Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Budaya
23 Nopember 2008 | BP
Karya Kriya Gantikan Kerajinan?
Di Akademis, Masih Terlena dan Kebingungan
SEBELUM istilah kriya hadir di perguruan tinggi, disiplin seni yang mengajarkan ketrampilan ini disebut sebagai program seni kerajinan. Baru setelah konsursium kurikulum seni yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian muncul istilah "kriya" untuk menggantikan istilah "kerajinan". Kriya kemudian dipakai sebagai padanan istilah craft dalam bahasa Inggris. Jika dulu sangat mudah membedakan hirarki antara kriya dengan kerajinan, maka tidak halnya pada zaman sekarang. Benarkah kini kriya telah kehilangan posisinya yang terhormat?

Seni kriya secara harfiah adalah ketrampilan (skill) yang diramu dengan nilai estetika. Sedangkan wujud seni kriya dapat diklasifikasikan dari segi material dan bentuk. Dari segi material yang digunakan, kriya dapat diklasifikasikan menjadi kriya batu, logam, kayu, bambu, serat, tanah (keramik), sampai tekstil.

Pemisahan kriya dari segi material kemudian melahirkan disiplin minat (program studi) dalam jurusan kriya pada perguruan tinggi seni. Sedangkan ditinjau berdasarkan bentuknya, kriya dapat dibedakan menjadi bentuk dua dimensi (ukir, relief, lukisan) dan bentuk tiga dimensi menghasilkan karya-karya patung dan benda-benda fungsional seperti keris, mebel, juga busana adat. Dari segi teknik, bisa diklasifikasikan menjadi teknik pahat (ukir) atau butsir, rakit, cetak, pilin, slabing (keramik), tenun, batik (tekstil), sampai anyam (bambu, rotan).

Karya kriya merupakan fleksibel kebudayaan, di Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang meliputi beragam jenis ukiran dalam rumah adat daerah, relief-relief candi dan bangunan suci lainnya, patung primitif dari suku Asmat Papua, patung para Dewa dari Bali dan Jawa, dan sebagainya. Benda-benda pusaka seperti keris, arca (Bali), busana adat kebesaran daerah dengan pernak-perniknya semuanya merupakan benda-benda hasil seni kriya.

Kehilangan Posisi

Dalam karya kriya tercermin kegunaan bagi pemenuhan kelangsungan hidup manusia sehari-hari, identitas dan integritas sosial, serta interaksi sosial yang melibatkan orang lain dalam pembuatan dan penikmatannya, serta nilai-nilai keindahan atau pertimbangan-pertimbangan estetik yang dilandasi nilai-nilai budaya pendukungnya. Ciri kriya adalah pada intensitas kualitas pengerjaan yang serius atau kerap disebut dengan nilai craftsmenship, yang selalu ditunjukkan oleh karya-karya kriya.

Pemisahan kriya dengan kerajinan dapat dilihat dalam hirarki antara posisi kriya dengan kerajinan pada masa kerajaan. Kriya tumbuh dalam lingkungan istana, sedangkan kerajinan berada di luar istana dibuat oleh masyarakat kebanyakan. Sehingga, kualitas karya yang dihasilkan dapat dibayangkan perbedaannya, contohnya keris dengan pisau.

Keris, di samping berfungsi sebagai senjata juga diyakini mengandung kekuatan magis, dibuat dari bahan pilihan dengan teknik yang khusus menjadikannya sebagai mahakarya yang bernilai. Sedangkan pisau atau parang umumnya dibuat hanya untuk dipakai sebagai alat pemotong daging atau kayu, bahannya dari besi biasa, tidak ada yang spesial.

Jika dulu sangat mudah membedakan hirarki antara kriya dengan kerajinan, maka tidak halnya pada zaman sekarang. Sekarang kriya telah kehilangan posisinya yang terhormat. Karena, ketika sistem kasta zaman kerajaan telah ditinggalkan digantikan dengan sistem pemerintahan modern yang disebut Negara, kriya hanya menjadi sebuah tradisi dan bahkan kini banyak yang telah kehilangan budaya pendukungnya.

Kini, karya kriya dengan kerajinan sangat tipis perbedaannya. Karya-karya kriya tradisi sudah diproduksi dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Ketika diproduksi secara terus-menerus, kriya telah kehilangan aura mistisnya, dengan kata lain telah mengalami demistifikasi akibat produksi massal.

Pemisahan karya kriya dengan kerajinan kini tidaklah semudah pada zaman dulu, bisa dilihat dari segi kualitas. Kini karya yang dikategorikan kerajinan tidaklah sertamerta rendah dalam kualitas, karya (kerajinan) Indonesia yang mendapat apresiasi pasar tidak saja dalam negeri tetapi juga diekspor hingga ke luar negeri. Memiliki spesifikasi teknik dan tinggi baik ide dan pengerjaannya. Karya-karya yang sering dikategorikan sebagai kerajinan di masyarakat lebih tepat disebut dengan kriya.

Jadi, kehadiran kriya di masa sekarang lebih tepat dipakai untuk menggantikan kelumrahan yang terjadi di masyarakat, yaitu label kerajinan yang dirasakan kurang pas bagi karya-karya yang dalam pengerjaannya tidak dilandasi oleh pengulangan semata namun juga memiliki kualitas skill dan kreativitas di dalamnya. Usaha ini bisa dilihat dari ekspo kriya yang kini diselenggarakan secara rutin di Jakarta, hadirnya majalah kriya seperti oleh Dekranasda yang diketuai oleh Ibu Ani Yudoyono adalah salah satu upaya nyata untuk memperkenalkan dan lebih memasyarakatkan kriya di Indonesia.

Dilema di Akademis

Namun sayang, kriya di akademis justru masih terlena dengan segala ketidakjelasan dan malah kerap dirundung kebingungan tentang ke mana kriya harus diarahkan. Kriya di akademis berada dalam himpitan-himpitan yang dirasa menyesakkan.

Ini yang memunculkan berbagai pertanyaan seperti: ketika kriya berwujud dua dimensi, lalu apa bedanya dengan lukisan, apakah karena mediumnya kayu dan memakai pahat, bukankah sekarang seni lukis pun telah melampaui material kanvas dan cat. Ketika berwujud tiga dimensi, kemudian apa bedanya dengan patung yang juga menggunakan material dan teknik sama.

Namun hasil kriya bisa patung, bisa saja berupa patung. Perbedaannya hanya karena seni patung punya nilai historis yang berbeda dengan kriya (craft) dan mendapat pengesahan dalam lingkup seni rupa modern (fine art), sementara craft karena itu dianggap lebih rendah.

Kriya disebut lebih menekankan pada nilai craftmanship atau ketrampilannya tentu dalamnya juga ada intensi ketekunan (rajin). Tapi kriya juga enggan disamakan dengan kerajinan karena bukan hanya berdasar pada "rajin" semata. Bukankah dalam seni lukis dan seni patung juga mempertimbangkan ketrampilan atau kemampuan skill (craftmenship)? Apakah dengan begitu juga harus diberikan imbuhan kata kriya-lukis, atau kriya-patung?

Persoalan-persoalan tersebut memang terasa sangat pelik dan seolah-olah tidak memberikan ruang gerak bagi kriya untuk melakukan eksplorasi. Ketika kriya ditempatkan dalam cara pandang modernisme yang dikotomis, persoalan-persoalan tadi akan selalu membayangi dan menempatkan kriya secara hierarkis. Walaupun dalam praktik yang berlangsung dalam seni rupa modern Indonesia dan umumnya yang terjadi di dunia ketiga, dikotomi seni modern itu sebetulnya tidak pernah sehirarkis seperti yang terjadi di Barat. Hal ini terbukti dengan tidak terlalu terusiknya kehadiran karya-karya seniman disiplin kriya dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Begitu juga dengan seni-seni tradisi yang tetap bisa hidup terutama dalam naungan religiusitas (agama), adat, dan pariwisata yang merupakan salah satu faktor yang signifikan, seperti di Bali, Toraja, Yogya, Asmat Papua dan yang lainnya. Yang menjadi masalah kemudian adalah hancurnya infrastruktur dari seni tradisi tersebut, ketika paradigma seni modern datang dan diadopsi dalam institusi pendidikan tinggi seni di tanah air.

Kalau disadari berada dalam "ketidakjelasan", ini merupakan keuntungan tersendiri bagi kriya. Karena, dengan dasar ketrampilan dan kepekaan mengolah material, kriya bisa hadir dalam berbagai wujud dua dimensi, tiga dimensi, bisa sepenuhnya pure art (murni) atau apleid art (terapan). Tidak ada persoalan, asal kualitas tetap dipertahankan. Kriya kini lahir dalam bentuknya yang "hibrid" dan sudah seharusnya terus eksis karena kriya sesungguhnya adalah produk budaya dan budaya akan terus berkembang begitu juga kriya akan senantiasa bergerak melintasi waktu dan zaman.


* w. seriyoga parta

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak