Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kesehatan
07 Oktober 2012 | BP
Trauma Ekstremitas, Mengancam Nyawa
DI ERA globalisasi saat ini kebanyakan manusia memerlukan mobilisasi cepat dalam kehidupannya sehari-hari. Salah satu dampak yang ditimbulkannya berupa trauma, yang dapat terjadi dari semua aktivitas kehidupan sehari-hari baik dalam bekerja, olahraga, lalu lintas dan lain-lainnya. Trauma yang terjadi dapat berupa trauma tumpul, trauma tajam atau trauma lainnya.


Pada saat ini trauma merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang tinggi dimasyarakat. Dalam jam-jam awal setelah trauma, merupakan periode emas, dimana pada waktu ini risiko kematian dan kecacatan dapat dicegah dengan penanganan yang cepat dan tepat. Kematian yang terjadi akibat trauma kebanyakan terjadi pada jam-jam awal trauma, sedangkan kematian yang terjadi beberapa minggu akibat trauma biasanya diakibatkan oleh komplikasi lambat dan mengalami kegagalan organ multiple.

Trauma pada ekstremitas atau trauma musculoskeletal adalah salah satu trauma yang tidak jarang menjadi penyebab dari ancaman nyawa dan ancaman kehilangan ekstremitas itu sendiri. Maka dari itu sangatlah penting untuk mengetahui pemeriksaan awal dan pengelolaan penderita trauma ekstremitas (musculoskeletal) yang dapat mengancam nyawa dan ancaman kehilangan anggota gerak.

Selama survey primer khususnya pada trauma ekstremitas, perdarahan sebaiknya dihentikan. Cara yang dianjurkan dan paling mudah dilakukan adalah dengan melakukan bebat tekan langsung pada area perdarahan. Selanjutnya dapat dipasang bidai atau imobilisasi yang bertujuan untuk mengurangi pergerakan sehingga akan mengurangi nyeri, perdarahan dan kerudakan jaringan lunak lebih lanjut. Pada penderita.pada patah tulang terbuka digunakan balut steril. Pemberian cairan secara intravena juga dianjurkan untuk mengembalikan volume perdarahan yang hilang.



Jenis

Beberapa jenis trauma ekstremitas dengan potensi mengancam nyawa, di antaranya:

a. Kerusakan pelvis berat dan perdarahan.

Fraktur pelvis (panggul) seringkali disertai perdarahan yang berat, oleh karena adanya gaya yang membuka rongga pelvis menyebabkan kerusakan kompleks ligament dan merobek fleksus vena di pelvis dan kadang merobek arteri iliaka interna. Mekanisme trauma pelvis sering terjadi pada tabrakan sepeda motor, pejalan kaki yang ditabrak kendaraan, benturan langsung pada pelvis atau jatuh dari ketinggian.

Bila perdarahan pelvis banyak maa akan terjadi cepat penurunan tekanan darah ditandai dengan lemas, kehilangan kesadaran secara perlahan, kadang gelisah. Tanda yang penting adalah pembengkakan atau hematoma yang progesif daerah panggul skrotum dan perianal. Stabilitas tulang panggul si periksa dengan memanipulasi manual dari pelvis. Prosedur ini dilakukan satu kali dalam pemeriksaan fisik, karena pemeriksaan berulang dapat menyebabkan perdarahan bertambah. Petunjuk awal adanya ketidakstabilan pevis adalah ditemukannya perbedaan panjang tungkai atau rotasi kaki kearah luar. Selain itu juga mungkin ditemukan kelainan neurologis atau luka terbuka didaerah punggung, perineum, rectum. Foto rontgen akan menunjang pemeriksaan klinis.

Pengelolaan awal yang dilakukan pada disrupsi pelvis yang berat adalah hentikan perdarahan dan resusitasi cairan. Penghentian perdarahan dilakukan dengan stabilisasi mekanik dari pelvic ring dengan external counter pressure (pneumatic anti shock garment=PSAG). Teknik sederhana dapat dikerjakan untuk stabilisasi pelvis antara l;ain traksi kulit longitudinal atau traksi skeletal. Prosedur ini dapat ditambah dengan memberi bantuan support dengan memasang kain pembungkus di sekitar pelvis (atau dapat digunakan striples). Cara-cara ini di awal dapat membantu mempertahankan stabilitas dan kemudian dilanjutkan dengan penanganan hemodinamik penderita.



b. Perdarahan pembuluh darah besar.

Luka tajam diekstremitas dapat menimbulkan trauma arteri (pembuluh darah). Trauma tumpul yang menyebabkan fraktur (patah) atau dislokasi sendi dekat arteri juga dapat merobek arteri. Cedera ini menimbulkan perdarahan besar pada luka terbuka atau perdarahan dalam jaringan lunak. Maka pada trauma ekstremitas harus secara rutin diperiksa adanya perdarahan luar, hilangnya pulsasi nadi yang sebelumnya masih teraba, perubahan kualitas nadi, dan perubahan pada pemeriksaan Doppler (ankle/brachial index). Ekstremitas yang dingin, pucat, dan pulsasi tidak ada menunjukkan gangguan aliran darah arteri.hematoma yang membesar dengan cepat menunjukkan adanya trauma vaskuler.

Jika dicurigai atau ditemukan trauma arteri besar maka dapat dilakukan tekanan langsung pada tempat perdarahan dan permberian cairan intravena. Penggunaan tourniquet pneumatic secara bijaksana mungkin akan menolong menyelamatkan nyawa penderita. Jika fraktur yang disertai dengan luka terbuka yang berdarah aktif, harus segera diluruskan dan dipasang bidai serta balut tekan di atas luka. Dislokasi sendi sebaiknya langsung dibidai, karena usaha untuk melakukan reposisi bisa sangat sulit. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan setelah penderita teresusitasi dengan baik.



c. Crush syndrome (rabdomiolisis traumatika)

Crush syndrome adalah keadaan klinis yang disebabkan pelepasan zat berbahaya sebagai hasil dari kerusakan otot, yang jika tidak ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal. Keadaan ini terjadi pada keadaan dimana terdapatnya kerusakan otot yang luas atau penekanan yang lama pada otot, sering terjadi pada paha dan betis. Hal ini terjadi akibat gangguan perfusi otot, iskemia, pelepasan mioglobin dan zat toksisk lainnya yang disebut dengan rabdomiolisis.

Mioglobin menimbulkan urine yang berwana gelap yang akan positif bila diperiksa untuk adanya hemoglobin. Pemeriksaan khusus untuk mioglobin sangat perlu untuk menunjang diagnosis. Rabdomiolisis dapat menimbilkan komplikasi yang berat seperti asidosis metabolic, hiperkalemia, hipokalsemia, hipovolemia dan DIC (disseminated Intravascular Coagulation).

Pemberian cairan intravena sangat penting untuk melindungi ginjal dari kegagalan fungsinya. Gagal ginjal dapat diakibatkan oleh mioglobin dapat dicegah dengan dieresis(obat yang merangsang penderita untuk kencing). Tujuannya adalah untuk meningkatkan isi aliran urines sehingga mengurangi pengendapan mioglobin diintratubulus ginjal. Pada kebanyakan penderita diusahakan terjadinya alkalinisasi urin dengan pemberian natrium bikarbonat untuk mengurangi pengendapan mioglobin diginjal.



* dr. Agus Eka Wiradiputra, S.Ked.

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak