Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
20 Nopember 2012 | BP
Seorang Tersangka Hamil
Dua Tersangka Korupsi PNPM-MP Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor
Amlapura (Bali Post) -

Dua tersangka korupsi dana Program Nasional Pembangunan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) di Kecamatan Sidemen, Karangasem yakni I Wayan Kari Bagas Pramanta (39) dan Ida Ayu Sri Astuti (37), dilimpahkan penyidik Kejari Amlapura ke pengadilan Tipikor Denpasar, Senin (19/11) kemarin.

Hal itu disampaikan Kajari Amlapura Benny Santoso, S.H. kemarin di kantornya. Keduanya disangkakan melakukan tindak pidana korupsi dana bergulir PNPM-MP di Kecamatan Sidemen. Korupsi dilakukan secara berulang sejak tahun 2007 dan baru terungkap pada 2011.

Kedua tersangka dari hasil audit BPK, menyebabkan kerugian negara. Di mana, tersangka Bagas diduga mengkorupsi uang PNPM-MP dengan kerugian negara Rp 622,196 juta. Sementara, Sri Astuti sebagai tim pengelola kegiatan (TPK) menyebabkan kerugian negara Rp 87 juta.

Benny Santoso didampingi Kasi Intel Cokorda Dian Permana, S.H. mengatakan, Bagas sama sekali tak mampu mengembalikan uang hasil korupsi itu. Padahal, pria yang bertindak sebagai mantan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Sidemen itu sudah diberikan kesempatan agar bisa mengembalikan dana PNPM-MP itu. ''Saat kami geledah rumahnya, sama sekali tak ada aset yang tersisa, tinggal tersangkanya saja. Uang hasil korupsi sudah ludes, pengakuannya untuk judi dan mencari perempuan,'' katanya.

Tersangka Bagas asal Sidemen menyatakan menyerah, mengakui perbuatannya dan menyatakan siap disidang dan dihukum. Bagas ditahan sejak ditetapkan sebagai tersangka. Sementara, tersangka Sri Astuti yang tengah hamil besar, tidak ditahan dengan alasan kemanusiaan. Dikatakan, berkas perkaranya segera dilimpahkan penyidik, dengan harapan cepat diputus, sehingga hendak melahirkan di LP sudah sebagai napi.

Ditambahkan Benny Santoso, tersangka Sri Astuti asal Banjar Punia Desa Sinduwati Sidemen itu ada niat baik mengembalikan uang yang sebelumnya dikorupsi dengan nilai pengembalian Rp 45 juta. Meski ada pengembalian dari tersangka Sri Astuti yang seorang oknum pegawai honorer di sebuah puskesmas itu, tak berarti bisa menghapus perbuatan pidananya. Hanya nanti menjadi pertimbangan meringankan hukumannya. ''Rincian kerugian negaranya jelas kita rinci, ternyata dari hasil audit BPK yang minta waktu dua bulan dan hasil perhitungan kami di Kejari tak berbeda. Semula memang dalam informasi masyarakat ada kerugian negara sampai Rp 1 miliar, tetapi setelah kita hitung dan hasil audit BPK tak sampai Rp 1 miliar,'' katanya. (013)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak