Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
26 Juli 2011 | BP
Kian Marak, Penambangan Batu Putih di Nusa Penida
Semarapura (Bali Post) -

Batu atau padas putih Nusa Penida kian digemari. Tak hanya di kawasan Nusa Penida, juga sampai ke Bali daratan. Di antaranya untuk pembangunan pura dan beberapa bangunan stil Bali lainnya. Hal itu berimbas pada kian maraknya aktivitas penambangan di Nusa Penida, terutama di wilayah atas (perbukitan).

"Sekarang batu padas putih memang makin digemari. Penggalinya juga makin banyak," ujar warga Nusa Penida, Made Kasta, ketika dihubungi Minggu (24/7) lalu. Menurut Kasta, desa yang saat ini mulai banyak penggaliannya adalah wilayah Kutampi. Warga mulai beralih ke aktivitas penggalian akibat sulitnya lapangan kerja di Nusa Penida, mengingat letak geografis dan kondisi kawasan di wilayah kepulauan itu.

Dari segi harga, batu padas putih Nusa Penida juga makin bersaing dengan bahan bangunan sejenis lainnya. Untuk ukuran 30 x 20 x 10 cm harganya Rp 3.000/biji. "Batu putih ini umumnya dipakai untuk bahan bangunan, tembok panyengker tempat suci/pura. Bahkan, batu putih sudah dipasarkan secara luas di Bali," katanya seraya menyebutkan, kualitas batu putih Nusa Penida tidak kalah dengan kualitas batu putih di tempat lain. Di Nusa Penida sendiri hampir semua bangunan menggunakan batu padas putih.

Makin banyaknya penggalian, tentu berimbas kian terancamnya lingkungan. Karenanya, banyak yang mendesak Pemkab Klungkung segera membuat peraturan daerah (perda) untuk aktivitas penambangan galian C, termasuk di Nusa Penida, guna menghindari aktivitas penambangan berlebihan sebagaimana eks galian C Gunaksa.

Berkaitan dengan itu, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Klungkung, Dewa Gede Oka Kusumajaya, tak menampik adanya aktivitas penambangan itu. Dia juga mengakui kekhawatiran akan terjadi kerusakan lingkungan, di samping kekhawatiran bahwa penambangan juga mengancam keselamatan warga. "Masyarakat melakukan penambangan kan hanya mempertimbangan hasil yang bagus. Tetapi, jarang mempertimbangkan keselamatan, baik keselamatan diri maupun lingkungan. Makanya, selama ini kami selalu berusaha memberi pembinaan, karena tidak mungkin dihentikan begitu saja," katanya.

Dia mengakui ada sanksi pidana dan denda bagi masyarakat yang melakukan perusakan lingkungan. "Ini juga menyangkut isi perut. Tetapi, dalam melakukan penggalian, mereka harus tetap memperhatikan lingkungan. Paling tidak, penggalian yang mereka lakukan harus berupa terasering, tidak membuat gua/lubang," tambahnya. (kmb20)



[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak