Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kesehatan
06 April 2013 | BP
Di Bali, Ditemukan 24 Kasus Gizi Buruk Pada Balita
Denpasar (Bali Post) -

Kasus gizi buruk dan gizi kurang akibat asupan gizi yang tidak cukup ternyata masih ditemukan di Bali. Tahun 2013 saja, ditemukan 24 kasus, di mana daerah terbanyak adalah Buleleng dengan lima kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. Ketut Suarjaya, saat ditemui Jumat (5/3) kemarin memaparkan, jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus gizi buruk di Bali mengalami kenaikan.

Lebih lanjut dipaparkan, pada tahun 2011 ditemukan kasus gizi buruk pada anak berjumlah 63 orang dengan daerah tertinggi Klungkung mencatat 14 anak. Tahun 2012, menjadi 86 kasus dengan jumlah tertinggi daerah Karangasem sekitar 23 anak. Sementara data tahun 2013 baru ditemukan 24 kasus balita menderita gizi buruk.

Meningkatnya kasus gizi buruk di Bali mencerminkan sudah jalannya fungsi tim surveilan. Di sisi lain, juga berarti masih ada ibu yang tidak paham dalam memberikan gizi yang tepat bagi anaknya sejak dalam kandungan. Menurut Suarjaya, 30-35 persen kasus gizi buruk di Bali berasal dari keluarga miskin. "Biasanya jika dari keluarga tidak mampu, kekurangan gizi sudah terjadi pada saat dalam kandungan," ujarnya.

Namun, sebagian besar kasus gizi buruk yang ditemukan, diakibatkan balita menderita suatu penyakit sehingga memengaruhi nafsu makan dan penyerapan gizinya serta kekurangtahuan ibu mengenai pemberian gizi yang tepat pada anaknya.

Menurut Suarjaya, asupan gizi dilakukan saat anak masih di dalam kandungan. Begitu lahir di enam bulan pertama, anak diberikan ASI eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa makanan tambahan. "Dari enam bulan sampai satu tahun baru diberikan makanan pengganti ASI. Pemberian ASI tetap diberikan hingga anak berusia dua tahun," jelas Suarjaya. Melewati usia satu tahun, barulah anak diperkenalkan dengan makanan orang dewasa.

Untuk menangani kasus gizi buruk di Bali, selain memberikan informasi bagi para ibu tentang asupan gizi yang baik, anak yang menderita gizi buruk juga diberikan makanan tambahan selama 120 hari. "Pemberian makanan tambahan ini dimonitor oleh petugas posyandu, bidan desa atau tim surveilan di masing-masing daerah," papar Suarjaya. (san)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak