Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
15 April 2012 | BP
Pemimpin Bali Masa Depan
Pemimpin yang memberikan pelayanan yang sama kepada seluruh rakyat. Bali tidak memerlukan pemimpin yang melakukan diskriminasi dalam pelayanan. Pemimpin Bali dalam memberi pelayanan tidak boleh berdasarkan pertimbangan : konstituen atau tidak? Pro saya atau tidak? Kritis pada saya atau tidak? Keluarga saya atau tidak?



Pemimpin Balinese selalu bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan yang berkembang di masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik horizontal yang berkepanjangan. Pemimpin Bali akan jauh dari bijaksana apabila menyelesaikan konflik desa pekraman dengan membubarkan desa pekraman tersebut, ibarat ''buruk muka cermin dibelah''. Konflik antardesa pakraman terjadi akibat kegagalan pemerintah untuk menerapkan kebijaksanaan secara bijaksana dan adil kepada seluruh desa pakraman.



Dalam melakukan promosi dan mutasi pemimpin Bali hendaknya mementingkan kinerja dan latar belakang pendidikan, bukan faktor kedekatan. Jika hal ini dilanggar maka terjadinya mutasi yang terlalu sering, dan tak jarang promosi dilakukan secara tidak wajar dengan lompatan eselon yang cukup mencolok. Mutasi seperti tersebut akan menimbulkan situasi kerja bawahan yang tidak kondusif, serta memadamkan kreativitas dan upaya untuk maju.



Pemimpin Bali perlu belajar ke negeri Cina agar tahu bagaimana melindungi ekonomi rakyat kecil dan menengah. Bisnis-bisnis besar di Bali yang dapat mematikan perekonomian rakyat kecil diantaranya : menjamurnya Pusat Oleh-oleh Bali, mobil charter yang berlebihan, membiarkan bus travel luar Bali berkeliaran di Bali tanpa pernah membayar pajak, toko-toko modern yang membunuh pasar dan warung tradisional.



Pemimpin yang Balinese tidak akan mementingkan bisnis keluarga (mendadak sontak keluarga pejabat jadi pebisnis yang ambisius dan rakus) dari pada kehidupan perekonomian rakyat. Kemakmuran rakyat tidak akan terwujud apabila intelektualitas masyarakat Bali tidak memadai.





Kepemimpinan Bali--



Berkarakter ''Balinese'' Menuju ''Mokshartam Jagadhita''

Oleh : Dr. I Wayan Jondra



PERADABAN masyarakat Bali sungguh unik. Keunikan peradaban masyarakat Bali tercermin akibat terjadinya lompatan kebudayaan dari budaya agraris ke budaya pariwisata. Lompatan ini merupakan lompatan dari peradaban primer ke tersier.

Ada sebuah peradaban yang tidak dilalui oleh masyarakat Bali sebagaimana masyarakat lain di dunia. Adapun peradaban yang dilompati adalah kebudayaan industri, peradaban ini melahirkan pemenuhan-pemenuhan keperluan sekunder, dan sikap-sikap masyarakat industri.

Lompatan kebudayaan tentu melahirkan berbagai dampak, akibat ketidaksiapan sebagian masyarakat dan pemimpin Bali untuk menghadapi gempuran kebudayaan yang dibawa oleh para wisatawan. Gempuran kebudayaan ini menimbulkan dampak ekonomis dan mental. Secara ekonomis terjadinya peningkatan angka kemiskinan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin dan hanya sebagian kecil masyarakat yang menikmati derasnya perputaran uang di Bali. Secara mental terjadi degradasi terhadap kehinduan (sradha dan bhakti) masyarakat Bali.

Jika permasalahan tersebut dibiarkan tentu akan menjauhkan masyarakat Bali dari cita-cita luhurnya yaitu Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma. Dengan demikian, kepemimpinan seperti apa yang diperlukan oleh Bali.

Dalam mewujudkan cita-citanya itu masyarakat Bali mesti dipimpin oleh pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan yang Balinese. Kepemimpinan Balinese merupakan kepemimpinan yang mampu melaksanakan ajaran Asta Brata. Asta Brata terdiri atas : Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Candra Brata, Bayu Brata, Baruna Brata, Kwera Brata, dan Agni Brata.

Indra Brata, hendaknyalah seorang pemimpin memimpin secara adil dan bijaksana. Pemimpin yang adil dan bijaksana adalah pemimpin yang memberikan pelayanan yang sama kepada seluruh rakyat, serta bijaksana dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Bali tidak memerlukan pemimpin yang melakukan diskriminasi dalam pelayanan. Pemimpin Bali dalam memberi pelayanan tidak boleh berdasarkan pertimbangan : konstituen atau tidak? Pro saya atau tidak? Kritis pada saya atau tidak? Keluarga saya atau tidak?

Jika ini dilanggar maka pemimpin akan melakukan tindakan (a) hanya memberikan bantuan/pelayanan mengutamakan konstituen. Pemimpin; (b) hanya memberikan pelayanan jasa maupun informasi kepada orang/lembaga yang pro-pemimpin termasuk di dalam hal ini media massa; (c) jika masyarakat/lembaga yang sering memberi kritik kepada pemerintah akan sulit mendapat pelayanan; (d) mempertimbangkan kedekatan kekeluargaan dalam pengambilan keputusan, sehingga banyak proyek-proyek dikerjakan oleh keluarga atau jaringan keluarga, serta keputusan-keputusan yang diambil bermaksud melindungi bisnis keluarga.

Pemimpin Balinese selalu bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan yang berkembang di masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik horizontal yang berkepanjangan. Tentu pemimpin Bali akan jauh dari bijaksana apabila menyelesaikan konflik desa pekraman dengan membubarkan desa pekraman tersebut, ibarat ''buruk muka cermin dibelah''. Konflik antardesa pakraman terjadi akibat kegagalan pemerintah untuk menerapkan kebijaksanaan secara bijaksana dan adil kepada seluruh desa pakraman. Padahal di sisi yang lain dengan asas Tri Hita Karana desa pakraman merupakan suatu lembaga yang utuh untuk mencapai cita-cita rakyat Bali. Dengan demikian eksistensi desa pakraman wajib dipertahankan dan dipelihara oleh pemimpin Bali.

Yama Brata, seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan hukuman secara setimpal dan tidak pandang bulu. Bali memerlukan pemimpin yang dapat memberikan hukuman secara adil tanpa padang bulu. Bali tidak memerlukan pemimpin yang tidak adil memberikan hukuman. Seperti jika pengusaha bukan keluarga diduga proyeknya kemahalan/kelebihan bayar, maka wajib hukumnya mengembalikan kepada kas negara. Sedangkan apabila perusahaan keluarga atau yang dibawa oleh keluarga proyeknya diduga kemahalan/kelebihan membayar pemimpin tidak berupaya menagih kelebihan tersebut kepada pengusaha tersebut. Demikian pula jika investor yang ''main mata'' dengan pemimpin bebas melakukan pelanggaran terhadap Izin Mendirikan Bangunan, maupun sempadan. Pemimpin Bali harus mampu menjaga radius kesucian pura, sehingga Bali tidak kehilangan taksu.

Surya Brata, seorang pemimpin hendaknya mampu memberi penerangan kepada bawahannya secara merata. Pemimpin Bali hendaknya mampu mengedepankan profesionalisme. Profesionalisme pemimpin tercermin dalam memberi dorongan kepada setiap bawahan untuk maju sesuai dengan kapasitas dan kualitas. Dalam melakukan promosi dan mutasi pemimpin Bali hendaknya mementingkan kinerja dan latar belakang pendidikan, bukan faktor kedekatan. Jika hal ini dilanggar maka terjadinya mutasi yang terlalu sering, dan tak jarang promosi dilakukan secara tidak wajar dengan lompatan eselon yang cukup mencolok. Mutasi seperti tersebut akan menimbulkan situasi kerja bawahan yang tidak kondusif, serta memadamkan kreativitas dan upaya untuk maju. Pemimpin akan hanya mampu memberikan penerangan kepada rakyatnya secara merata apabila pemimpin berbaur dalam kehidupan adat rakyat Bali. Tentu akan susah memberi penerangan jika pemimpin Bali tidak pernah merasakan suka dan dukanya sebagai masyarakat adat. Masyarakat adat yang sarat dengan beban ayahan, dan tidak jarang memikul beban penanjung batu yang cukup besar.

Pemimpin Bali hendaknya lahir dari pemimpin adat Bali, dengan demikian pemimpin dapat memberikan penerangan langsung di dalam masyarakat. Sebagai kultur masyarakat petani, setiap perubahan yang datangnya dari luar selalu dianggap ancaman, segala perubahan harus datang dan dilakukan di dalam masyarakat adat. Tentu perubahan dari dalam tidak dapat dilakukan jika pemimpin Bali tidak aktif dalam kehidupan adat masyarakat Bali. Akhirnya, terjadinya pemimpin Bali tidak memandang sebelah mata pun terhadap kehidupan adat masyarakat Bali.

Candra Brata, seorang pemimpin hendaknya memiliki karakter bersahaja, tenang, dan ramah. Seorang pemimpin yang Balinese hendaknya menjalankan kehidupan yang sederhana sebagaimana masyarakat kebanyakan, bukan pemimpin yang hedonis bergelimang kemewahan (mobil mewah, pakaian mahal, makanan mewah dan suka jalan-jalan ke luar negeri) yang menampakkan perbedaan yang mencolok dengan masyarakat kebanyakan. Pemimpin yang Balinese hendaknya selalu tenang apabila dikritik oleh masyarakat maupun media massa. Pemimpin Balinese tidak cepat tersinggung, apalagi mengancam keberlangsungan orang maupun lembaga yang mengkritiknya. Pemimpin Balinese adalah pemimpin yang siap menerima kehadiran siapa saja yang ingin menemuinya dan selalu menyapanya dengan ramah. Pemimpin Balinese tidak hanya menerima orang-orang berdasi, namun tetap menerima masyarakat yang memakai udeng dan kancut.

Bayu Brata, pemimpin hendaknya memperkuat keamanan serta pengawasan demi ketenteraman masyarakat. Pemimpin Balinese hendaknya memperkuat keamanan serta pengawasan dengan melibatkan seluruh komponen keamanan Bali termasuk pecalang yang sudah diakui eksistensinya oleh dunia internasional. Pelibatan para pecalang tentu harus ditunjang oleh SDM dan keuangan yang memadai. Peralatan pengintai CCTV hendaknya dipasang di seluruh Bali, sehingga situasi keamanan dapat dipantau setiap saat. Tentunya dengan kemampuan yang dimiliki oleh putra-putra daerah peralatan CCTV tidak perlu mahal-mahal, namun tetap handal dengan jumlah yang memadai. Mewajibkan kepada seluruh tempat usaha memasang CCTV ke arah jalan kiri dan kanan bangunannya.

Baruna Brata, seorang pemimpin hendaknya waspada terhadap tindak kejahatan serta menumpasnya. Pemimpin yang Balinese merupakan pemimpin yang selalu waspada dengan menyiapkan SDM dan infrastruktur untuk menanggulangi tindak pidana kejahatan. Kewaspadaan dapat dilakukan dengan secara rutin dan serentak seluruh Bali melakukan rahasia kependudukan, sehingga menutup peluang penyelinapan para penjahat. Jika pemimpin tidak waspada seperti saat ini, terjadilah teroris dapat dengan mudah bersembunyi di rumah-rumah kost ataupun hotel. Hal ini terjadi akibat pemimpin Bali tidak mampu menjadi komando dalam melakukan penertiban penduduk pendatang. Kejahatan tidak cukup ditumpas, namun perlu dicegah. Pencegahan kejahatan dapat dilakukan dengan meningkatkan spiritualitas masyarakat Bali. Spiritualitas tidak akan pernah terwujud jika Bali kekuarangan penyuluh dan guru Agama Hindu.

Kwera Brata, seorang pemimpin semestinya mewujudkan kemakmuran rakyatnya secara adil dan merata. Pemimpin yang Balinese tidak akan membiarkan apalagi terlibat di dalam bisnis-bisnis besar yang mematikan perekonomian rakyat kecil. Pemimpin Bali perlu belajar ke negeri Cina agar tahu bagaimana melindungi ekonomi rakyat kecil dan menengah. Bisnis-bisnis besar di Bali yang dapat mematikan perekonomian rakyat kecil diantaranya : menjamurnya Pusat Oleh-oleh Bali, mobil charter yang berlebihan, membiarkan bus travel luar Bali berkeliaran di Bali tanpa pernah membayar pajak, toko-toko modern yang membunuh pasar dan warung tradisional. Pemimpin yang Balinese tidak akan lebih mementingkan bisnis keluarga (mendadak sontak keluarga pejabat jadi pebisnis yang ambisius dan rakus) dari pada kehidupan perekonomian rakyat. Kemakmuran rakyat tidak akan terwujud apabila intelektualitas masyarakat Bali tidak memadai. Intelektualitas rakyat Bali tidak akan pernah meningkat jika anggaran pendidikan masih minim.

Agni Brata, seorang pemimpin hendaknya selalu menjadi contoh untuk menggerakkan semangat kerja masyarakat dan bawahannya. Pemimpin Balinese selalu menjadi contoh dan tidak hanya memberi contoh bekerja secara giat dan hemat. Pemimpin Bali tidak hanya ngomong memberdayakan pasar tradisional, namun sehari-hari tak pernah mengunjungi pasar tradisional. Sangat berbeda dengan pada saat masa kampanye calon pemimpin selalu rajin hadir di tengah pasar tradisional, namun setelah terpilih, batang hidungnya pun tak pernah nongol ke pasar tradisional untuk memberi semangat kepada para pedagang tradisional. Menjaga semangat kerja dapat dilakukan dengan memberikan insentif yang memadai kepada penunjang pembangunan, bukan sebaliknya memintanya mundur dari jabatan jika tidak siap ngayah.

Petani tidak akan pernah mampu bekerja dengan giat, apabila setelah berhasil mereka tak bisa menjual hasil panennya karena akses jalan menuju kawasan pertanian masih rusak berat. Semangat kerja mesti ditunjang oleh sarana prasarana yang memadai. Semagat kerja akan bisa menggelora jika masyarkat dalam keadaan sehat walafiat. Kesehatan warga sulit terwujud apabila jaminan kesehatan masih diberikan secara tidak sungguh-sungguh dan setengah hati.

Kepemimpinan Balinese akan mampu mengantarkan masyarakat Bali kepada cita-citanya Mokshartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma.

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak