Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Ajeg Bali
03 Oktober 2010 | BP
Jagat Bali
''Nunas Tirtha Penyida Karya'' di Pura Dalem Sidakarya
DI wilayah Desa Sidakarya, Denpasar, terdapat sebuah pura sebagai tempat umat Hindu nunas Tirta Penyida Karya. Pura tersebut dinamakan Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. Pura ini berkaitan dengan perjalanan Brahmana Keling ke Bali yang akhirnya diberi gelar Dalem Sidakarya oleh Raja Bali Dalem Waturenggong.
Pada rerahinan Tumpek Landep, Sabtu (9/10) mendatang dilangsungkan pujawali di Pura ini. Pujawali di pura ini berlangsung setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan Tumpek Landep. Pada 4 Maret 2006 lalu, di pura ini juga sempat digelar Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih Pedudusan Agung, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini. Bagaimana sesungguhnya sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, kenapa umat Hindu mesti nunas tirta penyida karya di Pura ini?
Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya berada di Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar yang dahulunya merupakan wilayah Kabupaten Badung. Wilayah pesisir selatan ini dulunya sering disebut Pandanda Negara. Menurut pemangku Pura setempat, Drs. Ketut Yadnya, Sabtu (2/10) kemarin, dalam melaksanakan Panca Yadnya, umat Hindu umumnya nunas tirtha pemuput karya di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. Di Pura ini terdapat sejumlah palinggih yakni palinggih Pemayun Agung, pengayatan Pura Besakih dan Gunung Agung, Manik Geni, penghayatan Pura Lempuyang, Pemayun Toya, pengayatan Pura Batur, Pemayun Cakra, pengayatan Pura Batukaru, Pemayun Ngurah Agung, pengayatan ke Pura Uluwatu dan Pemayun Putra, pengayatan Pura Sakenan. Selain itu pengayatan Pura Sad Kahyangan, di Pura ini juga terdapat Parahyangan Jagat Natha. Di samping Gedong sebagai stana Ida Batara Dalem Sidakarya.
Dengan terpusatnya pelinggih pengayatan Sad Kahyangan menjadi satu di Pura ini, dan disempurnakan dengan adanya palinggih Jagat Natha, maka Pura ini dinamai Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya.
Hal yang sama disebutkan dalam Babad Sidakarya yang disusun I Nyoman Kantun, S.H., M.H. dan Drs. I Ketut Yadnya. Sementara itu dalam buku yang ditulis Panitia Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih Pedudusan Agung, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, tertanggal 4 Maret 2006, disebutkan Pura ini pada awalnya merupakan tempat berstananya Brahmana Keling. Berkat jasa beliau dapat mengembalikan kutuk pastunya--menjadikan jagat Bali kembali gemah ripah loh jinawi, sehingga Karya Eka Dasa Rudra di Pura Besakih dapat berjalan sukses (sidakarya) sesuai harapan Dalem Waturenggong dan masyarakat. Atas dasar itu Brahmana Keling dianugerahkan gelar Dalem Sidakarya.
Dalam Babad Sidakarya yang disusun Nyoman Kantun, S.H., M.H. dan Drs. Ketut Yadnya disebutkan, Brahmana Keling merupakan sebutan pendeta yang sangat termasyur tentang kebenaran utama yang mempunyai ilmu kelepasan jiwa. Disebut Brahmana Keling karena beliau berasal dari daerah Keling, Jawa Timur. Brahmana Keling adalah putra Dang Hyang Kayumanis, cucu dari Mpu Candra, kumpi dari Mpu Bahula dan cicit dari Mpu Beradah. Sampai saat
ini belum ada yang tahu nama asli Brahmana Keling. Karena berasal dari Keling maka beliau disebut Brahmana Keling.
Dalam babad itu dikisahkan, setelah datang dari Madura, di sebuah desa pesisir pantai di Jawa Timur yakni di Desa Muncar, Brahmana Keling bertemu ayahnya. Sang ayah bercerita banyak tentang Bali. Bali saat itu dipimpin Dalem Waturenggong yang pusat kerajaannya berada di Gelgel. Raja akan melaksanakan upacara Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, sebagai penasihat Raja dalam bidang keagamaan (kerohanian) adalah Dang Hyang Nirarta.
Mendengar cerita seperti itu Brahmana Keling akhirnya pergi ke Bali, menuju ke Keraton Gelgel untuk menemui sang raja yang masih saudaranya. Namun, sesampai di Keraton Gelgel, Brahmana Keling tidak bertemu Raja Waturenggong karena sedang berada di Pura Besakih mempersiapkan pelaksanaan upacara. Bergegaslah Brahmana Keling ke Pura Besakih dalam keadaan lesu dengan pakaian yang lusuh. Sesampai di Pura Besakih, Brahmana Keling disapa para pengayah dan ditanyakan mau ketemu siapa. Brahmana Keling menjawab ia ingin menemuai saudaranya Dalem Waturenggong dan Dang Hyang Nirartha. Para pengayah ragu atas pengakuan Brahmana Keling, sehingga kedatangannya belum berani disampaikan kepada Raja. Namun, karena segera ingin bertemu, Brahmana Keling masuk ke dalam Pura Besakih tanpa dilihat orang. Karena saking lelahnya, beliau menuju pelinggih Surya Chandra dan beristirahat sejenak. Tak berselang lama datang Dalem Waturenggong dan melihat bahwa ada orang dengan pakaian lusuh. Raja akhirnya memanggil prajurit untuk menanyakan siapa gerangan orang tersebut. Prajurit pun melaporlan bahwa orang itu tiada lain Brahmana Keling yang mengaku saudara Dalem Waturenggong.
Raja kemudian memerintahkan prajurit mengusir Brahmana Keling yang disangka orang gila, karena memakai pakaian yang compang-camping. Brahmana Keling yang tidak diakui sebagai saudara akhirnya meninggalkan Pura Besakih. Pada saat pengusiran itu Brahmana Keling sempat mengucapkan Kutuk Pastu yang isinya: Wastu tata astu, karya yang dilaksanakan tan Sidakarya (tidak sukses), bumi kekeringan, rakyat kegeringan, sarwa gumatat-gumitit ngrubeda di seluruh jagat Bali. Setelah menucapkan kutuk tersebut, beliau menuju arah barat daya yakni Badanda Negara yaitu Desa Sidakarya sekarang. Tak berselang lama, kutuk itu terbukti. Pohon-pohonan yang berguna untuk pelaksanaan penunjang karya, tiba-tiba layu, hama tanaman mengganas, penyakit menyerang penduduk, pengayah bertengkar tanpa sebab. Semuanya dalam keadaan kacau balau.
Pada suatu malam, Dalem Waturenggong bersemadi di Pura Besakih dan mendapatkan petunjuk Ida Batara bahwa beliau telah berdosa mengusir saudara sendirinya. Untuk mengembalikan keadaan semula, hanya Brahmana Keling yang mampu melakukannya.
Berangkatlah rombongan penjemput Brahama Keling ke Bandana
Negara untuk dimohon bersedia menemui Dalem Waturenggong. Brahmana Keling bersedia mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Diakuilah Brahmana Keling sebagai saudara. Keadaan menjadi semakin baik, maka Karya Eka Dasa Rudra dapat dilanjutkan pada Purnamaning Sasih Kedasa, kira-kira tahun Saka 1437 atau 1515 masehi.
Dalem Waturenggong di hadapan para menteri/patih/pre arya, Dang Hyang Nirarta dan Dalem Sidakarya bersabda: Mulai saat ini dan selajutnya, bagi setiap umat Hindu melaksanakan karya wajib nunas tirta penyida karya, supaya karya menjadi sidakarya. Untuk mengenang jasa Dalem Sidakarya seterusnya dan demi adanya parahyangan tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu, sekitar tahun 1518 M Dalem Waturenggong memerintahkan Raja Badung mendirikan Pura Dalem Sidakarya. (lun)


[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak