Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Gaya Hidup
07 Oktober 2010 | BP
Sedot Lemak, Jalan Pintas Menuju Langsing
BELUM lama ini, sederetan selebritis seperti Melly Goeslaw, Titi DJ, Tamara Geraldine, dan Dominique A. Diyose mengaku secara terbuka kepada media bahwa mereka telah menjalani perosedur bedah plastik untuk memperbaiki bentuk tubuh di sana-sini.

Selain para figur publik ini, bedah plastik kini makin akrab dengan masyarakat biasa seperti ibu rumah tangga dan karyawati. Para wanita ini tidak mau kalah dalam mempertahankan kecantikan dan bentuk tubuh mereka.

Beberapa prosedur yang umum diminati masyarakat adalah:



Sedot Lemak (Liposuction)

Inilah cara perbaikan bentuk tubuh yang paling diminati wanita. Menurut dr. Lisa Hasibuan, Sp.BP., dr. Bedah Plastik dari RSUD Hasan Sadikin, Bandung dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, peminatnya cenderung meningkat, namun masih banyak salah kaprah mengenai prosedur ini.

Sedot lemak sebenarnya merupakan tindakan pembedahan untuk membuang kelebihan lemak yang tidak diinginkan dari bagian tubuh tertentu untuk membentuk tubuh menjadi lebih baik dan menarik (body contouring). Hasil yang dapat terlihat misalnya adalah paha yang bersayap menjadi hilang dan perut yang buncit menjadi rata.

Caranya: Bagian tubuh yang akan diperbaiki (umumnya perut, lengan, paha dan bokong) dibuat sayatan kecil (+ 1 cm) untuk memasukkan kanul (semacam pipa tumpul) ke lapisan lemak di bawah kulit. Kanul kemudian dimasukkan dan dimasukkan sejenis cairan melalui kanul tersebut. Setelah itu dilakukan penyedotan sel-sel lemak. Bila jumlah lemak yang disedot sedikit dapat dilakukan bius lokal dan bila banyak digunakan bius umum. Pasien dapat langsung pulang setelah tindakan.

Menurut dr. Lisa, terdapat beberapa syarat untuk menjalani sedot lemak, yaitu:

* Pasien harus sehat. Terbebas dari penyakit jantung, diabetes dan paru-paru. Bila pasien menderita kelainan seperti di atas, kondisi kesehatannya harus benar-benar dipantau. Untuk memastikan kondisi kesehatan pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium, rontgen dan EKG sebelum disetujui untuk menjalani operasi.

* Pasien sebaiknya memiliki elastisitas kulit yang baik, usia ideal untuk menjalani sedot lemak adalah di bawah usia 45 tahun.

* Tidak dalam kondisi obesitas (Body Mass Index, atau BMI di atas 30kg/m2, BMI dihitung dengan cara berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (meter) kuadrat). Liposuction pada pasien obesitas tidak objektif karena harus membuang terlalu banyak lemak dan akan meninggalkan kulit yang kempes (keriput, peyot).

* Tidak memiliki luka bekas operasi, terlebih bila dilakukan di daerah perut. Bekas luka akan menimbulkan jaringan parut yang keras, sehingga menyulitkan proses penyedotan.

* Pasien memiliki harapan yang realistis terhadap hasil operasi dan tidak memiliki gangguan psikologis berat.

Risiko yang dihadapi setelah tindakan di antaranya permukaan kulit yang tidak rata, kempes, kendur dan menggelambir bila lemak yang disedot terlalu banyak atau hasil yang kurang memuaskan bila lemak yang disedot terlalu sedikit. Dapat terjadi perdarahan, terlihat sebagai memar atau kebiruan di kulit.

Bagian tubuh yang disedot lemak bisa mengalami pembengkakan. Tamara Geraldine mengaku ia pernah mengalami pembengkakan di bagian paha setelah liposuction karena tidak menuruti nasihat dokter. Ia nekat berjalan jauh walaupun belum diperbolehkan.

Merasa nyeri, terutama bila balutan bedah (korset) dibuka sebelum waktunya (korset sebaiknya dipakai sampai 1 bulan setelah operasi).

Bila lemak yang disedot cukup banyak (lebih dari 3.000 cc), operasi dilakukan secara bertahap. ''Tren sekarang penyedotan dilakukan secara bertahap, karena lebih aman,'' jelas dr. Lisa.

Risiko lain sedot lemak adalah emboli lemak, yaitu sel lemak terlepas saat disedot dan masuk ke pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan kematian. Namun, sekarang ini teknologi sedot lemak telah semakin maju. Penyedotan dilakukan secara basah (dimasukkan cairan sebelum dilakukan penyedotan) serta digunakan kanul yang tumpul.

Setelah menjalani sedot lemak, tubuh memang terlihat lebih ramping, namun hal ini tidak permanen. dr. Lisa menegaskan bahwa bila pasien tidak memiliki komitmen untuk mengubah gaya hidup, seperti mengatur asupan makanan dan berolahraga secara teratur, maka sel lemak yang ada di dalam tubuh dapat membesar. (kmb)



[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak