Islamabad - Penggunaan pesawat-pesawat kecil tanpa awak di Pakistan biasanya mengingatkan banyak orang terhadap image pesawat mata-mata AS yang menyerbu kawasan pedalaman. Namun, penggunaan pesawat kecil ini sekarang digunakan untuk aksi berbeda yakni mengambil foto-foto pemandangan indah negeri tersebut.
Pesawat tanpa awak ini digunakan untuk mengambil gambar pegunungan tertinggi di dunia yang sering didaki oleh pemanjat kelas dunia dengan puncak yang memiliki sedikit oksigen. Dikontrol dari jarak jauh, pesawat ini sejak lama menjadi alat utama militer Amerika dan digunakan secara eksklusif di areal-areal pedalaman Pakistan dekat perbatasan Afghanistan untuk memata-matai militan yang jadi target.
Akan tetapi, belakangan warga sipil menggunakan pesawat-pesawat yang mirip untuk mengambil foto nan indah. Musim panas ini, sebuah ekspedisi Swiss menggunakan helikopter kecil untuk mengambil gambar foto langka para pendaki di Karakoram, salah satu pegunungan yang paling menantang dan sangat berat untuk ditaklukkan.
"Warga bisa melihat foto di Karakoram dari angle berbeda dan tak satupun orang pernah melakukannya," ujar Corey Rich, fotografer dan videografer dari Lake Tahoe, California, yang berada dalam ekspedisi.
Ekspedisi ini merupakan proyek gabungan sebuah perusahaan baju dan peralatan, yang khusus menggunakan helikopter kecil untuk mengambil video. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan pendaki gunung kelas dunia David Lama bersama rekannya Peter Ortner, saat memanjat Trango Tower. Menara granit di Gletser Baltoro tersebut memiliki ketinggian lebih dari 6.000 meter di atas permukaan laut dan secara teknis merupakan salah satu yang paling sulit untuk didaki di dunia.
Sutradara film sejak lama menggunakan helikopter untuk mengambil gambar udara dari pemanjat, juga olahraga ekstrem lainnya seperti surfing dan panjat tebing, yang biasanya sulit untuk diambil dari darat. Namun, biaya helikopter terlalu mahal dan bisa berbahaya jika mereka mengalami kecelakaan atau terlalu dekat dengan orang di daratan. Juga baling-balingnya sering menerbangkan debu, salju dan angin kecang, sehingga membuat pemanjat bisa kehilangan keseimbangan.
Lain halnya helikopter tanpa awak, dengan bobot hanya beberapa kilogram dan harga antara 1.000 hingga 40.000 dolar (sekitar Rp 360 juta), ukurannya sangat jauh dibanding helikopter normal. Model-model terbaru dari heli tanpa awak, yang semua baling-balingnya menghadap ke langit, membuat mereka terlihat seperti laba-laba terbang atau serangga. (ton/ap)
|