Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Ekonomi/Pariwisata
21 April 2011 | BP
Triwulan I, Bali Diincar 25 Investor
Denpasar (Bali Post) -

Rencana penerimaan investasi sepanjang triwulan pertama 2011 di Bali mencapai 25 proyek yang terdiri atas penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 340.309.706. Investasi ini ditopang oleh sektor tersier yang didominasi PMA, di antaranya konstruksi, perdaganagan dan reparasi, hotel dan restoran.

Kabid Pengkajian Penanaman Modal (PPM) Provinsi Bali Suta Astawa menyatakan rencana realisasi investasi tersebut mencakup 24 proyek baru dan 1 proyek perlebaran. Sedangkan target pertumbuhan investasi 2011 mencapai Rp 15,79 triliun dengan PMA dan PMDN mencapai Rp 4 triliun. Angka tersebut naik dari target periode 2010 yakni Rp 12, 9 triliun dengan realisasi PMA dan PMDN mencapai Rp 3,1 triliun.

''Sektor tersier, terutama di bidang pariwisata tetap jadi primadona bahkan mencapai 82 persen, pertanian kurang dari 1 persen dan sisanya sektor industri,'' ucap Astawa di Denpasar, Rabu (20/4) kemarin.

Menurutnya, kawasan yang banyak diincar kalangan investor adalah Kabupaten Badung, Gianyar, Karangasem, dan Kota Denpasar, dibandingkan Bangli, Buleleng, Jembrana, Kelungkung dan Tabanan. Investor yang akan menanamkan modalnya di Bali berasal dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Jerman, Kanada, Korea Selatan dan Prancis.

Dikatakan, pihak BPM terus-menerus berupaya mempromosikan investasi bidang pertanian di Bali. Namun, belum mampu menarik investor yang lebih tertarik menanamkan modalnya di sektor unggulan Bali. Investor lebih senang berinvestasi bidang pertanian di Sulawesi atau Kalimantan.

''Investasi bidang pariwisata sudah cukup banyak di Bali. Namun kita tidak mungkin melarang para investor di bidang pariwisata asalkan mengikuti aturan yang ada,'' ucapnya.

Bali memerlukan moratorium untuk menghentikan sementara pembangunan di tiga kabupaten yakni Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar dan Denpasar. Hingga kini tercatat 45.557 kamar hotel yang tersebar di Bali, sedangkan 85 persen terpusat di Bali Barat.

Dosen Fakutas Ekonomi FE Unud Prof. Dr. I Made Kembar Sri Budhi, M.P. sebelumnya mengatakan, dampak dari PMA akan menimbulkan multiplier effect, di antaranya peningkatan kesempatan kerja, menambah kemampuan belanja masyarakat dan meningkatkan permintaan di pasar dalam negeri.

Bali mutlak membutuhkan investasi dalam meningkatkan perekonomian secara makro. ''Hanya pemerintah harus memilah-milah setiap izin investasi yang dikeluarkan apakah tidak merugikan, seperti terhadap lingkungan,'' ucapnya.

Menurutnya, secara teori, investasi sangat penting sebagai motor utama perkembangan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sebab, tanpa investasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak bisa tercapai. (par)



Perkembangan PMA di Bali Tahun 2003 -2009

---------------------------------------------------------

Tahun Rencana (Rp) Realisasi (Rp)

------------------------------------------------------------



2003 2.103 152 734 035 216 927 046 700



2004 3.392 923 500 937 952 117 575 500



2005 1.864 051 332 269 995 768 018 527



2006 2.071 933 755 594 900 489 756 628



2007 1.669 019 409 917 497 401 914 320



2008 9.078 750 316 251 735 068 833 640



2009 1.968 613 929 100 1.200 580 026 100

------------------------------------------------------------



Sumber: BPS Bali





[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak