Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
21 Oktober 2011 | BP
Konflik Meningkat Dominasi Adat Mendapat Tandingan
Denpasar (Bali Post) -

Masyarakat Bali diingatkan untuk lebih banyak membuka ruang-ruang negosiasi dan diskusi untuk meminimalisasi terjadinya konflik adat. Meningkatnya konflik adat di Bali dipicu banyak faktor, salah satunya dampak dari makin kuatnya tekanan terhadap dominasi adat.

Demikian pandangan Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Paulus Wirutomo saat tampil pada seminar nasional bertajuk "Mengurai Akar Permasalahan Konflik Menuju Bali Shanti" di kampus Universitas Udayana (Unud), Kamis (20/10) kemarin. Ia mengemukakan bahwa pada dasarnya konflik disebabkan oleh pengaruh struktur, kultur, dan proses.

"Struktur itu terkait dengan kebijakan yang diputuskan pemerintah, sedangkan kultur menyangkut pada nilai, norma dan kepercayaan yang diyakini turun-temurun. Untuk meminimalisasi konflik, yang masih bisa diubah hanya sisi proses, karena sisi ini memberikan dinamika interaksi sehari-hari yang memberi ruang bebas dari ikatan struktur dan kultur," katanya.

Menurutnya, sering kali kultur dirusak oleh globalisasi dan kepentingan ekonomi. Struktur pemerintahan pun turut membenturkan kultur, seperti keputusan pengadilan yang bertentangan dengan aturan adat. Di sini peranan komunikasi dan negosiasi proses untuk menjembatani, baik itu dari dominasi struktur maupun kultur yang ada.

Dilihat dari konteks Bali yang merupakan salah satu daerah yang mengalami sentuhan globalisasi paling dahsyat, maka pihaknya dapat memahami terjadinya konflik di Bali. Ia sempat terkejut atas terjadinya konflik adat di Bali karena masyarakat Bali selama ini dianggap masih berjalan menurut fungsinya dan diikat oleh konsensus nilai. "Padahal, Bali menghadapi berbagai gempuran pengaruh dari luar di saat dirinya harus memegang teguh konsensus yang diwarisi," katanya.

Dia melihat masyarakat Bali sedang mengalami perubahan persoalan ekonomi yang semakin padat. Kondisi ini menyebabkan dominasi adat seolah-olah mendapat tandingan. "Kepentingan ekonomi dan lainnya akhirnya muncul ke permukaan, kepentingan yang dulu bersifat laten berubah menjadi manifes. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah, yang terpenting bagaimana mengelolanya agar konflik tidak mengarah pada kekerasan," katanya. (kmb)


[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak