Untitled Document
» Berita Budaya
04 Juni 2012 | BP
Edisi seblian puluh dua
Mempunyai Tiga Anak dari Sarmishtha Devayani Adukan Prabu Yayati kepada Sukra
Rishi Vyasa :(Bharata) setara dengan Veda. Itu adalah suci dan agung. Bharata menganugrahi kekayaan dan kemasyuran. Oleh karena itu, sesorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.





DATANG waktunya, Sarmishtha yang manis senyumnya dan alis mata yang indah mengandung sebagai akibat dari hubungannya dengan raja yang terbaik itu. O Baginda, wanita yang bermata seperti bunga lotus itu pada waktu yang wajar melahirkan seorang anak laki-laki yang kemegahannya seperti anak Surgawi. Mata anak itu seperti kelopak bunga lotus. Ketika Devayani yang manis senyumnya mendengar kelahiran dari anak ini, dia menjadi cemburu. Sarmishtha menjadi objek darii pemikirannya yang tidak menyenangkan. Devayani, pergii menemuinya, berkata kepadanya, '’O engkau yang beralis mata indah, dosa apa ini ? Engkau telah melibatkan diri untuk menghasilkan sesuatu yang dipengaruhi oleh nafsu?'

Sarmishtha menjawab, '’Seorang Rishi tertentu yang berjiwa luhur dan paham secara penuh dengan Veda datang kepada hamba. Dengan kemampuan memberikan hadiah hamba minta kepada beliau memberikan keinginan hamba yang didasari oleh pertimbangan-pertimbangan kebajikan. O Paduka yang bersenyum manis. Hamba tidak mencari jalan dengan cara-cara penuh dosa untuk memenuhi keinginan hamba. Hamba mengatakan sungguh-sungguh kepada Paduka bahwa anak hamba ini dari sang Rishi tersebut!'

Devayani menjawab, '’Itu tidak apa-apa jika persoalannya demikian, O orang yang malu-malu! Tetapi jika garis keturunan, nama dan keluarga Brahmana itu engkau ketahui, aku ingin mendengarnya.' Sarmishtha menjawab, '’O Paduka yang manis senyumnya, dalam hal kepertapaan dan energi, Rishi itu semegah seperti Matahari sendiri. Melihat beliau, hamba tidak perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu—' Devayani kemudian berkata, '’Apabila itu betul, apabila itu sungguh-sungguh, engkau mendapatkan anakmu dari Brahmana yang tinggi ilmunya. Kemudian, O Sarmishtha, aku tidak punya alasan untuk marah kepadamu‘.' Setelah berbicara dan tertawa-tawa dengan riang gembira satu sama lain, mereka berpisah, Devayani kembali ke istana dengan pengetahuan yang ditanamkan kepadanya oleh Sarmishtha.

O Baginda, Yayati juga menurunkan dua orang anak laki-laki dari Devayani yang diberi nama Yadu dan Turvasu. Kedua anak itu seperti Indra dan Vishnu. Dan Sarmishtha, putrii Vrishaparvan, menjadi ibu tiga orang anak laki-laki semuanya yang bernama Drahyu, Anu dan Puru, dari raja yang bijaksana itu.

Pada suatu hari, Devayani yang bersenyum manis, ditemanii oleh Prabu Yayati, pergi ke tempat sunyi di hutan itu, --di taman milik Baginda yang sangat luas---. Dan disana dia melihat tiga orang anak laki-laki dengan ketampanan Surgawi bermain-main dengan kepercayaan diri yang sempurna. Devayani bertanya dengan herannya, '’Anak-anak siapa mereka ?, O Baginda, yang demikian tampan dan begitu persis seperti anak-anak surgawi itu? Dalam kemegahan dan ketampanan mereka seperti Paduka, hamba pikir.' Dan Devayani tanpa menunggu jawaban dari Baginda, menanyai anak-anak itu sendiri, '’Kalian anak-anak, apa garis keturunanmu? Siapa ayahmu? Jawablah sungguh-sungguh. Aku ingin mengetahui semuanya.’' Anak-anak itu kemudian menunjuk ke arah Baginda, dengan jari telunjuk mereka dan mengatakan bahwa Sarmishtha adalah ibu mereka. Dan setelah mengatakan demikian, anak-anak itu mendekati Baginda mendekap lututnya. Tetapi Baginda tidak berani mengelus-elus mereka di hadapan Devayani. Kemudian anak-anak itu meninggalkan tempat itu, dan langsung menuju ibunya. Anak anak itu menangis dengan sedihnya. Dan Baginda, karena kelakuan yang tidak terduga dari anak-anak ini, menjadi sangat malu.

Tetapi Devayani, menandai kasih sayang anak-anak itu kepada Baginda. Devayani mulai menguak tabir misteri yg tersembunyi rapat rapat selama ini. Ia jadi mengetahui rahasia tersebut dan berkata kepada Sarmishtha, ‘'Bagaimana engkau telah berani melukai aku. Sementara engkau tergantung kepadaku? Apakah engkau tidak takut untuk mendapatkan perlindungan sekali lagi dari adat istiadat Asuramu itu?'

Sarmishtha menjawab, '’O Paduka yang senyumnya manis, semua yang hamba ceritakan tentang Rishi tersebut sepenuhnya benar adanya. Hamba telah melakukan dengan baik dan menurut kebajikan yang dapat dimengerti. Karena itu, hamba tidak takut kepada Paduka. Ketika Paduka memilih Baginda sebagai suamii Paduka, hamba juga, memilih Baginda sebagai milik hamba. O Paduka yang cantik, suami seorang teman adalah, menurut pemakaiannya, merupakan suami sendiri juga. Paduka adalah putri seorang Brahmana dan, karena itu, pantas mendapat sembah dan penghormatan hamba. Tetapi apakah Paduka tidak mengetahui bahwa Baginda yang bijaksana ini tetap memperlakukan hamba dengan penghargaan yang lebih tinggi?'

Devayani berseru setelah mendengar kata-katanya darii Sarmishtha‚ ‘‘O Baginda, demikian. 'Paduka telah menyalahkan hamba, O Baginda! Hamba tidak akan tinggal disini lebih lama lagi.' Dan setelah berkata ini, Sarmishtha segera bangkit, dengan mata penuh air mata, pergi menemui ayahandanya. Baginda sangat sedih melihat istrinya demikian, dan sangat gelisah, mengikuti jejaknya. Prabu Yayati berusaha keras untuk menenangkan kemarahannya yang muncul spontan. Tetapii Devayani, dengan mata memerah karena marah, tidak mau berhenti. Devayani tidak berkata sepatahpun kepada Baginda. Dengan mata bermandikan air mata, ia segera sampai di tempat tinggal ayahandanya Usana, putra Kavi. Begitu melihat ayahandanya, ia berdiri dihadapannya, setelah menghormat sepatutnya. Prabu Yayati juga, segera sesudahnya, menghormat dan menyembah Bhargava.”

Devayani berkata, '’O ayahanda, kebajikan telah dikalahkan oleh sifat buruk. Yang rendah telah bangkit, dan yang tinggi telah jatuh. Hamba telah disakiti lagi oleh Sarmishtha, putrii Vrishaparvan itu. Tiga anak laki-laki telah diturunkan dari Baginda Yayati ini dari Sarmishtha. Tetapi, O ayahanda, karena ketidakberuntungan, Hamba hanya mendapat dua anak laki-laki! O Putra Bhrigu, Baginda ini terkenal karena pengetahuannya tentang makna dari agama. Tetapi, O Kavya, hamba memberi tahu kepada Paduka bahwa Baginda telah menyimpang dari jalan kecil kejujuran.” (bersambung)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak