Untitled Document
» Berita Ekonomi/Pariwisata
07 Desember 2011 | BP
Investasi Pertanian di Bali
Peluang Besar, Minim Keterlibatan Pemerintah
Denpasar (Bali Post) -

Iklim investasi di Bali cukup menggeliat dibanding daerah lainya. Hanya, investasi sektor tersier, khususnya sektor pariwisata masih menjadi primadona, bahkan mencapai 82 persen. Sementara pertanian kurang dari satu persen. Padahal, investasi di sektor ini masih terbuka lebar dan belum tergarap maksimal.

Hal itu diungkapkan Pakar Pertanian Unwar, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., saat ditemui Selasa (6/12) kemarin. Investasi bidang pertanian harus terus digenjot dengan melakukan research development untuk mengetahui tingkat produktivitas. Ini penting, karena pemilik modal akan tertarik berinvestasi di sektor pertanian jika mereka mengetahui tingkat prokdutivitasnya.

''Semakin produktif semakin banyak hasilnya dan semakin tinggi profit yang didapatkan. Yang jelas masih berpeluang besar asal seluruh elemen seperti pemerintah, stakeholder, perguruan tinggi dan tentunya petani harus komitmen dan solid,'' ujarnya.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi sektor pertanian secara umum adalah sifat produk pertanian yang mudah rusak, sehingga diperlukan teknologi pengemasan dan transportasi guna mengatasi masalah tersebut. Sebagian besar produk pertanian juga bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh kondisi, sehingga aspek kontinuitas produk agroindustri menjadi tidak terjamin.

''Kualitas produk pertanian dan agroindustri yang dihasilkan juga umumnya masih rendah, sehingga mengalami kesulitan dalam persaingan pasar, baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, sebagian besar industri berskala kecil menerapkan teknologi yang rendah, ini menjadi kendala memajukan sektor itu termasuk investasinya,'' terangnya.

Bagus Udayana mengatakan, ada dua cara dalam mengatasi masalah di sektor pertanian yakni efisiensi dalam proses produksi, dan memprioritaskan pada pengembangan agroindustri yang berbasis sumber daya lokal. Sehingga, dalam era global prospeknya sangat cerah dan dimungkinkan akan menjadi sektor unggulan.

''Peran pemerintah sebagai jembatan untuk menghubungkan dengan instansi terkait dalam hal proses produksi sangat penting dari bahan baku, proses pengolahan, pemasaran dan finasial, sehingga hubungan pemerintah, 'stakeholder', perguruan tinggi dan petani menjadi lebih sinergis,'' tegasnya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi Unud juga mengatakan, Pulau Dewata memiliki potensi pertanian yang luar biasa untuk diangkat. Bahkan, tidak sulit mempromosikan pertanian Bali kepada investor asalkan para pemangku kepentingan mau duduk bersama mencarikan solusi yang tepat guna.

Dekan Fakultas Ekonomi Unwar, Drs. I Wayan Arjana, M.M., mengatakan pemerintah harus melakukan langkah konkrit untuk menyelamatkan pertanian. Mempertahankan lahan pertanian merupakan masalah mendesak yang harus segera diatasi oleh Pemprov Bali melalui program-program pemerintah dalam memajukan sektor pertanian.

''Selama ini, upaya pemerintah untuk memajukan sektor pertanian masih sebatas wacana. Hingga kini belum ada program pemeritah yang mampu mengangkat sektor tersebut. Dampaknya alih fungsi lahan merajarela,'' ujarnya. (par)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak