Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Ekonomi/Pariwisata
07 Juli 2013 | BP
Pembeli Menurun, Pedagang Pasar Seni Cemas
Gianyar (Bali Post) -

Musim liburan menjadi harapan bagi para pedagang yang ada di Pasar Seni, baik Pasar Seni Sukawati maupun pasar seni lainnya yang ada di Gianyar. Namun harapan itu pupus, dengan menjamurnya pasar oleh-oleh. Masyarakat kecil seperti pedagang yang memerlukan regulasi dalam perlindungan kelangsungan ekonomi masyarakat kecil masih terpinggirkan. Banyak harapan kepada pemerintah dari masyarakat kecil seperti pedagang Pasar Seni Sukawati belum bisa terwujud hingga kini.

Salah satunya kehadiran pasar oleh-oleh. Kondisi ini makin menjadikan kekhawatiran masyarakat. Keberadaan mereka hanya akan digerus oleh pengusaha bermodal besar.

Sebelumnya, kehadiran pasar oleh-oleh pada masa pemerintahan sebelumnya kurang terkontrol dan dinilai sebagai penyebab meredupnya pasar seni tradisional. Salah seorang pedagang Pasar Seni Guwang, Wayan Wastawan, beberapa waktu lalu berharap, pemerintah bisa memberikan perlindungan dalam hal kebijakan bagi para pedagang di pasar seni. Program membangkitkan pasar tradisional dan seni jangan hanya menjadi wacana.

Sementara pantauan akhir-akhir ini, pemandangan ramai dan berdesak-desakan tak lagi menjadi situasi keseharian di Pasar Seni Sukawati. Kondisi ini bahkan dalam dua tahun terakhir sudah tak terlihat. Seperti Sabtu (6/7) kemarin, kendati hari libur kunjungan di pasar seni jauh beda dengan musim liburan beberapa tahun lalu. Dalam kesehariannya, kunjungan wisatawan lokal maupun asing terus nenurun.

Kondisi ini dirasakan oleh para pedagang pascabom Bali, dan puncaknya ketika sejumlah toko oleh-oleh berjamuran di pintu masuk Gianyar, dan di beberapa tempat di Bali seperti di Denpasar. "Sejak tumbuhnya toko oleh-oleh pemodal besar, kunjungan di pasar seni langsung dirasakannya menurun drastis," ujar Dewa Nyoman Alit, salah seorang pedagang pakaian di Pasar Seni Sukawati, beberapa waktu lalu.

Mereka masih dibuat khawatir, jika kebijakan pemerintah masih sama dengan sebelumnya. Para pedagang khawatir akan mati pelan-pelan. "Pedagang kecil di sini berjumlah seribu orang. Bila kunjungan terus menurun, sedikitnya enam ribu kepala akan merasakan dampaknya," jelasnya. (kmb16)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak