Bantuan yang diberikan pemerintah tak selamanya menguntungkan petani. Buktinya, puluhan petani padi di Desa Gadungan, Selemadeg Timur gagal panen akibat diserang hama. Yang menarik, bibit yang digunakan adalah jenis Cihera, bantuan dari pemerintah pusat. Selain hama, gagal panen dipicu musibah angin, beberapa waktu lalu.
Pantauan Bali Post, Sabtu (5/5) kemarin, hampir seluruh lahan padi di Subak Gadungan kondisinya memprihatinkan. Bulir padi banyak yang keropos. Batangnya membusuk dan mati. Akibatnya, hasil panen merosot tajam. Bahkan, ada beberapa yang gagal panen total. ''Kondisi padinya benar-benar parah. Batangnya membusuk dan hasilnya merosot,'' keluh Suriko (45), buruh pemetik padi yang ditemui di lokasi, Sabtu kemarin.
Pria asal Banyuwangi, Jatim ini menuturkan, akibat padi rusak, hasil panennya sangat menyedihkan. Biasanya, dalam kondisi normal, satu are bisa menghasilkan 65-70 kg. Karena rusak, hasil panen maksimal hanya 25 kg per are. ''Malah ada yang tidak dapat sama sekali,'' jelasnya.
Karena hasil panen menurun, penghasilnya juga ikut menurun. Untungnya, masih ada pemborong yang mau menaikkan tarif memanen padi. Sehingga, dia tak terlalu merugi.
Suriko menambahkan, kerusakan padi ini diduga akibat serangan hama penggerek batang dan belalang. Dia mencontohkan, batang padi yang menghitam, termasuk bulir padi yang tak berisi. Menurutnya, wereng menyerang pada ketika akan panen. Sehingga, bulirnya membusuk. Karena banyak yang rusak, harga borongan padi juga ikut merosot. Biasanya, harga bisa menembus Rp 180.000 per are. Akibat rusak parah, harga rata-rata anjlok hingga 50 persen.
Keluhan serupa dilontarkan Suparti (50), petani setempat. Dia mengaku hanya memiliki lahan seluas 10 are. Karena rusak, hasil panenya hanya empat karung kecil. Itupun kualitas padinya tidak bagus. ''Padinya rusak, jadi hasilnya mengecewakan,'' keluhnya.
Wanita ini mengaku, bibit yang digunakan adalah jenis Cihera yang diberikan oleh pemerintah. Awalnya, dia meyakini bibit padi gratis itu akan bisa panen dengan baik. Kenyataanya, meski sudah menggunakan berbagai jenis pupuk, batang padi tetap rusak layaknya terserang hama.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nyoman Budana, membenarkan rusaknya lahan padi di Subak Gadungan. Pejabat ini mengaku sempat turun langsung ke lokasi. Menurutnya, bibit padi yang dipakai petani memang bantuan dari pusat. Namun, dia membantah jika kualitasnya tidak bagus. ''Itu penyebabnya karena diterjang angin kencang. Pertama sudah diantisipasi dengan pupuk daun, tapi sebulan kemudian diterjang angin lagi, sehingga rusak lagi,'' jelasnya. (kmb30)