Bangli (Bali Post) - Sukacita atas penghargaan Kaldera Batur Kintamani sebagai geopark, kini dihadapkan pada persoalan pelik menyangkut urusan isi perut masyarakat banyak. Pasalnya, dengan dinobatkannya Kaldera Batur sebagai geopark di Indonesia, mengharuskan dilakukannya pelestarian alam di wilayah itu. Sementara kondisi yang terjadi dan sudah bukan lagi menjadi rahasia umum di Kintamani, adanya penambangan bebatuan dan material di kawasan tersebut.
Bukan itu saja, pembalakan hutan menjadi areal pertanian terus terjadi dan terkesan sulit dikendalikan. Pantauan di lapangan, Minggu (23/9) kemarin, penambangan bukan saja terjadi di wilayah Dusun Tabu Desa Songan B Kintamani, namun sudah melebar menuju arah barat Gunung Batur. Penambangan bukan lagi hanya mengandalkan tenaga manual, bahkan menggunakan alat berat.
Jalan-jalan tikus jejak roda truk yang dipergunakan mengangkut galian terlihat jelas di belahan barat dan selatan Gunung Batur. Baik di dekat Pura Jati maupun wilayah Seked. Bupati Bangli Made Gianyar, S.H., M.Hum. belum lama ini mengakui, dengan lolosnya Kaldera Batur sebagai salah satu geopark dunia, di satu sisi merupakan suatu prestasi luar biasa. Agar bisa lolos, harus bersaing dengan negara di seluruh dunia. Apalagi untuk Asia, yang lolos adalah Indonesia (Kaldera Batur) dan Cina.
Namun dengan lolosnya Kaldera Batur menjadi geopark, tugas berat sudah menanti. Terutama dalam menggugah kesadaran masyarakat, apa manfaat dan keuntungan yang akan diraih setelah Kaldera Batur ditetapkan sebagai geopark oleh badan dunia tersebut. "Malu kalau kita setelah ditetapkan sebagai geopark, ternyata tidak bisa membawa perubahan pelestarian konservasi alam di Kaldera Batur," ujarnya. (kmb17)
|