600 per dolar AS. (kmb)
|