Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
07 Januari 2012 | BP
Harga Pupuk Naik, Petani Kelimpungan


Tabanan (Bali Post)-

Memasuki musim tanam padi, para petani sudah dibuat resah. Pemicunya, harga pupuk merangkak naik. Kondisi ini membuat petani kelimpungan. Keresahan petani makin diperparah dengan naiknya berbagai jenis obat-obatan pertanian.

Harga pupuk rata-rata naik Rp 10.000 per kilogram. Seperti, pupuk urea bersubsidi yang naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 90.000 per sak. Jenis pupuk NPK juga naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per kilogram. “Kami juga sempat kaget, harga pupuk naik cukup mahal,” keluh Wayan Santika (41), salah satu petani di Desa Batunya, Baturiti, Jumat (6/1) kemarin.

Pria ini menambahkan, harga obat-obatan tanaman juga ikut naik. Kondisi ini akan menambah beban produksi bagi petani. Padahal, hasil panennya belum tentu menjanjikan. Karena harganya mahal, sejumlah petani terpaksa membeli pupuk eceran, terutama jenis NPK. Mereka membeli rata-rata 10-15 kilogram untuk campuran pupuk urea.

Keluhan naiknya harga pupuk ini dibenarkan Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tabanan Nyoman Sukania. Dia menegaskan, para petani kelimpungan menghadapi naiknya harga pupuk. Sebab, kenaikannya cukup tajam. “ Harga Rp 10.000 itu lumayan besar. Harapannya, kenaikan bisa disesuaikan dengan kondisi petani,” kritiknya.

Yang paling dikeluhkan petani adalah kenaikan harga pupuk urea bersubsidi. Sebab, petani menggunakan harga lama dalam penyusunan rencana dasar kegiatan kelompok (RDKK) penggunaan pupuk. Kenyataanya, ketika RDKK itu diberlakukan, harga pupuk mendadak naik. Sehingga, petani menjadi kelimpungan mencarikan tambahan biaya pengadaan pupuk. “Harapannya, Pemkab Tabanan mencari solusi agar petani tidak terjepit terus,” tegas Sukania. Apalagi, memasuki musim tanam, petani banyak membutuhkan pupuk urea. Meski stoknya melimpah, petani tetap meradang akibat naiknya harga yang berbeda dengan RDKK.





Kebijakan Nasional

Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tabanan, Gde Made Sukawijaya menegaskan, kenaikan harga pupuk itu karena kebijakan nasional. Karena itu, dia berharap para petani memahaminya. Terkait RDKK, dia juga meminta menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Karena itu, dia menyarankan, para petani tidak terpaku pada pupuk urea saja. “Petani bisa menggunakan sistem pemupukan berimbang, salah satunya memakai pupuk majemuk lainnya,” katanya. Pupuk majemuk di antaranya Ponska, NPK dan sejenisnya. Jenis pupuk ini kata Sukawijaya harganya tak naik, rata-rata masih menembus Rp 2.300 per kg.

Selain pupuk majemuk, petani diarahkan kembali ke pupuk organik. Salah satunya, pupuk kandang dari kotoran ternak. Menurut Sukawijaya, stok pupuk urea di Tabanan masih melimpah. Bahkan, jatah tahun lalu masih belum terserap sekitar 1.000 ton. “Kenaikan harga urea berlaku secara nasional. Jadi, kita hanya menyarankan penggunaan pupuk majemuk untuk mengurangi beban petani,” tegasnya. (udi)







‘’Petani benar-benar terjepit karena kenaikan harga pupuk bersubsidi. Petani dalam penyusunan rencana dasar kegiatan kelompok (RDKK) penggunaan pupuk menggunakan harga lama. Kenyataanya, ketika RDKK itu diberlakukan, harga pupuk mendadak naik. Sehingga, petani menjadi kelimpungan mencarikan tambahan biaya pengadaan pupuk. Pemkab Tabanan mencari solusi agar petani tidak terjepit terus.”







[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak