Untitled Document
Untitled Document
» Berita Kesehatan
26 April 2009 | BP
Fenomena Ponari: Antara Kepercayaan, Rasionalitas dan Aspek Medis
Oleh dr. Martha

MUHAMMAD Ponari atau yang lebih dikenal dengan "dukun cilik Ponari" telah menghebohkan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, bocah asal Jombang, Jawa Timur -- siswa Kelas III SD Negeri Balongsari 1 -- itu dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan meminum seteguk air putih yang sebelumnya telah dicelup batu.

Kisah ini bermula ketika Ponari tiba-tiba memperoleh sebuah batu saat ada petir menyambar di sekitar tempat dia bermain. Batu ini kemudian dikenal dengan batu petir yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Setelah dicoba kepada adik Ponari yang waktu itu menderita muntaber dan si adik sembuh, maka tersebarlah berita ini ke seluruh pelosok desa dan terus menyebar dengan cepat.

Permasalahan mulai muncul ketika orang-orang berusaha untuk memahami dasar apa yang menyebabkan ribuan orang datang dan rela menunggu dalam antrian untuk penyembuhan instan atas masalah kesehatan mereka? Bagaimana seteguk air putih dapat memberikan "keajaiban penyembuhan" kepada orang-orang? Rasionalitas atau akal sehat sederhana tampaknya mencoba untuk menyangkal hal ini.

Konsep Kepercayaan

Kepercayaan adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya. Masalah yang sering muncul dari konsep kepercayaan adalah, apakah ada kepercayaan yang benar dan salah? Apakah kepercayaan hanya ada dalam bentuk konsep dalam pikiran manusia? Beberapa orang berpendapat bahwa kepercayaan tidak bisa didiskusikan dalam terminologi benar atau salah.

Menerima kepercayaan seperti misalnya pada ritual keagamaan adalah lebih seperti menikmati sebuah puisi, atau menyaksikan pertandingan sepak bola. Ketika orang mempercayai sesuatu, umumnya dia tidak mencari tahu apakah itu benar atau salah. Namun dalam menyikapi "fenomena Ponari" ini, kita akan membagi kepercayaan dalam dua kategori utama yakni kepercayaan yang berdasar dari kebenaran yang tidak dipertanyakan dan kepercayaan yang berdasar atas rasionalitas.

Kepercayaan pada orang-orang yang bijaksana sering didasarkan atas rasionalitas. Rasionalitas adalah suatu hasil dari proses berpikir, dimana orang memiliki kapasitas untuk memberikan alasan, untuk menjalani, memberikan kebenaran tertentu, atau dengan kata lain rasionalitas adalah sesuatu yang masuk akal. David Hume, filosofis asal Skotlandia, menyatakan orang bijaksana menitikberatkan pada bukti daripada hanya sebuah kepercayaan semata.

Strategi Penting

Dewasa ini para dokter dilatih untuk menggunakan rasionalitas dan bukti sebagai strategi penting untuk menangani masalah kesehatan pasien. Bukti (evidence) dapat didefinisikan sebagai sesuatu (informasi, pengalaman dan pengamatan, serta hasil dari proses berpikir induktif) yang dapat membuat orang percaya atau sebagai dasar dari kepercayaan seseorang. Bukti adalah segala sesuatu yang dilihat, amati, baca dan alami yang membuat orang mempercayai kebenaran akan sesuatu.

Kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesatnya, seperti sebuah pecahan-pecahan kecil dari ilmu pengetahuan untuk dimasukkan ke dalam teka-teki penelitian biomedis yang maha besar. Ilmu-ilmu kedokteran terbaru bisa ter-up date dalam hitungan hari melalui jurnal-jurnal kedokteran di internet. Derasnya berbagai arus informasi itu makin mengharuskan dokter agar pandai-pandai menyaring informasi yang benar-benar valid, penting, dan dapat diterapkan berdasarkan kajian kedokteran berbasis bukti.

Seorang yang sakit tidak bisa dipandang secara terpisah antara fisik dan mentalnya. Kedokteran kejiwaan memandang orang sakit secara holistik (keseluruhan), baik secara biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual. Orang sakit secara biologis rentan mengalami kecemasan ataupun depresi yang dapat memperberat kondisi mereka. Kecemasan akan mempengaruhi proses berpikir, terutama di dalam mengambil keputusan mengenai bagaimana cara mereka untuk mendapatkan pengobatan. Mereka cenderung menjadi irasional dan mengusahakan berbagai cara untuk dapat sembuh, termasuk pergi ke "dukun cilik Ponari".

Hasil berpikir yang tidak rasional ini dipengaruhi pula oleh tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah, meski belum tentu juga orang berpendidikan rendah tidak dapat berpikir rasional dan begitu pula sebaliknya. Irasionalitas dapat menerjang siapa pun.

Daerah Abu-abu

Kembali ke pertanyaan semula, "Bagaimana fenomena Ponari ini sampai muncul?" Memang, masih banyaknya teka-teki yang belum terjawab dalam dunia kedokteran bisa jadi memperkuat fenomena ini. Masih banyak penyakit yang belum dapat dijelaskan dengan tepat bagaimana penyakit tersebut dapat muncul. Penyakit yang sudah jelas pun belum tentu dapat disembuhkan dengan baik. Ada daerah abu-abu yang luas antara kesembuhan medis dan "mukjizat".

Hal-hal gaib sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Dari pohon besar yang bisa meneteskan air, patung yang dapat menangis, sampai "Ponari-Ponari" yang lain. Namun tidak banyak yang sefenomenal Ponari. Sosok Ponari berhasil mengisi sebuah kategori baru dalam pikiran banyak orang, seorang dukun cilik. Ponari adalah yang pertama dibandingkan dengan "Ponari-Ponari" yang lain. Hal ini membuat dia berbeda dan pantas dibicarakan. Ditambah lagi dengan gencarnya pemberitaan di media-media cetak, elektronik bahkan sampai internet merupakan faktor yang membuat fenomena Ponari makin menghebohkan.

Lantas, bagaimana dokter menyikapi fenomena Ponari? Pertama yang harus ditekankan adalah kita tidak memiliki hak untuk melarang Ponari "berpraktik" ataupun melarang orang untuk berobat ke Ponari. Seorang dokter tidaklah perlu untuk memposisikan diri "bersaing" dengan Ponari. Yang menjadi pekerjaan rumah bagi para dokter dan kalangan kesehatan adalah bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan meningkatkan diri baik dari segi keilmuan maupun segi pendekatan kepada pasien. "Mukjizat" juga seringkali dianggap sebagai solusi jika koridor rasional tidak lagi mampu menjawab atau menerangkan permasalahan yang ada. (*)



* Tulisan ini merupakan rangkuman dari hasil diskusi bulanan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Bali yang diselenggarakan pada 11 April 2009 dengan narasumber Prof. dr. Elias Sukardi dan dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ(K) dalam rangka menyambut HUT IDI pada Oktober 2009.





[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak