Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
19 Nopember 2013 | BP
Prof. Titib dan Empat Koleganya Ditahan
Rugikan Negara Rp 1,4 M
Denpasar (Bali Post) - Mantan Rektor IHDN Denpasar Prof. I Made Titib akhirnya ditahan, Senin (18/11) kemarin, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa tahun 2011 di IHDN. Ahli Weda ini sejak Kamis (14/11) lalu menyandang status tersangka bersama pegawai IHDN Drs. I Nyoman Suweca dan dua orang rekanan Ni Putu Indera Maritin, S.T. dan Ir. I Wayan Sudiasa.

Sebelumnya, tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali sudah menetapkan satu tersangka yakni Pembantu Rektor II Dr. Praptini. Selain Titib, keempat tersangka lainnya juga menjalani penahanan selama 20 hari ke depan.

''Kita sudah melakukan ekspos, berdasarkan ekspos ada penambahan tersangka lagi empat. Mereka berinisial Prof. MT selaku KPA (Kuasa Pengguna Anggaran - red), Ni Putu IM (rekanan), Drs. I Nyoman S (pegawai IHDN) dan Ir. I Wayan S (rekanan),'' ujar Aspidsus Kejati Bali Putu Gede Sudharma didampingi Kasi Penkum dan Humas Kejati Bali Ashari Kurniawan.

Untuk sementara, kelima tersangka akan ditahan selama 20 hari. Keempat tersangka yakni Titib, Praptini, Sudiasa dan Suweca ditahan di Lapas Kerobokan, sementara Indera Maritin ditahan di Rutan Gianyar. ''Kami khawatir kelima tersangka akan melarikan diri, kemudian mengulangi perbuatannya dan menghilangkan barang bukti,'' lanjut Sudharma.

Dalam kasus ini, Kata Sudharma, tim penyidik menemukan pengadaan barang dan jasa di IHDN tidak melalui ketentuan atau tidak melalui proses lelang. Sedikitnya ada 14 pengadaan tanpa tender. Namun anehnya, kampus ini justru memiliki berkas-berkas lelang atau tender lengkap. Setelah ditelusuri, rupanya tersangka Praptini meminta tersangka Ni Putu Indera Maritin untuk mencari perusahaan agar seolah-olah ada lelang. Maritin dibantu tersangka I Wayan Sudiasa lalu mencari nama-nama perusahaan yang diminta Praptini. Kemudian tersangka I Nyoman Suweca mengetik berkas-berkas lelang fiktif itu. Sementara Titib di sini berperan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, yang bertanggung jawab penuh terhadap lelang fiktif tersebut.

''Tidak hanya rekanan yang mengerjakan, ada pula dikerjakan oleh tersangka Dr. P. Kalau ditanya siapa paling berperan, saya tidak bisa mengatakan itu, nanti kita lihat dalam persidangan,'' jelas Sudharma.

Dari hasil penghitungan sementara tim penyidik bersama BPKP Bali, kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp 1,4 miliar. Selain memanggil dan menahan lima tersangka, tim penyidik juga memanggil empat orang saksi untuk diperiksa.



Ikuti Proses

Terkait penahanan ini, Titib tak mau menjawab pertanyaan wartawan. Ia terlihat sedang menelepon seseorang saat keluar dari gedung Kejati. ''Bapak ditahan, mengikuti proses hukum,'' ujar Prof. I Made Titib sembari memegang telepon genggamnya.

Kuasa hukum Titib, I Wayan Bagiarta, S.H., mengatakan sangat kaget dan kecewa lantaran Kejati Bali melakukan penahanan terhadap kliennya. Padahal, kedatangan Titib sejak pukul 09.00 adalah untuk memenuhi undangan pemeriksaan sebagai tersangka. Terlebih, menurutnya, BPKP Bali belum menentukan berapa kerugian negara sebagai suatu hasil dari tindakan korupsi. ''Kami kaget dan kecewa, dari sisi kerugian negara kan belum jelas, mestinya BPKP yang menentukan berapa kerugian negara. Tidak ada pemberitahuan apa-apa, habis diperiksa langsung dilakukan penahanan. Makanya Pak Titib tadi terkejut sekali,'' ujar Bagiarta sesaat setelah Titib dibawa ke Lapas Kerobokan.

Sebelum Titib keluar dari Kejati Bali, seorang rekanan yang menjadi tersangka yakni Ni Putu Indera Maritin, S.T. keluar terlebih dahulu. Wanita yang mengenakan kemeja putih ini keluar sendiri tanpa didampingi pengacara. Dengan muka lusuh, Maritin hanya bisa berkata, ''Semoga cepat berlalu.'' Ia pun bergegas naik ke mobil tahanan. (kmb32)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak