Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
14 April 2012 | BP
Kepemimpinan Bali
Harus Merakyat, Jangan Jadi Maya Denawa
KEKUATAN Bali terletak pada kekayaan spiritualnya yang berlandaskan ajaran agama, budaya dan adat-istidat. Bali mengalami ancaman kehancuran peradaban dengan makin gencarnya pengaruh dari dalam dan dari luar. Karenanya diperlukan pemimpin Bali yang mampu menyatu dan berbaur dengan rakyatnya, sehingga mampu menjaga Bali dengan utuh. Pemimpin harus merakyat dan jangan sampai menjaga jarak dengan rakyatnya. Pemimpin Bali harus telebih dahulu membahagiakan rakyatnya karena kebahagiaan pemimpin terletak pada kebahagiaan rakyatnya. Demikian disampaikan akademisi dan budayawan Ida Bagus Agastia, Kamis (12/4).

Ketua I PHDI Pusat periode 1991-2001 ini mengatakan pemimpin Bali harus memimpin berdasarkan filsafat kepemimpinan karena Bali memiliki paradigma peradaban yang tinggi. Pemimpin Bali harus memiliki wawasan yang utuh tentang peradaban Bali, baik masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Struktur peradaban Bali dilandasi dengan agama, solidaritas kebersamaan yang wujud kongkretnya ada desa pakraman, subak dan sekaa-sekaa, serta estetika yang wujud kongkretnya kesenian.

Selain itu, peradaban Bali ditopang aspek ekonomis namun ekonomi Bali bukan hanya ansih dalam pengertian ekonomi umum tetapi ada solidaritas dan kemanusiaan di dalamnya seperti dalam pasar tradisional.

Perekonomian dalam pasar tradisional bukan menjadi bintang ekonomi tetapi bagaimana menjadikan manusia Bali seutuhnya. Karenaya pemimpin Bali ke depan harus mampu melindungi pasar tradisional yang mulai terdesak oleh toko modern, mampu melindungi pasar seni tradisional yang berada di titik nadir akibat serbuan pasar oleh-oleh. ''Pemimpin Bali ke depan harus bisa melindungi dan mengembalikan kejayaan pasar tradisional dan pasar seni karena di sana ada sentuhan kemanusiaan dan soladaritas, bukan ekonomi kapitalis. Pemimpin Bali harus mampu melindungi ekonomi kerakyatan,'' tegasnya.

Yang terpenting, lanjut Ketua Yayasan Darma Sastra ini, pemimpin Bali harus bisa merakyat. Karena berdasarkan pandang filsafat monisme kepemimpinan, pemimpin dan rakyat adalah satu-kesatuan sistemik dan integral. Pemimpin harus bisa bersatu dan berbaur dengan rakyatnya karena pemimpin dan rakyat bukanlah sesuatu yang terpisah. Pemimpin dan rakyatnya diibaratkan sebagai singa dan hutan. Singa atau pemimpin tergantung pada hutan atau rakyatnya. Begitu pula sebaliknya sehingga keduanya adalah dwitunggal yang harus berjalan seiring.

Ditegaskannya, pemimpin Bali ke depan harus mampu menyatu dengan rakyatnya, jangan seperti sekarang sepertinya ada kesenjangan dan jarak antara pemimpin dan rakyat. Dengan adanya jarak yang jauh antara pemimpin dan rakyatnya, banyak rakyat yang terpinggirkan, tidak punya tempat tinggal, Pura-pura dihancurkan. Jika itu terjadi rakyat tidak akan simpati dan respek pada pemimpin, sehingga pemimpin akan ditinggalkan rakyatnya. ''Pemimpin harus menyatukan diri dengan alam dan rakyatnya. Bila pemimpin terpisah dari rakyat dia hanya menjadi pemimpin formal, bukan pemimpin yang 'secara rasa' dimiliki rakyat. Pemimpin seperti itu tinggal menunggu waktu saja untuk didepak,'' tegasnya.

Lebih lanjut Ketua Litbang Dharma Upadesa ini menambahkan, pemimpin yang terpisah dari rakyatnya tidak akan mendapat kebahagiaan walau memang secara materi kaya tetapi secara kekayaan rohani dan spiritual dia miskin. Pada hakikatnya kebahagiaan pemimpin terletak pada kebahagiaan rakyatnya. Pemimpin akan menjadi kaya jika terlebih dahulu rakyatnya yang kaya, bukan sebaliknya. Jangan menjadi pemimpin yang ilusi atau pemimpin yang Maya Denawa. Selain itu, pemimpin Bali harus mampu menjalankan dharma kesatria dan menyerap sari kepemimpinan dari teks Mahabharata dan Ramayana. Pemimpin Bali harus mampu meniru kepemimpinan Darmawangsa atau Yudistira. Pemimpin di masa lalu memiliki waktu berdiskusi tentang filsafat dan dharma kepemimpinan. Pemimpin akan kaya bila pendamping atau orang di sekitarnya ada orang-orang yang kaya rohanni, bukan kaya material atau daneswara. ''Pemimpin Bali harus kaya rohani, tidak miskin budaya dan etika. Jangan sampai pemimpin Bali menjadi Maya Denawa,'' pungkas anggota DPD periode 2004-2009 ini. (kmb29)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak