Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
29 Juli 2012 | BP
Pura Luhur Batu Panes
TABANAN menyimpan segudang peninggalan pura unik. Salah satunya, Pura Luhur Batu Panes di Desa Pakraman Belulang, Desa Mengesta, Penebel. Pura di tengah areal persawahan ini memiliki banyak keunikan berbeda dibanding pura lain.
Yang paling aneh, pintu masuk pura berada di barat daya. Konon, arah pintu masuk ini sebagai simbol kemakmuran dan mampu mengobati berbagai penyakit.
Keunikan lainnya, Pura Luhur Batu Panes tak memiliki tembok penyengker, termasuk bangunan candi bentar sebagai pintu utama pura. Pura ini justru dikelilingi danau kecil yang tak pernah mengering sepanjang zaman. Di tengahnya ditumbuhi ribuan bunga padma yang muncul alami.
Belum diketahui pasti cikal bakal berdirinya pura ini. Berdasarkan cerita rakyat, pura ini berkaitan dengan Pura Luhur Batukaru dan Kerajaan Tabanan. Fungsinya tetap sebagai sumber kemakmuran para petani. Karena itu, para penyungsung dan penyiwi bakti Pura Luhur Batu Panes seluruhnya para petani.
Bendesa Adat Belulang, Ketut Suardisa, Sabtu (28/7) kemarin, menceritakan, berdasarkan cerita para sesepuh, Pura Luhur Batu Panes berawal saat Kerajaan Tabanan dilanda kekeringan. Lalu, raja bersama punggawa-nya melakukan semadi di lokasi yang sekarang menjadi Pura Batu Panes.
Semadi itu tak membuahkan hasil. Kemudian, raja melanjutkan semadi ke Pura Batulumbung dan munculah air besar yang kini menjadi Sungai Yeh Ho. ''Kisah ini konon ditemukan di babad Padma Cangah,'' kata Suardisa.
Dalam kisah itu disebutkan, sebagai penganceng Pura Luhur Batupanes adalah Puri Kompyang Tabanan dan berlanjut hingga sekarang. Ditambahkan, Pura Luhur Batu Panes diyakini sebagai pelinggih Siwa dengan manifestasi sebagai Brahma. Karena itu, menimbulkan hawa panas. Tak heran, jika di dekat pura terdapat sumber beji air panas yang dikeramatkan hingga sekarang. Pura Luhur Batu Panes juga dijadikan tempat meminta amertha dan menghilangkan berbagai penyakit. Pura ini awalnya hanya batu siwa lingga bertuliskan huruf kuno yang ditemukan di atas gundukan tanah. Lalu, dibuatkanlah pelinggih sejak tahun 1970. Kala itu, Siwa Lingga tersebut sempat dibaca. Namun, tidak ada yang mampu menerjemahkannya. Pura ini dilengkapi dengan sejumlah pelinggih, di antaranya Pura Penyacah, Pura Pengungangan Puseh Batuaya yang memiliki lingga yoni kuno, Pura Batur sari di sebelah timur, di sebelah selatan Dalem Kahyangan dan Taman Beji Air Panas di sebelah barat daya. Khusus di jeroan terdapat sejumlah pelinggih. Di antaranya, Pesimpangan Luhur Batukaru, Kerinan, pelinggih utama Ratu Wayan, Pura Sedahan, pesimpangan Pucak Petali, Ratu Nyoman yang seluruhnya berbentuk padmasana.
Pujawali Pura Luhur Batu Panes jatuh setiap Rabo Kliwon Wuku Gumbreg. Yang unik, ketika pujawali jatuh pada tilem atau purnama, prosesi harus diisi dengan upacara mepedudusan alit dan Ida Batara Pura Batu Panes melasti ke toya tabah/pekiisan di Babahan. Ritual ini biasanya jatuh setiap sepuluh kali pujawali. Sebagi pura krama subak, para petani rutin menghaturkan sesaji dan setahun sekali mempersembahkan sesaren tahun atau ngaturang emping. Tahun 2007, di pura ini terjadi kejanggalan. Kala itu, krama adat sepakat menggelar pertemuan untuk mengubah posisi pintu masuk pura dari arah barat daya ke tengah. Saat rapat di balai pura, seluruh krama adat kerauhan dan melarang pintu masuk pura di pindah.
Menurut Suardisa, berdasarkan penelitian arca Ganesha yang ada di Pura Puseh Belulang, Pura Luhur Batu Panes diperkirakan berumur 1.400 sebelum masehi. Ini didasarkan pada bahan arca dan bangunan Pura Puseh Belulang yang tidak menggunakan meru seperti tri kahyangan umumnya di Bali. ''Itu baru perkiraan awal. Sebab, belum ada penelitian yang konkret,'' tegasnya.
Selain tempat persembahyangan, lokasi Pura Luhur Batu Panes menjadi lokasi wisata air. Pengunjung biasanya menikmati air panas yang diyakini ampuh mengobati penyakit. Lokasi di sekitar pura juga cukup indah dengan hamparan sawah berundak. (udi)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak