Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
28 Juli 2012 | BP
Kasus Penusukan di Gianyar Tak Terkait Soal Pemekaran
KASUS penusukan satu keluarga dengan korban tewas satu orang dan tiga luka-luka murni kasus kriminalitas. Tidak ada sangkut-paut dengan perselisihan yang selama ini terjadi antara dua kelompok di Banjar Getas Kawan Desa Buruan Kecamatan Blahbatuh. Wakapolres Gianyar Kompol Dewa Made Adnyana, SIK. menegaskan hal itu di sela pengamanan prosesi penguburan korban penusukan, Ni Wayan Suarti, Jumat (27/7) kemarin.
Mayat Ni Wayan Suarti dijemput pukul 11.30 wita dari kamar jenazah RS Sanjiwani, Gianyar. Suasana duka terlihat sejak prosesi memandikan jenazah. Suami korban, Wayan Widiana alias Donat, sempat tak sadarkan diri. Demikian pula dua anaknya, Made Maha Parmadi yang sedang duduk di kelas VI SD dan Komang Prasetya masih kelas III SD, juga shock melihat ibunya meninggal dunia.
Sementara itu, Kasat Reskrim AKP Nengah Sadiarta yang mendampingi Wakapolres mengatakan, pelaku dalam kasus ini diancam Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal, dan UU Darurat karena membawa senjata tajam.
Lantas bagaimana soal kejiwaan? Nantinya akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Yang jelas, kasus ini diproses secara hukum dahulu. Sedangkan pelaku, yang sempat menjadi bulan-bulanan warga Getas Kawan dirawat di RS Trijata, Denpasar.
Sementara itu, terkait dengan ngamuknya pelaku merupakan murni kasus kriminalitas, warga Dharmasanmata yang sempat diungsikan sebelumnya ke Polres Gianyar mulai dipulangkan Kamis malam secara bertahap. Hingga Jumat (27/7) kemarin, suasana di Getas Kawan kondusif. (kmb16)


Idayanti Masih Dirawat Intensif Nasib Jabang Bayi Belum Diketahui

KORBAN penusukan, Ni Wayan Idayanti (20) yang sedang hamil dua bulan, masih terbaring lemas di ruang ICU RS Sanjiwani Gianyar, Jumat (27/7) kemarin. Nasib jabang bayi Idayanti masih belum diketahui. ''Masih dilakukan konsul dengan kebidanan,'' jelas petugas ICU Ida Ayu Artini.
Kondisi korban memang sudah stabil, namun perlu istirahat. Korban yang masih setengah sadar itu masih dipasang alat ventilator untuk membantu pernapasan.
Sementara itu, kakak korban Kadek Erayanti tampak tabah menunggu. Kata Erayanti, adiknya menikah tiga tahun yang lalu. Namun hingga kini belum dianugerahi anak. Dalam kehamilan pertama, korban sempat keguguran, dan kehamilan kedua malah mendapatkan peristiwa yang mengenaskan. ''Kami pasrah dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja,'' katanya.
Sementara itu, Ketut Wirata (24) yang sempat pulang setelah lukanya dijahit, kembali dibawa ke RS Sanjiwani karena luka tusukan di lengan kanan hingga tembus punggung masih mengeluarkan darah. Darah masih terlihat mengalir ketika dirawat ke Ruang Bima nomor 303.
Wirata dirawat di ruangan itu bersama dengan ibunya, Ni Made Werni. Kondisi kedua korban tampak sudah membaik. ''Saya tak menyangka dan mempunyai firasat apa pun sebelum kejadian. Peristiwa itu datang secara tiba-tiba,'' kata Wirata.

Berawal dari Gang
Ni Made Werni yang melihat langsung kejadian itu menjelaskan bahwa peristiwa berdarah yang dialami anak dan menantunya berawal dari teriakan wanita di gang, sebelah timur warungnya. Teriakan wanita itu ternyata menantunya, Ni Wayan Suarti, yang ditusuk pelaku Ketut Sulendra.
Mendengar teriakan tersebut, Werni menyuruh anaknya Wirata untuk melihat. Saat itu menantunya, Suarti, hendak membawa kain ke tukang jahit, dan secara tidak langsung bertemu pelaku yang menghunus pedang.
Ketika Wirata hendak melihat korban, malah dirinya yang diserang. Korban yang dikejar lari masuk ke warung dan masuk halaman rumah. Di dalam rumah, tepatnya di belakang warung, Werni dan Idayanti terkejut melihat Wirata dikejar pelaku. Tiba-tiba pelaku juga menyerang Werni hingga melukai dadanya dan Idayanti yang sedang memasak nasi tertusuk di bagian perut hingga ususnya keluar. Akhirnya teriakan minta tolong membuat warga keluar rumah dan mengajak korban ke rumah sakit.
Kata Werni, pelaku biasa ke warung untuk berbelanja. Hari-hari biasanya, pelaku biasa bekerja dan bahkan juga berjudi. Menurut Werni, tak ada masalah apa pun sebelumnya dengan pelaku. (kmb16)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak