Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
08 Februari 2012 | BP
Melongok Pasar Kumbasari
Kios Barang Seni kian Merana, Dikalahkan Pasar Oleh-oleh
Kondisi kios di Pasar Kumbasari, khususnya di lantai tiga dan empat yang menjual barang-barang seni, kini semakin merana. Pengunjung yang sejatinya menyasar wisatawan, tak banyak datang ke kios tersebut. Bahkan, sedikitnya 20 kios di lantai itu tidak aktif lagi. Kondisi ini berbeda dengan kios di lantai dasar yang menjual sembako. Aktivitas para pedagang di lantai dasar tersebut cukup menggeliat. Mengapa pasar seni di Kumbasari sepi pengunjung?



PASAR Kumbasari sebelumnya bernama Peken Payuk. Nama itu tak asing pada tahun 1960-an. Warga Denpasar yang dulu disebut Badung sangat akrab dengan peken (pasar) yang terletak di bibir Tukad Badung ini. Rencana pendirian Pasar Kumbasari dimulai pada tahun 1975 dengan keluarnya surat penunjukan pelaksana pembangunan pasar bertingkat di Denpasar oleh Bupati Badung I Dewa Gede Oka. Surat penunjukan No. 135/Ek-II/2/1975 tertanggal 20 Desember 1975 tersebut menunjuk PT Cipta Agung Bali yang beralamat di Jalan Sanur (kini Jalan Hayam Wuruk) No. 12 Denpasar. Rencana tersebut juga mendapat persetujuan dari DPRD Badung melalui suratnya No. 25/V/DPRD/1976 tertanggal 13 Januari 1976 yang ditandatangani Ketua DPRD Badung A.A. Ngurah Manik Parasara.

Dengan disetujuinya proyek nonbujeter tersebut, akhirnya pada tanggal 15 Januari 1976, kedua belah pihak -- pemerintah dan investor -- membuat surat perjanjian tentang pembangunan pasar bertingkat dimaksud. Surat perjanjian yang terdiri atas 10 pasal tersebut ditandatangani oleh Bupati Badung (pihak I) I Dewa Gede Oka dan Presiden Direktur PT Cipta Agung Bali I Gede Arya dan Ketua Dewan Komisaris Welly Suriyono (pihak II) yang diketahui oleh Ketua DPRD Badung A.A. Ngurah Manik Parasara. Berdasarkan persetujuan itu, proyek pasar bertingkat pertama di Bali ini mulai digarap oleh PT Cipta Agung Bali.

Kini pasar tersebut sejatinya terbagi dalam dua kategori, yakni pasar basah (tradisional) dan pasar seni yang menjual barang-barang kerajinan. Sayangnya, pasar seni yang ada, tidak banyak dikunjungi pengunjung. ''Sebenarnya yang mati suri itu bukan Pasar Kumbasari, tetapi beberapa kios yang ada di pasar seni di lantai tiga dan empat,'' kata Dirut PD Pasar Denpasar I Made Westra, Selasa (7/2) kemarin.

Westra mengatakan, saat ini di Kumbasari terdapat 902 kios dan los. Sedangkan jumlah pedagang keseluruhan termasuk Pasar Kumbasari malam mencapai 1.400 kios dan los. Artinya, untuk malam, jumlahnya mencapai 500 pedagang. ''Untuk pasar seni saja bisa mencapai 200 unit,'' katanya.

Bila dikatakan mati suri, kata dia, tidak sepenuhnya benar. Karena dilihat dari perolehan pendapatan, Pasar Kumbasari mengalami peningkatan. Ia menyebutkan, pada tahun 2011 jumlah perolehan per bulan rata-rata mencapai Rp 155 juta untuk pasar pagi, dan Rp 60 juta per bulan untuk pasar malam. Pada tahun 2012 ini, pada bulan Januari telah mencapai Rp 206 juta untuk pasar pagi dan Rp 90 juta untuk pasar malam. ''Kalau dilihat dari pendapatannya, Pasar Kumbasari tetap menggeliat,'' katanya.

Westra mengatakan, minimnya kunjungan ke pasar seni Kumbasari, akibat beberapa faktor. Salah satunya menjamurnya pasar oleh-oleh yang ada di sejumlah titik di Denpasar. Selain itu, untuk wisatawan rombongan yang menggunakan bus masih mengalami kesulitan untuk parkir. ''Ini yang menyebabkan pengunjung berkurang ke pasar seni Kumbasari,'' kata Westra. (ara)



[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak