Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kabupaten
31 Januari 2011 | BP
Kiprah Petani Lebah Lestarikan Alam, Kocek pun Bertambah
I Wayan Sutiarta (26), mewarisi tradisi sebagai peternak atau petani lebah dari leluhurnya. Petani muda asal Banjar Selumbung Kelod, Desa Selumbung, Manggis, Karangasem itu sudah merasakan manisnya nyambi beternak lebah, selain beternak samba dan belakangan iseng menjadi perantara jual-beli tanah. Orangtuanya membiayai dia sekolah dari hasil beternak lebah.





BIAYA sekolah tak hanya SD sampai SMA. Kini, meski sudah berumah tangga, dia melanjutkan studinya kuliah di sebuah perguruan tinggi di Denpasar yang membuka kelas di Karangasem. ''Selain beternak sapi, saya juga tetap meneruskan tradisi warisan leluhur beternak lebah,'' ujarnya di sela-sela pertemuan petani lebah di Antiga, Manggis, Karangasem, Minggu (30/1) kemarin.

Sutiarta yang di desanya akrab dipanggil Wayan Mideh, mengatakan tak sendiri sebagai petani lebah di desanya. Semua keluarganya, tetangga atau warga di sekitarnya juga menekuni profesi sebagai petani lebah. Di Selumbung, kata Mideh, tak kurang 30 orang petani lebah. Mideh yang memiliki kungkungan (kandang lebah) warisan leluhurnya berusia tak kurang 150 tahun mengatakan, para petani lebah di desanya sudah membentuk perkumpulan petani lebah.

Pemkab Karangasem juga sudah memberikan bantuan berupa stuk atau rumah lebah kepada kelompoknya. Dari 30 anggota, masing-masing mendapatkan bantuan 10 stuk. Kini di Desa Selumbung saja, tak kurang ada 2.000 buah kungkungan dan stuk, sebagai rumah lebah. Mideh menambahkan pada musim pohon berbunga, produksi lebah madu dan talanya paling tinggi. Soalnya, lebah mendapatkan makanan yang banyak dari sari atau madu bunga. Saat itu, petani lebah pun sumringah. Soalnya, tiap 15 hari panen sekali anak lebah (tala) dari 15 kungkungan saja, bisa diperoleh 30 kg. Sementara madu bisa didapatkan 10 botol. Tala dan madu sudah ada pengepul yang datang membeli ke rumah-rumah petani. Tala per kg Rp 12 ribu, sementara madu lebah asli per botol dijual tak kurang Rp 200 ribu. Jadi tiap kali panen 15 hari sekali pada musim bunga seorang petani lebah di Selumbung bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta lebih.



Ekspor ke Jepang

Petani lebah tak hanya di Selumbung, di Abian Canang, desa Ulakan, Manggis, juga ada petani kela di Jawa disebut kelenceng. Di desa ini, kata tokoh peternak kela yang mantan ketua kelompok tani kela setempat Nengah Suda (70), petani kela ada 70 orang. Tiap anggota masing-masing memiliki kungkungan 25 buah. Suda mengatakan, tiap minggu sekali petani memanen madu kela. Tiap satu tahun sekali, para petani mengumpulkan madu kela, karena saat itu pengepul atau pembeli dari Jepang datang. Dari 70 petani, terkumpul sekitar 100 botol bir madu kela dari para petani Abian Canang. ''Madu itu dijual kepada pembeli asal Jepang lewat perantara gaidnya Rp 200 ribu per botol,'' ujar Suda yang sudah uzur, sehingga mengundurkan diri sebagai ketua kelompok tani kela.

Meski sudah mundur, dia tetap menjadi anggota dan aktif beternak. Soalnya dari sana dia menambah kocek atau penghasilannya untuk menghidupi anak dan cucunya. Bagi Suda, beternak kela atau lebah tak sekadar mengejar uang. Namun yang lebih penting mengisi hobi, tetap aktif bekerja pada hari tua dan mengabdi kepada alam lingkungan, termasuk melstarikan plasma nuftah berupa kekayaan alam serangga penghasil madu.

Pemerhati lebah asal Desa Antiga Drs. Ketut Patra, Apt. (77) beternak lebah sangat banyak manfaatnya. Soalnya, lebah dalam kepercayaan Hindu merupakan serangga peliharaan Dewa Wisnu. Manfaat lebah dan madunya yang sangat baik bagi kesehatan ada di dalam sejumlah kitab suci agama. Kini sudah terkenal terapi kesehatan dengan menggunakan metode sengat lebah. Di kota belakangan banyak orang membuka praktik terapi kesehatan seperti menghilangkan rematik dengan sengat lebah. Satu sengatan lebah pasien bisa harus bayar Rp 40 ribu, katanya.

Kabid Kelembagaan Usaha Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemkab Karangasem Nyoman Merta Tanaya mengatakan, lembaganya memang sudah membina para petani lebah dan kela di Karangasem sekitar lima tahun lalu. Petani lebah memang ada sejak zaman dulu. Namun saat itu petani masih bersifat tradisional. (bud)



[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak