Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Nasional/Politik
28 September 2010 | BP
Rusak Rumah Warga, Rentenir Dibekuk
Banyuwangi (Bali Post) -
Praktik lintah darat atau rentenir ternyata masih subur di Banyuwangi, Jawa Timur. Komplotan rentenir berhasil dibekuk aparat Polsek Muncar, Banyuwangi, Senin (27/9) kemarin. Mereka ditangkap setelah dilaporkan merusak salah satu rumah warga di Dusun Palurejo, Tembokrejo, Muncar. Aksi perusakan dipicu pemilik rumah yang tidak mampu mengembalikan utangnya.
Jaringan rentenir tersebut diduga diotaki oleh Ehmi Rohani (38) dan Jalaludin Baidowi alias Tinjani Ahmad alias Aa (29), keduanya warga Palurejo, Muncar. Selain dua warga ini, polisi menangkap lima warga yang ikut melakukan perusakan.
Terbongkarnya praktik rentenir ini berawal dari aksi penyitaan rumah milik Kamsuri (55) yang dilakukan Ehmi bersama komplotannya, Minggu (26/9) siang. Berdalih tak bisa melunasi utangnya senilai Rp 30 juta, Ehmi menyita paksa rumah di pinggir jalan raya tersebut. Selain utang, rumah itu juga diklaim Ehmi sudah dibeli seharga Rp 75 juta. Nilai ini dihitung berdasarkan tunggakan utang yang tak terlunasi selama hampir dua tahun.
Begitu akan disita, Kamsuri yang tidak merasa memiliki utang dan menjual rumahnya langsung mencak-mencak. Namun perlawanan ini tak digubris. Bahkan, lima anak buah Ehmi berusaha menyerang korban. Karena kalah banyak, korban memilih menghindar, lalu melapor ke Polsek. Merasa menang, Ehmi menyuruh anak buahnya menurunkan atap genteng rumah milik korban. Termasuk menjebol sejumlah plafon. Akibat aksi ini, hampir separuh genteng rumah rusak setelah diturunkan paksa.
Polisi yang mendapat laporan korban bergegas ke lokasi. Hasilnya, polisi mendapati tujuh warga yang sedang asyik membongkar paksa rumah Kamsuri. ''Mereka langsung kita amankan tanpa perlawanan,'' kata Kapolsek Muncar AKP Bakin melalui Kanit Reskrim Ipda Basori.
Dua pelaku sempat berusaha kabur, namun berhasil dikejar petugas. Sedangkan Ehmi yang menjadi dalang utama sempat pingsan ketika diciduk petugas. Seluruhnya kemudian digiring ke Polsek untuk penyidikan.
Belakangan diketahui, Ehmi memang meminjamkan uang kepada saudara korban, Ambaria (25), dengan jaminan sertifikat rumah. Anehnya, muncul surat penjualan rumah antara Kamsuri dengan Ehmi. Saat ditanya polisi, Kamsuri mengaku tidak pernah membuat cam jempol penjualan. Dia memang pernah membuat cap jempol bersama Ehmi. Namun dia tak mengetahui isi perjanjian tersebut lantaran buta huruf. ''Katanya kalau enggak mau cap jempol, uang pinjamannya gak akan dicairkan,'' ujar Kamsuri.
Polisi masih mengembangkan kasus perusakan tersebut. Beberapa jam setelah tujuh pelaku ditangkap, ada tiga warga yang melapor karena kasus serupa. Mereka rata-rata rumahnya disita secara paksa lantaran tak mampu membayar utang. ''Kita masih lakukan pemeriksaan. Dari tujuh pelaku seluruhnya kita tetapkan sebagai tersangka,'' kata Ipda Basori.
Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis, masing-masing 406 junto 170 dan 55 KUHP tentang perusakan secara bersama-sama. Polisi juga memasangi rumah korban dengan police line untuk mengamankan penyidikan. (udi)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak