Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
14 April 2013 | BP
Pesawat Sempat Turun-Naik Sebelum Jatuh
Denpasar (Bali Post) -
Penumpang Lion Air JT 904 tak pernah menyangka kalau pesawat yang ditumpanginya akan mengalami gagal landing sehingga mendarat di laut, Tuban.
Kejadian ini menimbulkan trauma tersendiri bagi penumpangnya. Salah seorang korban, Juan Ignatius Senduk (38), menceritakan saat itu ia sedang duduk di dekat sayap pesawat. "Selama perjalanan tidak ada masalah," ujarnya.
Ia juga mengaku sesaat sebelum landing tidak ada getaran yang menunjukkan pesawat akan jatuh. "Kondisinya normal, tidak ada guncangan ataupun getaran. Bahkan tidak ada pengumuman akan mendarat darurat," ujarnya.
Juan curiga ketika badan pesawat begitu dekat dengan laut. Seketika itu juga ia merasakan benturan keras dan baru sadar kalau pesawat yang ditumpanginya jatuh di laut. "Sempat panik juga karena air laut masuk ke pesawat. Tingginya sekitar setengah lutut," ujar Juan yang berasal dari Jakarta ini.
Para penumpang kemudian memakai pelampung dan terjun ke dalam laut. Menurut Juan mereka terendam sekitar satu jam lamanya. "Untungnya dekat dengan bibir pantai. Jadi, kami cepat ditarik ke darat," tuturnya.
Di tengah musibah yang dialami, Juan hanya bisa bersyukur karena pesawat jatuh di laut. "Kalau di darat tidak bisa saya bayangkan akan seperti apa pesawatnya. Bisa saja meledak," paparnya.
Dari penglihatannya, ia agak heran karena pesawat jatuh miring dan melintang di depan landasan. "Seharusnya kan moncong pesawat berhadapan dengan ujung landasan. Ini jatuhnya melintang," ujarnya.
Sementara itu, korban lainnya Putu Bavita (32), warga Jalan Raya Sesetan, yang saat kejadian duduk di sayap kanan pesawat menuturkan hal yang sama. Ia sudah merasa tidak enak ketika pesawat mulai terbang turun-naik. "Saat mau landing pesawatnya terbang turun-naik. Perasaan saya sudah tidak enak. Saya melihat pesawat dekat sekali dengan laut sampai akhirnya jatuh," ujarnya.
Bavita melihat penumpang di depannya yang kebetulan dekat dengan posisi pesawat yang patah mengalami luka parah sampai tidak bisa bergerak. "Ada yang kakinya patah. Banyak juga yang kena pecahan kaca," ujarnya.
Ia mengaku tidak ada peringatan apa pun mengenai adanya gangguan di pesawat atau pendaratan darurat. "Terakhir pengumuman kalau pesawat mau landing. Tapi tidak ada peringatan akan pendaratan darurat," tuturnya.
Saat jatuh, petugas pesawat hanya mampu membantu penumpang yang berada di jangkauannya. Sebagian besar penumpang memakai pelampung sendiri. Bahkan, petugas pun tidak menginstruksikan penumpang untuk memakai pelampung. "Petugas juga panik kok," tuturnya.
Bavita juga mengaku mencium bau bahan bakar pesawat. Ditakutkannya pesawat itu meledak, apalagi listrik pesawat masih menyala. "Kami terapung setidaknya satu jaman lebih," ujar Bavita.
Juan dan Bavita merupakan pasien di antara sepuluh pasien yang dilarikan ke RS Sanglah. Juan mengalami beberapa luka lecet di dahi dan memar di kaki kanan. Sementara Bavita mengalami sesak dan nyeri di dadanya. Pasien lain yang dibawa ke RS Sanglah masing-masing bernama Dewi (49), Iwan (41), Dinar (31), Jajang (34), Inke (19), Lely Widyawati (24), Stefani (19), dan Yuko (21).
Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Sanglah, dr. A.A.N. Jaya Kusuma, Sp.OG (K), memaparkan dari sepuluh korban yang diterima RS Sanglah, kondisinya tidak begitu parah. Korban sebagian besar menderita lecet dan memar. Luka disebabkan karena benturan. Setelah menjalani pemeriksaan, korban semuanya diperbolehkan pulang.
Selain ke RS Sanglah, para korban juga dibawa ke RSU Kasih Ibu Kedonganan. Total korban yang dilarikan ke RSU Kasih Ibu Kedonganan kurang lebih 31 orang. Menurut Humas RSU Kasih Ibu Kedonganan, Putri Indriani, dari 31 pasien, 4 di antaranya dirawat inap di RSU Kasih Ibu Kedonganan sementara 3 dirujuk. "Satu dirujuk ke RSU Kasih Ibu Denpasar dan dua di RSU Kasih Ibu Tabanan," ujar Putri .
Pasien yang menjalani rawat inap menderita cedera kepala ringan, cedera leher, dan ada juga yang patah kaki. "Untuk yang di RSU Kasih Ibu Denpasar pasien menderita cedera kepala ringan. Untuk yang dirujuk ke RSU Kasih Ibu Tabanan hanya observasi. Dirujuk ke Tabanan atas permintaan keluarga," jelas Putri.
Sementara pasien lainnya hanya menderita luka lecet serta memar yang langsung diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan. (san)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak